TUJUH BELAS

95 81 55
                                    


TANDAI TYPO⚠️⚠️

Hari ini adalah hari pertama Damian masuk ke kampus setelah koma beberapa hari yang lalu. Banyak mata pelajaran kuliah yang tertinggal sehingga Damian harus menyusul semua tugas-tugas nya dan di bantu oleh Arkan.

Kondisi laki-laki itu sudah membaik hanya tersisa luka lebam yang masih terlihat di bagian wajah.

Jam mata kuliah terakhir selesai. Laki-laki itu berjalan santai menuju kantin. Karena masih ada waktu lima belas menit lagi untuk masuk ke club musik. Berbeda dengan Arkan, laki-laki itu sedang memata-matai Arga Andera yang begitu dekat dengan Levan. Bagaimana pun juga Damian harus mencari bukti kalau dirinya itu benar-benar tidak melakukan tawuran.

"Mau sampe kapan duduk sambil minum?" Suara itu tiba-tiba saja terdengar oleh Damian yang sedang asik meminum cappucino.

Bibir Damian mengukir senyuman tipis. Tidak menyangka bahwa suara itu adalah suara Rachel. Gadis yang sudah di tunggu-tunggu beberapa hari lalu.

"Apa kabar?" Pertanyaan itu sengaja di lontarkan Damian untuk memulai berinteraksi kembali dengan Rachel.

Gadis itu masih dengan posisi berdiri di samping Damian dengan pandangan lurus ke arah lapangan. "Baik" balas Rachel dengan tatapan datar tanpa melirik ke Damian.

"Lo yang udah kasih bu-"

"Gue tunggu di ruangan musik. Pensi tinggal beberapa hari lagi dan kita belum nyiapin apa-apa" seloroh Rachel memotong kalimat Damian. Setelah mengatakan itu Rachel melenggang pergi meninggalkan Damian.

Menghela nafas. Damian pikir Rachel memberikan buket bunga mawar itu bertanda ia memaafkan kesalahannya. Namun ternyata dugaannya salah. Gadis itu masih sama, masih kesal dengan masalah kemarin.

°°°°

Kini Rachel dan Damian sudah berada di ruangan musik. Inget ya hanya berdua. Yang lainnya di tugaskan untuk merancang stand musik yang akan di buatnya nanti.

"Mau pake lagu apa?" Tanya Damian memulai percakapan supaya tidak ada keheningan.

"Terserah"

"Gimana pake lagu yang lagi trend?" Tanya Damian lagi berharap Rachel menjawab dengan antusias.

"Terserah"

Menghela nafas. "Ra, bisa serius?". Pertanyaan itu membuat Rachel menoleh menatap mata elang milik Damian.

"Hmm, gue pake lagu ....". 

"Oke, gue bisa" akhirnya Damian mulai memetik senar gitar dengan alunan lagu yang di nyanyikannya.

Keduanya bersenandung ria malupakan kejadian kemarin seakan semua tidak terjadi apa-apa. Bukan lari dari masalah, Rachel hanya malas jika membahas soal itu. Menurutnya yang berlalu biarlah berlalu.

Selesai berlatih, Damian dan Rachel keluar ruangan. Hari semakin sore. Suasana kampus juga mulai sepi. Keduanya berjalan melangkah bersamaan tanpa berbicara sama sekali.

"Ra, Lo masih marah sama gue?" Damian sengaja menanyakan itu karena, bagaimana pun juga dirinya masih belum mendengar kata 'maafkan' dari mulut Rachel.

Rachel berdecak sebal, ia tidak suka dengan pembahasan seperti ini. "Lupain". Jawab Rachel datar tanpa ekspresi.

"Gue bisa jelasin, Lo mau kan dengerin penjelasan gue?"

Rachel menggeleng. "Gak perlu. Semua udah jelas"

Damian mengangkat dua jari. "Sumpah, ini semua rencana Via. Bukan kemauan gue sendiri. Harus pake cara apa lagi biar Lo percaya sama gue?".

"Cukup diam, dan jangan ganggu gue" final Rachel lalu mempercepat langkahnya sehingga Damian tertinggal di belakang.

Sejahat Takdir [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang