6

97.2K 11.5K 317
                                    

*****

Malam hari di hari yang sama

Malam ini keluarga Hermawan bersiap untuk makan malam. Anggota sudah lengkap tinggal Leya saja yang belum turun.

Di sisi lain. Leya yang masih betah tiduran sambil main HP itu tidak sadar kalau perutnya meronta ingin makan. Padahal baru tadi siang ia menghuni kamar ini namun sudah merasa nyaman seperti rumah sendiri.
(Lah emang.)

Untungnya kamar Leya ini tidak bergaya feminim banget, jadi dia ya betah-betah aja. Toh dia juga biasa aja, feminim juga enggak, tomboy juga enggak. Jadi ya fifty fifty gituh. Cuma ya gitu, baju-baju di walk in closet juga meja rias penuh kosmetiknya tuh bikin matanya sakit. Leya sekarang tuh gak terlalu suka make up. Makanya dia main HP tuh buat pesen baju dan kebutuhan lain yang sesuai seleranya.

Leya gak peduli sama kebiasaan Leya asli. Karena bagaimanapun tubuh ini sekarang sudah menjadi tubuh dengan jiwa yang baru. Jadi ya udah pasti karakter yang baru juga.

Setelah sudah selesai dengan urusan pesan-memesan, Leya memutuskan untuk turun ke bawah ikut makan malam.

Di meja makan, papi, mami, dan ketiga anak lelakinya masih juga menunggu Leya yang tak kunjung turun.

" Nungguin apa lagi nih pi, mi, ayok makan lah dah laper nih. " heran Alvin

" Bentar ih nunggu Leya dulu. " jawab mami.

" Ngapain sih ditungguin, paling juga dia lagi molor mii. " sahut Alvin

" Berisik lo. " kali ini Alvan yang angkat bicara.

Alvin pun diam setelah mendengar sahutan saudara kembarnya itu.

Tak lama suara langkah kaki membuat semua yang ada di meja makan mengarahkan pandangan mereka.

Baru saja Leya mendudukkan diri sudah disambut ocehan Alvin.
" Lama lo. "

" Berisik lo chipmunk. " Jawab Leya.

" Heh! Apa lo bilang? " Sahut Alvin dengan kesal.

" Dih! Budeg lo? "

Alvin hanya berdecih mendengar jawaban Leya.

" Udah ayo makan jangan berantem di meja makan, gak sopan. " Lerai Mami.

Sementara yang lain hanya menonton tanpa berniat untuk ikut menimbrung.

Begitupun dengan Papi yang juga menyaksikan perdebatan anaknya tersebut, namun ia juga merasakan sesuatu yang berbeda dengan putrinya itu. Putri yang selama ini diabaikannya.
Papi sudah tau dari Mami bahwa putrinya itu baru sembuh dari  kecelakaan dan mengalami amnesia.

Acara makan pun berjalan rusuh karena lagi - lagi Alvin dan Leya beradu mulut.

" Ini punya gue njir. "  ucap Alvin dengan kesal

" Punya gue! gue duluan kok yang ambil. Ngeselin banget sih lo Ali. " sahut Leya tak terima.

" Gue duluan ya yang ambil. Jadi inituh punya gue, dasar nek lampir! "

" Ya gak bisa gitu dong! Ngalah ngapa sih. "

Duo rusuh itu terus aja adu mulut cuma gara-gara rebutan ikan. Iya, ikan.

Papi, Arion, sama Alvan pun hanya menonton dengan tatapan malas. Si mami yang udah gak sanggup pun angkat bicara.

" Haduh udah dong kalian jangan ribut terus. "

" Si Alwi tuh mi. Kan adek dulu mi yang ambil ikannya. " Jawab Leya membela diri.

" Enak aja lo. Gue dulu ya! Itu juga apaan nama gue lo ganti - ganti. Dan lagi gue ini lebih tua dari lo. " Balas Alvin.

" Ngaku juga lo udah tua. " Jawab Leya

Sekedar info nih, jadi Leya di kehidupan yang dulu itu suka salah kalo nyebut nama orang. Kadang inget kadang gak inget gitu. Entah dia yang gak inget namanya atau emang sengaja gak mau inget - inget nama orang lain. Ribet katanya, toh juga gak penting - penting amat.

Si mami yang mendengar perdebatan itu juga bingung sambil memijit kepalanya. Anak cowoknya si Alvin itu emang udah biasa banyak bicara dibanding kedua kakak laki - lakinya banyak diam nya. Sedangkan anak gadisnya, Leya, juga banyak bicara namun dalam artian yang berbeda. Selama ini Leya bicara dengan nada lembut untuk menarik perhatian ayah dan kakaknya. Namun sekarang, setelah amnesia gaya bicaranya sudah berbeda menjadi lebih berani dan kasar.

" Berhenti bicara dan lanjut makan. "

Suara tegas nan berwibawa membuat semua yang ada di meja makan mengalihkan atensi pada pemilik suara.

Ya, Papi yang sudah jengah melihat pertengkaran kedua anaknya itu mulai buka suara.

" Alvin. Makan makananmu dan berhenti berebut. " Kata Papi sambil menatap putranya Alvin.

Alvin yang ditatap hanya mengalihkan pandangan ke arah lain.

" Dan kamu Leya, " kali ini pandangan Papi mengarah pada putrinya itu.
" Berhenti mencari perhatian dan simpati dengan tingkahmu yang tidak tau malu itu. "

Leya yang mendengar jawaban ketus dari papinya rasanya ingin tertawa sekencang - kencangnya. Namun karena ia tahan jadi ia mau tertawa di dalam hati saja.

"  HAHAHAHA! Mencari simpati katanya? Cih! Mana sudi gue. " batin Leya menyeruak.

" Duh maap ni om, ngapain saya cari perhatian dari kalian. Udah gak butuh saya, udah ada perhatian dari Mami. Terus apa tuh tadi? Gak tau malu? Siapa yang gak tau malu? Saya yang cari perhatian keluarga saya sendiri itu suatu kesalahan? Harusnya saya yang bilang kalo om sama anak laki - laki om itu lebih gak tau malu dari saya. Cih! Cuma orang tolol yang bisa menghakimi tanpa tau kejadian yang sebenarnya. "

Papi dan ketiga lelaki disana terpaku dengan jawaban Leya. Terlebih sang Papi, hatinya terasa tercubit ketika mendengar panggilan Leya terhadapnya.

" Leya mau ke atas ya mi. " Pamit Leya ke Mami

*

*

*

*

*
_Bersambung_

A to BarBarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang