SEPULUH

107 98 77
                                    

Selamat malam!!

Absen dulu

Bintangnya jangan lupa🤍🤍

°°°°°°

Bocah laki-laki berumur enam tahun sedang berlari mengejar layangan yang di pegang ayahnya. Keduanya berlari tertawa ria. Sedangkan Marissa duduk di kursi taman dengan tangan yang merangkul anak perempuan berumur enam tahun juga.

"Aduh.. ayah.. "

Bocah laki-laki umur enam tahun itu terjatuh dan tersungkur di batuan krikil. Dia menangis dan memegangi lutut yang terluka sedikit mengeluarkan darah.

"Dami cengeng hu.. " seru anak perempuan yang berada di samping Marissa. Anak itu terkikik geli melihat Damian yang terjatuh dan menangis.

"Ayah.." Damian kecil semakin kencang menangis nya dan menunjuk ke arah anak perempuan yang duduk di sebelah Marissa. "Aca jahat.." ucapnya semakin terisak.

Gland–ayah kandung Damian segera menghampiri anaknya yang terjatuh dan menangis. Ia segera membopong bocah laki-laki itu untuk mendekati Marissa dan anak perempuan yang bernama Aca.

Kemudian Gland duduk di samping Damian kecil. Ia merogoh tas kecil berisi kotak p3k yang sudah di siapkan oleh Marissa jika terjadi kecelakaan kecil. Gland segera mengobati luka yang ada di lutut Damian itu dengan plester berwarna biru.

Ya, bocah laki-laki itu sangat menyukai warna biru. Marissa sebagai ibu dari Damian sering kali membelikan mainan berwarna biru. Bahkan kamarnya pun menggunakan cat berwarna biru.

Gland meraih tangan kecil Damian dan Aca. Dia segera menyatukan tangan itu satu sama lain. "Kalau nanti sudah besar, kalian harus sama-sama ya" ucap Gland penuh harapan.

Marissa yang tadinya hanya terdiam, lalu mengeluarkan suaranya. "Mommy harap kalian berjodoh" timpalnya dengan senyuman merekah.

"Jodoh itu apa,Tan?" Pertanyaan itu dilontarkan Aca dengan wajah polos nya.

Kedua orang tua Damian tertawa mendengar ucapan Aca yang sama sekali belum paham tentang jodoh. "Nanti kamu akan paham jika sudah besar nanti" katanya.

"Aca!"

Ridwan–ayah Aca. Laki-laki paru baya namun masih sedikit muda melambaikan tangannya. Dengan pakaian setelan berjas menghampiri mereka yang sedang asik berbincang.

"Papa.." seru Aca dan menubruk tubuh Ridwan.

Ridwan berjongkok menyetarakan tinggi anaknya. Lalu ia mengelus puncak kepala anak semata wayangnya. "Kita pulang yuk, mama udah masakin sup daging" ucap Ridwan merayu anaknya untuk ikut pulang dengannya. Karena semenjak pagi, anak itu bermain di rumah Damian sampai lupa pulang.

Namun Aca menggeleng cepat. "Aca masih mau sama Dami, pa".

Ridwan menghela napas pelan. "Kasian mama kamu sendirian. Lagi pula kamu sudah dari pagi disini sama Tante Marissa dan om Gland. Kamu ngga sayang sama mama?".

Aca memeluk tubuh laki-laki itu. "Aku sayang sama mama dan papa" ucapan Ridwan berhasil membuat Aca dengan mata yang berkaca-kaca.

Sejahat Takdir [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang