LIMA BELAS

103 88 53
                                    

Sesuai janji:)

TANDAI TYPO⚠️⚠️

Sudah tiga hari Damian belum masuk ke kampus serta ke club. Sudah tiga hari juga Damian masih terbaring koma. Kedua orang tua Damian juga sudah menemuinya dan sekarang Marissa yang selalu menjaga putra kesayangannya.

"ALKAN!"

Suara itu berhasil membuat Arkan menoleh kebelakang. Padahal dirinya ingin pergi ke rumah sakit untuk menemani sahabat nya.

"Alkan tung.. gu" kata Lula dengan napas yang tergesa-gesa akibat berlari menghampiri Arkan.

"Kenapa?" Balas Arkan dengan suara beratnya.

Lula masih mengatur nafasnya. Lalu berbicara "kemarin lusa si batu telpon aku, katanya minta tolong. Kira-kira si batu kenapa?"

Arkan mengerutkan keningnya. Tidak paham dengan kalimat Lula yang di ucapkan barusan. "Siapa si batu?"

"Itu Damian"

Arkan mengangguk iya. "Dia koma".

"WHATT!!!" teriakan Lula berhasil menembus gendang telingan Arkan.

"Biasa aja dong!" balas Arkan sambil mengusap kedua kupingnya yang terasa pengang.

"Si batu sakit apa, kok bisa koma?"

Arkan memutarkan kedua matanya. Banyak tanya memang ni anak. "Dia di kroyok sama anak kampus disini. Udah kan nanya nya, gue mau mau ke rumah sakit" setelah itu Arkan berjalan meninggalkan Lula yang masih shok mendengar penjelasan Arkan.

"Alkan tu-"

"Lula!" Belum sempat melanjutkan kalimat. Rachel dengan cepat memanggil Lula dan Lula pun ikut berbalik menghadap Rachel.

"Lo di panggil ka Janu. Katanya suruh beli cat lukis"

Lula hampir lupa dengan pesan kak Janu. Sebelum bertemu Arkan gadis itu sudah di suruh untuk membelikan cat lukis di koperasi. Kalian tanya siapa kak Janu? Dia kakak senior jurusan arsitektur sekaligus ketua club lukis.

Sebelum pergi Lula menggapai lengan Rachel. "Kenapa?"

"Damian koma" balas Lula langsung ke intinya.

"Hahaha Lo percaya sama tipuan Damian? Dia tuh cuma pura-pura biar gue bisa maafin dia. Jangan terlalu percaya sama orang itu, la" Rachel sama sekali tidak perduli dengan kondisi Damian. Ia menganggap semua ini hanya tipuan atau rencana Damian.

"Aku serius hel, dia koma di kroyok sama anak kampus ini. Apa kamu sering liat Damian di club? Nggak kan? Damian beneran koma. Sekali aja percaya sama aku, hel. Sebelum kamu nyesal"

Rachel terdiam kaku mendengar jawaban Lula. Sungguh di luar nalar. Ia masih berharap ini hanya tipuan semata bukan terjadi beneran.

"Gue gak percaya!" Final Rachel lalu pergi meninggalkan Lula sendiri.

°°°°

"Kok Damian jarang masuk club ya? Apa dia gak setuju" kata siswa jurusan bisnis.

"Masa sih? Kemarin dia setuju-setuju aja"

Rachel yang baru masuk dan mendengar obrolan dua gadis itu membuat hatinya semakin khawatir. Apa benar ucapan Lula?

Kemudian Rena yang baru masuk ruangan segera mengedarkan pandangan ke seluruh anggota dan menyuruhnya untuk berkumpul.

"Hari ini kita latihan tidak terlalu lama. Sepulang dari club nanti saya ingin kalian menjenguk Damian di rumah sakit. Barusan saya dapet kabar dari dosen dan katanya Damian koma akibat di kroyok siswa dari kampus ini". Jelas Rena di depan semua anggota.

Seluruh darah di tubuh Rachel seperti berhenti bekerja. Jantung tidak karuan. Yang di bilang Lula ternyata benar. Bahwa damian koma karena di kroyok oleh beberapa siswa.

"Kalian mau kan jenguk Damian di rumah sakit?" Semua mengangguk termasuk Rachel.

Beberapa menit kemudian Anggota musik sudah berada di rumah sakit. Kini Rena dan Nataly sudah mengawal memasuki ruangan serba putih. Di dalam sana sudah ada Arkan yang setia menunggu. Sedangkan Marissa pamit pulang untuk berganti pakaian.

"Assalamualaikum.. "

"Walaikumsalam.. kalian kesini?" Tanya Arkan kepada teman-teman.

Gadis yang membawa buket bunga mawar terdiam kaku melihat Damian terbaring dengan alat medis yang masih menempel di tubuh Damian.

Andai saja kemarin ia membawa Damian ke sebuah taman untuk membicarakan masalah yang sudah di lakukan Damian pasti semuanya tidak akan terjadi seperti ini. Rachel bodoh! Gadis itu sangat menyesal atas kelakuan nya sendiri.

"Gimana kondisi Damian?" Kali ini yang bersuara adalah Fadli dengan tangan memegang sebuah parsel berisi buah-buahan.

"Masih sama gak ada perubahan"

Sepuluh menit berlalu kini semua anggota musik sudah pulang termasuk Rachel. Gadis itu tidak berani mengatakan sepatah dua patah. Ia merasa bersalah atas kelakuannya yang menjauhi Damian.

°°°°
Arkan sudah pulang, sekarang giliran Marissa yang menjaga putra kesayangannya. Marissa mengelus rambut Damian serta mencium tangan Damian supaya cepat sadar.

"Bangun nak.. jangan tinggalin mommy" lirih Marissa tidak tega melihat anaknya yang sudah tiga hari tak sadarkan diri.

Sementara di sebuah ruangan penuh cahaya berwarna putih cerah. Serta bangunan indah dihiasi bunga mawar putih serta anggrek.

Damian mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Namun nihil disini tidak ada siapa-siapa hanya ada cahaya putih yang bersinar memancar.

"Kamu kenapa ada disini, Damian" suara itu tiba-tiba saja datang dari arah belakang. Suara itu sangat tidak asing bagi Damian. Damian pernah bertemu dengan orang itu.

"Om Ridwan?" Damian masih sangat kenal dengan laki-laki paruh baya itu. Btw ini bukan Ridwan penjaga pintu surga ya.. ini om Ridwan papahnya aca, kalian pasti tau aca di chapter sebelum nya.

"Kamu belum waktunya Damian. Kamu belum bertemu dengan aca, kembalilah temui aca dia juga sedang menunggumu" setelah mengatakan itu sosok om Ridwan menghilang begitu saja.

"Om tunggu!"

Jari jemari Damian bergerak membuat Marissa terkejut bukan main. Alhasil ia segera memegang kuat tangan Damian supaya benar-benar sadar.

"Dami, bangun nak"

Perlahan Damian membuka kedua netra coklatnya. Mengedarkan pandangan yang masih buram akibat efek koma. Terlihat Marissa yang berada di samping nya dengan air mata yang sudah membanjiri kedua pipi.

"Mommy..."

Marissa mengusap kepala Damian dengan lembut. "Iya nak ini mommy"

"Mom, aku haus" dengan cepat Marissa mengambil segelas air putih yang berada di atas nakas. Dan memberikan gelas itu ke Damian. Dengan telaten Marissa menyodorkan gelas itu ke mulut Damian.

"Mom, aku ketemu om Ridwan" ucap Damian dengan suara yang sangat amat pelan.

Mata Marissa membulat. Apa katanya, bertemu dengan Ridwan?

"Kamu serius?"

Damian mengangguk. "Dia bilang, aca nungguin aku juga mom. Aku mau cari aca" tanpa di sadar kedua mata Marissa kembali mengeluarkan air mata.

"Iya nanti, sekarang kamu harus sembuh dulu. Dami makan ya? Mommy udah masakin sup daging kesukaan kamu" tapi Damian menggeleng.

"Aku pusing mom" akhirnya Marissa membiarkan Damian untuk istirahat sebentar agar tubuhnya kembali pulih seperti semula.

°°°°
Bintangnya dong..

See u next part 🍬🍬🍬

Sejahat Takdir [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang