8

91.4K 10.4K 371
                                    

*****

Leya mulai melangkahkan kakinya mencari kelasnya.

Nah ini, dia merasa ada yang terlupa.

Dengan kacamata yang masih bertengger di matanya, dia juga sedang berpikir apa yang dilupakannya.

' Duh apasih yang gue lupain? ' batinnya.

Tiba - tiba dia menghentikan langkah kakinya. Selang beberapa detik dia pun ingat apa yang dia lupakan.

Ya,

DIA LUPA KELASNYA DIMANA!

' Nah lo, dimana nih kelas gue. Gini nih, udah transmigrasi tapi kagak dikasih ingatan yang punya tubuh. Berasa amnesia beneran ini mah. Duh tanya sapa nih gue. '

Kemudian Leya ingat kalo tadi kakak - kakaknya juga ada disini. Tanya mereka ajalah, peduli banget habis berseteru semalam bikin dia gak berani samper? Ini Leya broo.. Mana punya gengsi dia.

Jangan lupakan teman - teman kakaknya yang menjengkelkan namun juga banyak yang tampan. Leya terpesona? Oh jelas.. Gini - gini dia tuh pecinta cogan, jadi kalo ketemu cogan tuh gak ada jaim nya.

Leya pun melangkahkan kakinya mengarah ke gerombolan kakaknya. Yang didatangi pun udah gak heran lagi. Paling - paling juga mau menel ke salah satu temennya, Jeno.

Leya menghentikan langkahnya dan berhenti tepat di depan si kembar.

" Bang, " panggil Leya.

Mereka yang disana terkejut, karena bukan Jeno yang dihampiri gadis itu. Sedangkan Jeno sendiri juga bingung, namun berusaha tampak biasa saja.

" Ngapa lo? Sok - sok manggil gue, mau caper ke Jeno kan lo? " Alvin yang menjawab panggilan Leya.

" Apa sih lo! Ge-er banget jadi orang. Siapa juga manggil lo. Gue tuh manggil Bang Devan. " jawab Leya.

Semua yang disana terkejut juga bingung mendengar ucapan Leya. Terkejut karena nada suaranya ketika bicara dengan kakaknya, setahu mereka biasanya Leya selalu bicara lembut meskipun ditanggapi dingin oleh kakaknya. Namun sekarang malah nada ketus yang keluar dari mulutnya. Sedangkan untuk kebingungannya, Ya iyalah bingung, di antara mereka gak ada yang namanya Devan.

" Hah? Devan siapa njir?! " geram Alvin.

" Ya inilah Bang Devan. " jawab Leya sambil menunjuk ke arah Alvan.

Mereka pun cuma bisa menatap malas dengan jawaban Leya.

" Heh mak lampir! Lo tuh ya, ner bener pengen tak hih!! Ini tuh namanya Bang Alvan. Nama abang sendiri aja salah lo. " ini Chandra yang menanggapi jawaban Leya.

Leya yang mendengar suara itu pun mengarahkan pandangan ke arah pemilik suara sambil sedikit menurunkan kacamatanya ke hidung.

Leya yang tau kalo suara itu suara yang sama yang sebelumnya berdebat dengannya waktu baru pulang dari rumah sakit pun menatap jengah si empu suara.

" Ck. Si buluk lagi.. Siapa sih lo hah? Penting banget lo komentarin hidup gue. " sungut Leya.

" Lemes banget tuh mulut ngatain gue. Gue juga punya nama ya, Chandra. Inget tuh nama gue, jangan nyebut gue buluk mulu. "

" Udah pantes dipanggil buluk gak usah di bagus -bagusin tuh nama. " sahut Leya.

" Mau apa? " kali ini Alvan yang angkat bicara.

Leya yang mendengar jawaban Alvan pun langsung merubah raut wajahnya menjadi sumringah.

" Itu bang.. Gue lupa kelas gue dimana. "

Alvan yang mendengar jawaban Leya pun menganggukkan kepala.

" X MIPA 1. Lantai 3. "

" Ok, thanks. "

Setelah tau dimana letak kelasnya. Leya pun membenarkan lagi letak kacamatanya dan kembali melangkahkan kakinya mencari kelasnya. Meninggalkan mereka yang tercengang mendengar jawaban singkat Leya.

" Dia berubah banget gak sih? " salah satu cowok disana membuka suara setelah kepergian Leya.

" Iya sih, kelakuan bahkan sifat juga berubah banget. Emang amnesia bisa ngerubah kepribadian gitu? " Hyunjin menjawab pertanyaan temannya tadi, Felix.

" Leya yang sekarang bener-bener beda. Biasanya dia selalu manja sama gue atau bahkan si kembar. Sekarang, ngelirik aja enggak. Rasanya agak aneh. " ujar Arion.

" Yaampun bang, jangan di pikirin lah. Pura - pura tuh pasti entar juga paling balik lagi sifatnya. " ucap Chandra.

" Heh buluk, suudzon lo. Mana tau kalo dia beneran udah berubah. Udah tobat kali' dia, capek, berjuang juga ada batasnya bro. "  ujar Ju Hankyeon, salah satu teman Arion.

" Lah bang! Kok lo malah ikut manggil gue buluk sih. Jahatt bener lo! " protes Chandra sambil memasang wajah ternistakan.

" Jijik Chan, sumpah. " ucap Jeno.

Yang lain cuma ngetawain Chandra. Poor Chandra.

" Kelas. " ucap Alvan yang langsung diikuti yang lainnya.

*

*

*

*

*
_Bersambung_

A to BarBarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang