ENAM BELAS

92 84 87
                                    


TANDAI TYPO⚠️⚠️

Kondisi Damian sudah mulai membaik. Hari ini hari ke lima Damian berada di rumah sakit. Marissa sebagai orang tua kandung terus merawat anak semata wayangnya dengan penuh kasih sayang.

"Mom, nanti besok pagi Dami pulang aja ya, udah gak betah disini"

Marissa menggeleng tanda tidak setuju dengan ucapan Damian.

"Please mom.. Dami udah sembuh kok" ucapnya dengan permohonan.

"Kamu yakin?" Laki-laki itu mengangguk sebagai jawaban.

"Kalau begitu mommy bilang sama dokter dulu. Kamu mending istirahat" Damian mengulas senyuman tipis. Akhirnya Damian bisa bebas dari ruangan ini.

Kemudian Marrisa beranjak dari tempat duduknya dan keluar menuju ruang dokter untuk meminta ijin apakah Damian bisa di pulangkan besok atau tidak.

Laki-laki itu menghela nafas pelan. Netra coklatnya tertuju dengan bunga mawar berwarna merah. Lalu Damian mengambil buket bunga tersebut. Disitu ada sebuah kertas berisi tulisan 'Get well soon, Damian'.

Kedua sudut bibir Damian terangkat puas menampilkan senyuman merekah. Laki-laki itu tau siapa yang memberikan bunga ini, karena Arkan sudah terlebih dahulu memberi tahu.

"Gue harap Lo mau maafin kesalahan gue, Rachel" batin Damian.

Setelah itu pintu terbuka lebar manampikan sosok Anggara dan Levan yang baru saja masuk ke ruangan Damian dengan nafas yang tergesa-gesa.

Anggara berjalan mendekati Damian.

Plak!

"Anak gak tau diri!" Nafas Anggara memburu. Emosinya tidak karuan. Damian benar-benar bingung atas kelakuan ayah tirinya. Kenapa tiba-tiba Damian di tampar, memangnya Damian salah apa?

Marrisa segera berlari menahan Anggara untuk tidak mengeluarkan emosinya di rumah sakit. "Kamu kenapa tampar Damian mas?".

"Terus aja bela anak sialan ini!" Kata Anggara dengan suara yang sedikit di tinggikan.

Damian hanya bisa diam melihat kedua orangtuanya berdebat. Laki-laki itu bukan membiarkan keduanya ribut di dalam rumah sakit, namun jika Anggara sudah marah seperti susah untuk di ajak damai.

"Itu anak kita mas, lagian kenapa kamu datang-datang langsung tampar Damian?" Suara Marrisa bergetar serta air mata yang sudah berjatuhan berkali-kali.

"Dia bohong! Dia gak di kroyok, kamu sudah di tipu sama anak sialan ini. Damian tawuran dengan kampus sebelah! Padahal dirinya sudah bukan anak SMA lagi tapi kelakuan di masa SMA nya tidak berubah!"

Wajah Damian mendongak menatap Anggara dengan tatapan bingung. Maksudnya apa? Jelas-jelas Damian di keroyok oleh beberapa mahasiswa satu kampusnya. lantas kenapa ayah tirinya berkata kalau Damian itu tawuran?.

"Dami gak tawuran dad! Kalo Dady gak percaya silahkan cek cctv di dekat halte" balas Damian tidak terima di tuduh yang tidak-tidak.

Levan tersenyum devil. "Ngaku aja gak perlu banyak ngeles. Gue punya buktinya" levan menyodorkan ponsel miliknya ke hadapan Damian dan Marrisa. Benar! Di vidio itu terlihat jelas wajah damian membawa sebuah cerulit.

Damian menggeleng. "Itu pasti editan! Damian beneran di kroyok dad!. Kalo Damian tawuran, kenapa pak Surya nemuin Dami di bawah halte?" Pertanyaan itu berhasil membungkam mulut Anggara namun tidak dengan levan.

Levan kembali menyodorkan ponselnya kehadapan Damian dan Marrisa. Menampakkan sebuah vidio Damian yang sudah tak sadarkan diri dan di angkat oleh beberapa mahasiswa dan di letakkan di sebuah halte. Mata Damian membulat setelah melihat rekaman tersebut.

Damian turun dari atas brankar dengan selang infus yang masih terpasang di punggung tangannya. Damian mendorong tubuh levan hingga laki-laki itu mundur beberapa langkah.

"Gue beneran gak ngelakuin tawuran! Bisa aja Lo bikin semua rekayasa dan Lo kasih vidio ini ke Daddy supaya Daddy percaya sama omongan busuk Lo, Levan!"

"GUE BENER-BENER GAK NGELAKUIN HAL ITU!!"

Di balik pintu sana ada seorang gadis yang sedari tadi memperhatikan perdebatan satu keluarga itu. Ya dia Rachel, sepulang dari cafe, Rachel mampir ke rumah sakit karena kepalanya terasa pusing.

Ketika Rachel memutar balikkan badannya terlihat sosok laki-laki berpakaian hoddie berwarna hitam serta masker yang menutupi wajahnya kecuali mata. Keduanya menatap satu sama lain membuat laki-laki itu terkejut dan berlari ke luar rumah sakit. Rachel pun ikut mengejar laki-laki itu dengan secepat mungkin.

Setelah sampai di basemen, sosok laki-laki itu tidak terlihat. Rachel sudah tertinggal jajak. Alhasil gadis itu memutuskan untuk pulang ke asrama.

°°°°
Keesokan harinya, Damian sudah sampai di rumah bergaya Eropa klasik. Laki-laki itu terus melamun memikirkannya dari mana levan bisa mendapatkan vidio seperti itu. Jelas-jelas dirinya di kroyok oleh beberapa mahasiswa.

"Kamu baik-baik aja kan? Atau masih sakit?" Tanya Marrisa khawatir. Bagaimana pun juga Marrisa adalah orang tua satu-satunya yang Damian punya. Mau seburuk apapun kelakuan anak percaya lah seorang ibu pasti akan menerima anaknya dengan lapang dada.

"Dami gak apa-apa mom. Dami istirahat dulu ya" akhirnya Damian memasuki kamar miliknya yang sudah tidak ia jumpai selama beberapa hari.

Setelah itu Damian merogoh ponsel yang ada di saku celana. Mencari kontak Arkan dan menghubungi nya.

"Kenapa dam? Gimana keadaan Lo?" Tanya Arkan di sebrang sana.

"Gue udah balik dari rumah sakit"

"Wah kalo gitu gue kerumah Lo ya?"

"Gak perlu,kan. Gue cuma butuh bantuan Lo aja"

"Kenapa? Apapun gue bantu demi Damian tersayang" ntah kenapa Damian mendengar itu merasa geli.

"Cek cctv di halte Deket kampus, kalo udah ada vidio itu kasih ke gue"

"Kalo itu si gampang, tapi nanti jam tiga sore kita ketemu di cafe kenangan, gimana? Apa Lo masih gak enak badan?" Tanya Arkan memastikan kondisi Damian baik-baik saja.

"Gue fine, oke kalo gitu gue tutup"

Damian memutuskan sambungan sepihak. Kemudian Damian merebahkan tubuhnya di atas kasur. Laki-laki itu memutuskan untuk memejamkan kedua matanya agar energi yang terkuras kembali terisi.

°°°°

"Masa sih? Kok bisa gak ada?"

"Beneran dam, gue udah cari semua rekaman cctv tapi cctv di Deket halte itu rusak"

Mereka berdua sudah berada di sebuah cafe kenangan yang di janjikan Arkan waktu pagi tadi. Sebelumnya Arkan sudah mengecek kejadian di halte serta rekaman cctv namun nihil rekaman itu hilang serta ada cctv yang rusak.

Damian berpikir sejenak. Merencanakan sesuatu selanjutnya. "Lo tau teman-teman Levan?"

Arkan mengangguk. "Ada satu yang gue kenal namanya Arga, dia salah satu temen levan yang Deket banget kaya Lo sama gue. Gue denger-denger si, Arga ini bukan tipe orang sembarangan" jelas Arkan menggantung kan kalimat nya.

Damian mengerutkan keningnya. "Maksud dari bukan orang sembarangan itu kaya gimana?".

"Arga ini orangnya misterius. Susah di tebak. Jadi Lo hati-hati aja kalo berurusan sama dia".

"Lo kenal Zami? Dia kan satu club sama Levan. Kita cari tau dari Zami aja siapa tau Zami tau apa yang di sembunyiin mereka berdua" lanjut Arkan.

"Iya gue kenal, kita bisa cari jawaban lewat Zami".

"Oke besok kita temui Zami"

Damian menggeleng. "Gue harus latihan pensi. Dua Minggu lagi acaranya, sedangkan gue belum nyiapin apa-apa sama Rachel. Apa lagi kalo Rena mau nya ada puisi, kan Lo tau sendiri si Febi kalo bikin puisi sepanjang kali Citarum"

"Biar gue sendiri yang nyelidiki ini semua"

°°°°

SEGINI YAA HEHE
VOTE KOMEN JANGAN LUPA🤸🤸

Sejahat Takdir [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang