DUA PULUH SEMBILAN

74 56 48
                                    


TANDAI TYPO⚠️⚠️
Flw @xyyzhre

Hari ini bertepatan tujuh hari kematian Marrisa. Dan sudah tujuh hari juga Damian tidak masuk kuliah ataupun keluar dari kamar asrama. Cowok itu mengurung diri tanpa ingin bertemu dengan siapa-siapa.

Damian masih tidak terima jika semuanya seperti ini. Memangnya Damian salah apa sampai ketiga geng tersebut menyekap Marrisa? Semua pertanyaan muncul di kepala Damian.

Anggara ayah tiri Damian juga sudah mencabut semua fasilitas Damian. Cowok itu juga sudah di usir dari rumah bergaya Eropa. Bukan Damian saja yang merasa kehilangan, Anggara dan Levan juga sama merasakan apa yang di rasakan Damian. Tetapi, semua ini takdir yang tidak bisa di ubah oleh siapapun. Kita sebagai manusia hanya bisa pasrah kepada yang maha kuasa.

Di depan pintu kamar Damian sudah berbunyi ketukan pintu berkali-kali. Damian sudah tahu, pasti itu teman-teman nya yang terus berusaha memperdulikan Damian.

"Dam.. bukain pintunya. Gue bawain makanan kesukaan Lo. Kata Arkan, Lo belum makan dari kemarin kan?" Di depan pintu sana sudah ada Rachel yang membawa sekotak makanan. Sejak kemarin, Rachel terus di abaikan oleh laki-laki itu. Arkan yang notabenenya sahabat Damian aja tidak di perduli kan, apa lagi Rachel?. Bagaimana juga Rachel akan terus berusaha membujuk Damian untuk kembali ceria seperti dulu.

"Jangan terus-terusan kaya gini Dam.. dengan cara Lo ngurung diri di kamar itu sama aja bikin mama Lo kecewa. Plisss dam, bukain pintunya. Makan dulu pasti Lo lapar kan?.

Setelah mengatakan itu pintu terbuka lebar. Menampakkan Damian dengan wajah pucat pasti dan tidak bersemangat. Percayalah, Damian benar-benar bukan seperti Damian. Seisi kamarnya pun seperti kapal pecah, berantakan sekali.

Gadis berambut sebahu itu menuntun Damian untuk duduk di pinggir kasur. "Makan dulu ya? Gue udah bawain sup daging. Kata Arkan Lo suka sup daging kan?" Katanya sambil membuka kotak bekal yang ada di pangkuan Rachel.

Cowok itu menggeleng menatap kosong ke arah depan. Setelah di tinggal Marrisa, Damian sering kali melamun sampai berjam-jam.

Menghela nafas. Rachel menaruh bekal itu di atas nakas. Lalu tangannya meraih jari jemari Damian.  "Damian.. gue juga pernah di posisi Lo. Gue pernah kehilangan orang yang berarti dalam hidup gue. Gue juga merasa bersalah atas apa yang gue lakuin. Tapi, semua itu gak ada artinya kalau gue terus-terusan diam dalam kesedihan. Gue yakin, Lo bisa hadapin ini semua. Lo gak sendiri, disini ada gue, Arkan, sama Lula yang bakal jadi keluarga kedua Lo".

Cowok itu terdiam beberapa saat ketika mendengar penuturan Rachel. Yang di ucapkan Rachel benar, tidak akan ada artinya jika kita terus menerus terlarut dalam kesedihan. "Makan ya?" Kemudian cowok itu mengangguk.

°°°°

Selama menunggu Damian makan, Rachel berniat untuk membersihkan kamar Damian yang sangat berantakan. Rachel paham dengan kondisi Damian sekarang, semua manusia pasti tidak ingin merasakan kehilangan. Tetapi tujuan manusia itu meninggalkan atau meninggal.

Selang beberapa menit, Rachel sudah selesai membereskan barang-barangnya Damian yang berserakan tadi. Damian juga sudah selesai menghabiskan nasi dan sup daging buatan Rachel.

"Mau jalan-jalan ke taman gak?" Damian mengangguk mengikuti kemauan Rachel. Mungkin saja Damian sudah bosan berada di dikamar selama tujuh hari, jadi ia ingin menghirup udara segar di sekitar taman.

Kini keduanya sudah berada di pinggiran danau. Duduk di atas rerumputan kecil memandangi indahnya danau yang di penuhi burung bangau.

"Ra?.."

Gadis itu menoleh menatap wajah pucat Damian.

"Jangan tinggalin gue". Rachel sontak membelalakkan kedua matanya. Apa maksud dari kalimat Damian? Kenapa mengatakan itu? Padahal, Rachel itu bukan siapa-siapa nya Damian.

Sejahat Takdir [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang