DUA PULUH

94 76 60
                                    


TANDAI TYPO⚠️⚠️ KARENA MALES REVISI HEHE

Hari ini adalah hari libur untuk anak kampus. Semuanya menikmati hari yang di tunggu-tunggu. Ada yang mengisi keliburan dengan ber holiday ke tempat wisata ada juga yang mengisi keliburan hanya rebahan di kasur. Contohnya aku.

Berbeda dengan manusia satu ini. Damian sedang mengendarai motor sehabis bertemu Arkan dirumahnya. Tentu saja mereka berdua sedang membahas tentang kejadian kemarin. Kalo kalian tanya hidup Damian tenang atau tidak? Tidak! Anggara selalu memojokkan anak tirinya jika Marissa sedang berada di luar.

Bagaimana pun juga Damian harus bertindak secepat mungkin supaya fitnah ini tidak tersebar luas ke penjuru kampus.

Laju kecepatan Damian sedikit meninggi. Karena jalan yang masih sepi membuat Damian sangat gampang menguasai jalan. Mungkin pikirnya ini hari libur dan banyak manusia sedang beristirahat atau sedang melakukan pekerjaan rumah.

Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi. Selang beberapa menit, tiba-tiba saja kepala Damian merasakan sakit yang luar biasa. Sedangkan posisinya masih mengendarai motor sport berwarna hitam.

Sebisa mungkin Damian menahan rasa sakitnya untuk tetap fokus mengendarai motor. Tetapi rasa sakit itu terus menjadi sehingga Damian tidak bisa menahan semua ini. Motornya menabrak pohon besar di pinggir jalan. Laki-laki itu terpental jauh dari motor. Warga yang sedang membeli sarapan pagi seperti bubur segera menghampiri kecelakaan tersebut.

"Ya Allah ada yang kecelakaan"

"Astaga, pak tolongin ini ada kecelakaan anak muda"

Ibu-ibu yang ada di situ seketika merubung melihat ada yang kecelakaan. Damian masih setengah sadar, rasa sakit di kepalanya tak kunjung hilang.

"Damian!. Pak tolongin teman saya. Bawa dia ke asrama putri kebetulan itu asrama miliknya"

Sudut bibir Damian terangkat di balik helm fullfacenya. Damian masih mendengar suara itu lalu pandangan berubah menjadi hitam dan gelap, bertanda laki-laki itu sudah tak sadarkan diri.

Lima belas menit kemudian Damian sadar. Matanya perlahan terbuka dengan pandangan yang lumayan buram. Setelah sudah jelas melihat sekitar ternyata dirinya sudah berada di kamar ntah ini kamar siapa, intinya laki-laki itu harus berterima kasih kepada orang yang sudah menolongnya.

"Batu, kamu udah sadar?" Damian pasti tau siapa pemilik suara itu. "Tunggu Rachel ya, dia lagi beliin sarapan buat kamu, kamu belum makan kan?" Dengan cepat Damian mengangguk.

Laki-laki itu memegang pangkal hidungnya yang masih sedikit pusing akibat kecelakaan tadi. Untung saja kecelakaan itu tidak terlalu parah jadi Damian tidak harus di bawa ke rumah sakit.

Ceklek

Sebuah pintu terbuka menampilkan perempuan dengan piyama bergambar kura-kura. Lagi-lagi Damian tersenyum tipis melihat perempuan itu.

"Kalo masih ada yang sakit kita ke rumah sakit aja" kalimat pertama yang keluar dari mulut Rachel. Wajah Damian saat ini benar-benar pucat membuat Rachel sedikit khawatir dengan kondisi laki-laki itu.

"Gak perlu, gue cuma kelelahan"

Rachel duduk di sebelah Damian, sedangkan Lula kembali ke kamarnya untuk membersihkan ruangannya sendiri karena sedikit agak berantakan.

Kemudian Rachel menyodorkan semangkuk bubur ayam ke hadapan Damian. "Makan sendiri gak usah manja".

Ketika Rachel hendak berdiri, Damian sesudah menggapai lengan Rachel. "Gue boleh minta sesuatu sama Lo?" Damian berharap Rachel mengiyakan permintaan nya.

Sejahat Takdir [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang