14

76.6K 9.3K 423
                                    

*****

Arion pun beranjak mengambil kotak obat dan kembali ke ruang tamu. Baru saja Arion mendudukkan diri di kursi, terdengar langkah kaki yang menuruni tangga. Sontak mereka semua mengalihkan pandangan ke arah tangga.

Nampak seorang gadis mengenakan kostum lucu sambil menenteng tupperware berwarna pink sedang berjalan menuruni tangga. Pandangan mereka terus mengikuti jalannya gadis itu, Leya, hingga salah satu dari mereka mengeluarkan suara.

" Bang.. Itu Leya? Imut banget kek bocil. " Hanafi, yang baru saja berbicara.

" Ini udah yang ke berapa gue kaget dalam sehari ini gara-gara Leya doang. " Ucap Chandra.

" Iya njir, banyak banget berubahnya. Mana makin cantik pula, ya kan Jen? " sahut Jaemin.

" Apasih anjir. " Jeno yang ditanya hanya mengalihkan pandangan tidak suka, walaupun dalam hati dia juga mengakui kalau Leya nampak cantik sekarang.

" Udah lah Min, Jeno mah gak suka sama Leya. Nah kalo gitu ya buat gue aja ya kan. " seru Hyunjin

" Maruk lo Hyunjing,, itu pacar lo yang kelima urus dulu njir, ganggu gue mulu suruh lo bales chat dia. Leya mah buat gue aja. " jawab Jaemin

" Heh lo juga ya, si Hani mau lo kemanain?! " sahut Hyunjin lagi.

" Siapa njir? Kagak kenal gua sama si Hina yang lu sebut-sebut tuh. " jawab Jaemin

" Gayaan lo manggilnya Hina, gue aduin mampus lu. " ancam Hyunjin

" Aduin aja, orang cuma gebetan, masih ada lagi yang lain. Tuh Leya juga masih jomblo. " jawab Jaemin santai.

Berakhirlah mereka berdua adu bacot . Yang lain masih sibuk dengan pikirannya sendiri.

" Bisa diem gak sih lo berdua! " Renjun yang sudah jengkel sama duo playboy itu bicara.

" Leya berubah jadi cantik aja kalian rebutin. Kemaren-kemaren kemana aja waktu Leya masih tampang menor, Kalo masih mandang fisik gausah gegayaan nggebet cewek. " ucap Renjun.

" Tapi Jun, Leya dulu kan juga tingkahnya buruk banget. Sok manja-manja juga sama Jeno, Bang Arion sama si kembar juga, bikin eneg sumpah tingkahnya tuh. " Chandra menyahuti ucapan Renjun.

Arion, Alvin, Alvan hanya diam mendengar jawaban Chandra. Sedangkan teman-teman si kembar mengangguk membenarkan ucapan Chandra, kecuali Renjun, Hanafi, dan Sunwoo.

Renjun menghela nafas kemudian lanjut bicara.

" Dia gak salah ngelakuin itu, Dia cuma mau kasih sayang keluarganya. Gak ada yang mau gak diperhatiin keluarga sendiri. Dan Alvin bilang, karena di masa lalu dia buat kesalahan hingga papa dan kakaknya sendiri benci dia. Bodoh banget kalian kalo gitu, L-"

" Maksut lo apa? Lo ngatain gue bodoh? " sungut Alvin marah.

Perkataan Renjun terpotong ucapan Alvin. Renjun sendiri yang mendengar itu hanya tersenyum tipis.

" Cih! Kalian pikir aja sendiri. Ada ya anak umur 5 tahun udah punya pikiran ngelakuin hal sekeji itu.. ? Ada ya anak kecil yang punya pikiran buat bunuh neneknya sendiri? Dan ada ya manusia yang cuma bisa menyimpulkan tanpa tau kejadian yang sebenarnya?  Kalian cuma liat dia pegang pisau yang penuh darah, tapi kalian gak tau kejadian sebelum dia pegang pisau itu dan langsung tuduh dia bersalah. Akibatnya dia berubah jadi gadis yang buruk karena kebencian keluarganya sendiri. " ucap Renjun dengan tatapan tegas.

" Lo gak ada disana, jangan seolah lo tau kejadian sebenarnya dan bicara nggak jelas. " jawab Alvan yang kini menatap tajam Renjun.

Sementara Jeno dkk. hanya diam, tidak mau ikut bicara masalah keluarga Hermawan.

Renjun yang ditatap pun tidak merasa takut atau gentar. Lagipula dia hanya mau membantu temannya itu supaya sadar dengan apa yang mereka perbuat.

" Gue emang gak ada disana, tapi realistis aja. Pikir pakek logika kalian, jangan sampek kebencian kalian jadi boomerang buat kalian sendiri. " lanjut Renjun

" Kita semua liat sendiri dia pegang pisau itu, dan dia pantes dapet kebencian kita bahkan semua anggota keluarga yang lain. " papar Arion.

" Hm? Mami lo enggak tuh bang. " jawab Renjun.

Arion dan si kembar terdiam mendengar jawaban Renjun. Mereka gak bisa menyangkal, karena memang Maminya tidak membenci Leya.

" Gak curiga emang? Cuma Mami kalian yang gak benci Leya. Mami kalian pasti tau sesuatu tentang kejadian itu, meskipun itu cuma secuil kebenaran dari keseluruhan cerita. " ucap Renjun yang lagi-lagi mampu membuat mereka menunduk terdiam.

" Terserah, yang penting gue udah berusaha nyadarin kalian, - "

Renjun menjeda kalimatnya dan mengarahkan tatapan matanya pada ketiga kakak beradik itu.

" Hargai selagi masih ada, sebelum dia lelah dan memilih menyerah. "

Mereka bertiga tersentak mendengar jawaban Renjun, hati kecil mereka merasa tersentil. Bahkan Arion mengetatkan cengkraman tangannya yang masih memegang kotak obat.

Tanpa mereka sadari, Leya yang ada di dapur mendengar semua perdebatan mereka.

Leya memang sudah tau alasan mengapa keluarga nya membenci Leya asli yang saat ini tubuhnya ia tempati. Maminya sudah menceritakannya. Karena saat kejadian, Mami berpapasan dengan pelaku yang asli, Mami pun berusaha mengejar pelaku tersebut namun tidak berhasil. Begitu Mami kembali, semua orang sudah menyalahkan Leya asli. Mami berusaha menjelaskan namun tidak ada yang mau mendengarkan. Bahkan Mami juga mencoba meyakinkan Papi juga ketiga putranya, namun ketika Mami mencoba mengungkit kejadian itu, mereka tak mau menggubris omongan Mami. Mami juga putus asa tidak bisa membantu putrinya karena minimnya bukti yang dia punya. Jadi dia hanya bisa tetap berada di samping putrinya dan mendampinginya.



" Hargai selagi masih ada, sebelum dia lelah dan memilih menyerah. "

Leya hanya tersenyum miris mendengar ucapan Renjun.

' Emang udah telat, dia udah pergi dan kalian dari awal udah kehilangan Leya. Dan kalian yang buat dia menyerah sama hidupnya. ' batin Leya










*

*

*

*

*
_Bersambung_

A to BarBarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang