TIGA PULUH TUJUH

64 42 120
                                    


TANDAI TYPO ⚠️⚠️
Flw @xyyzhre

Damian sudah sadar darj pingsannya. Pasalnya, kepala laki-laki itu kembali sakit seperti biasanya. Ntah ini efek kecapean atau kekurangan darah, intinya Damian tidak perduli soal itu. Pikirannya terus memikirkan Arkan dan Lula. Perasaanya sangat khawatir tentang kedua orang itu. Hatinya semakin gelisah kalah melihat Rachel yang ikut terbaring di sampingnya.

Kemudian Damian menggoyangkan tubuh Rachel. Tanpa berselang lama, gadis itu terbangun dengan tatapan yang sulit di artikan.

Gadis itu memeluk tubuh Damian seerat mungkin. Kedua Air matanya meluruh begitu saja. Damian yang tidak paham pun segera melepaskan pelukannya.

"Kamu kenapa? Hmm" tanya Damian kepada Rachel.

Gadis berambut sebahu itu menatap mata elang Damian dengan tatapan sendu. "Aku mimpi" Rachel menjeda ucapannya kala mengingat-ingat mimpi yang sudah di impikan Rachel. "Aku ketemu papa, di samping papa ada kamu. aku ingin ikut sama kalian, tapi papa sama kamu sudah hilang gitu aja" hatinya gelisah kala mengingat itu.

Damian memegang kedua bahu Rachel. "Aku disini, nggak kemana-mana. Aku janji akan ada di samping kamu terus, Ra. Ada atau nggak adanya aku, kamu harus tetep bahagia". Dengan cepat gadis itu menggeleng tidak setuju.

"Kebahagiaan aku cuma ada di kamu, Dami" Damian tersenyum tipis. Rasanya sangat gemas melihat Rachel yang menangis dengan wajah yang di buat selucu mungkin.

"Ra," Damian menatap intens netra coklat Rachel. "Aku akan berusaha untuk slalu ada di samping kamu, tapi Jika suatu saat nanti aku pergi, kamu harus bisa menerimanya. Kamu harus tetap tunjukin senyuman manis itu kepada orang-orang. Kamu juga harus bahagia tanpa adanya aku" ucapan Damian sangat sulit di artikan dalam pikiran Rachel. Gadis itu hanya takut, takdir akan memisahkan mereka lagi. Cukup, cukup sebelas tahun aja mereka berpisah.

"Kamu, akan selalu ada disini" Damian menunjuk dada nya tepat dimana itu adalah letak hati. "Ada atau nggak adanya aku, kamu selalu ada disini Ra. Kamu perempuan yang berhasil buat aku mencintaimu sedalam ini." Ucapannya tulus. Kemudian Damian menarik Rachel untuk memeluk tubuhnya.

Damian mengusap punggung gadis itu seraya mencium rambut Rachel beraroma buah apel. "Jangan tinggalin aku lagi, aku cuma mau bahagia sama kamu. Cukup bahagia nya aja, yang lain aku rasa nggak penting" kalimat Damian membuat Rachel tertawa kecil.

"Kamu juga jangan pergi ya.." Damian bergumam kecil. Sedari tadi ia menahan rasa sakit di kepalanya. Tapi ia tidak mau menunjukkan rasa sakit itu di hadapan Rachel. Dia tidak mau gadisnya akan khawatir tentang kondisi Damian.

Aku nggak janji, Ra. Batin Damian.

Rachel melepas pelukannya. "Udah sore gini, Zakri belum pulang. Om Gland sama om Andra juga masih cari keberadaan Lula sama Arkan. Gimana kalo kita cari aja". Damian mengangguk cepat.

"Tapi kamu disini ya" dengan cepat Rachel menggeleng. "Aku ikut, masa mereka cari Lula sama Arkan, aku cuma duduk manis disini" dengus Rachel merasa sebal dengan Damian.

Akhirnya Damian mengangguk menyetujui Rachel ikut mencari. Keduanya keluar dari cafe menghampiri motor Damian yang terparkir di halaman cafe.

"Pegangan yang kuat, kalo ilang lagi aku malas cari" Rachel sontak mencubit pinggang Damian. Bisa-bisanya situasi seperti ini malah bercanda.

Kedua tangan Rachel melingkar di pinggang Damian. Kemudian cowok itu menyalakan mesin motornya dan berlaju pergi mencari keberadaan Lula dan Arkan.

°°°°

Kelopak mata Arkan terbuka perlahan. Memancarkan sedikit cahaya di ruangan minim cahaya. Di samping Arkan sudah ada Lula yang duduk di atas kursi kayu dengan tangan teriak tali. Tatapan Arkan menatap ke penjuru ruangan. Kosong. Di ruangan itu tidak ada siapa-siapa.

Sejahat Takdir [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang