LIVE WITH MY KETOS 02

576K 35.2K 2.5K
                                    

Pasukan murid laki-laki berseragam basket dengan headband berwarna hitam yang menempel gagah di kepala mereka baru saja keluar dari halaman belakang sekolah. Mereka semua berjalan santai ke arah lapangan untuk kembali pada kegiatan awalnya, yaitu bermain basket. Suara teriakan dari para siswi bergema di sepanjang jalan seolah tengah memuja mereka semua.

Satu cowok yang paling mencuri perhatian mereka, ia adalah Alvaro Aldebaran. Seorang ketua OSIS dan juga Most Wanted SMA Garuda. Cowok itu berjalan di barisan depan dengan senyuman menyeringai yang mampu membuat para kaum hawa pingsan.

Alvaro memimpin team basketnya masuk ke dalam lapangan indoor sekolah. Lapangan yang sangat luas dan juga memiliki berbagai fasilitas untuk berolahraga. Para siswi di dalam lapangan pun bersorak keras menyambut kedatangan mereka.  Alvaro melepas headband di kepalanya kemudian memakai bandana merah di lengan kirinya. Ia berjalan santai ke tengah lapangan di ikuti dengan teman-teman satu team-nya di belakang. Hari ini adalah jadwal latihan basket SMA Garuda.

Kelima cowok itu berlari mengelilingi lapangan untuk melakukan pemanasan sebelum latihan, lalu melakukan lemparan jarak jauh ke arah ring. Mengambil bola baru di keranjang lalu berlari ke sudut lapangan dan melakukan lemparan serupa pada sisi lainnya.

Seakan tidak ada kelelahan di dalam tubuhnya, kelima cowok itu tetap berlari memantulkan bola dengan kecepatan tinggi.

Keringat yang membasahi seragam basket mereka tidak menjadi alasan untuk sekedar menarik napas beristirahat. Mereka semua terlalu bersemangat.
Alvaro berlari ke tengah lapangan lalu mendribel bola itu masuk ke dalam ring basket diikuti keempat temannya bergiliran. Hingga tiba-tiba...

Buk!

“Akh!"

Bola yang di lempar Alvaro tidak sengaja mengenai salah satu siswi yang tengah berjalan di pinggir lapangan. Lemparan bola basket Alvaro tak main-main, sangat keras hingga membuat siswi itu terjatuh dengan kondisi berlutut. Sontak itu membuat semua orang yang berada di dalam lapangan mengalihkan atensi mereka ke arah siswi itu.

Dia, Gabriella Anatasya. Cewek cantik yang terkenal sebagai bad girl nya SMA Garuda.

Alvaro hanya diam saat melihat Gabriella terjatuh. Sama sekali tidak ada niatan untuk membantunya berdiri. Bahkan wajahnya terlihat biasa saja tanpa rasa bersalah.

“Mampus! Kena El,” ucap Arthur.

“Gue nggak ikut-ikutan,” ucap Reyhan.

“Bukan salah gue,” ucap Elang.

“Al bantuin dong. Anak orang jatuh itu,”  suruh Alen.

“Males,” balas Alvaro cuek. Cowok itu kemudian berjalan ke pinggir lapangan lalu duduk bersebelahan dengan Dimas.

Gabriella mengepalkan kedua tangannya kuat karena kesal. Cewek itu mengambil bola basket yang berada di sampingnya kemudian berdiri dan berjalan dengan langkah tertatih menghampiri Alvaro yang sedang duduk santai di pinggir lapangan. Kaki Gabriella sedikit terkilir akibat terjatuh tadi. Ia terus melangkah menghampiri Alvaro--mengabaikan rasa sakit yang ada di pergelangan kakinya. Sedangkan Alvaro menaikkan salah satu alisnya seolah mengatakan 'Mau apa lo?'

“Maksud lo apa ngelempar  bola basket segede ini ke kepala gue? Lo punya masalah sama gue?” Tanya Gabriella setelah berada di depan Alvaro. “Oh, lo dendam sama gue?”

Alvaro hanya diam tidak menjawab pertanyaan Gabriella. Lagi pula, cowok itu sudah sangat lelah meladeni cewek yang hampir setiap hari bolak-balik masuk ke ruang BK dan juga ruangannya.

“Kenapa diem lo? Nggak punya mulut?” Gabriella masih terus berbicara walaupun Alvaro tidak menanggapi ucapannya. “Eh tai jawab!”

“Lo bisa diem?” Desis Alvaro tajam.  Cowok itu memperhatikan penampilan Gabriella dari ujung kaki hingga kepala. Bagaimana cara Gabriella berpakaian sungguh bisa membuat para lelaki tidak berkedip menatap tubuhnya. Dengan seragam putih ketat dan juga rok lipit jauh di atas lutut. “Udah berapa kali gue bilang? Ubah penampilan. Lo budek?”

Gabriella melempar bola basket tepat di depan wajah Alvaro. “Enak aja lo bilang Gue budek! Siapa lo?”

“Gue Alvaro Aldebaran, kalo lo lupa.” Alvaro berdiri dari duduknya kemudian berjalan mendekati Gabriella. “Gue nggak suka ada bad girl di SMA Garuda.”

Gabriella menatap Alvaro kesal. “Bodo amat. Gue nggak peduli!”

Alvaro mencengkeram kuat lengan Gabriella. Cowok itu menatap Gabriella tajam. “Lo bisa kan nggak usah kurang ajar sama Gue?”

“L-lepasin Gue, sakit..”

“Bisa kan?”

“L-lepasin..” Gabriella terus memberontak minta di lepaskan. Karena sungguh, cengkeraman tangan Alvaro sangat kuat. Ia yakin jika tangannya saat ini sudah memerah.

“Udahlah Al, lepasin. Kasihan..” lerai Arthur yang entah kapan sudah berdiri di samping Alvaro.

Alvaro menghiraukan ucapan Arthur. Cowok itu masih terus menatap Gabriella tajam. “Minta maaf karena lo udah kurang ajar sama Gue,” ucap Alvaro dingin.

Gabriella menatap Alvaro tidak percaya. Harusnya cowok itu yang meminta maaf kepadanya, bukan malah sebaliknya. “Seharusnya Lo yang minta maaf karena Lo udah ngelempar bola bas-akh..” Gabriella kembali meringis ketika merasa Alvaro mencengkeram tangannya semakin kuat.

“Minta maaf,” ucap Alvaro dengan nada yang tidak dapat terbantahkan.

Gabriella menatap Alvaro dengan tatapan puppy eyes-nya, berharap jika Cowok itu mau melepaskan Cengkeramannya. “Lepasin tangan gue ya..”

“Minta maaf karena sikap kurang ajar lo.”

Gabriella berdecak kesal. Ternyata sangat susah menghadapi seorang Alvaro Aldebaran. “Lepasin tangan gue bego! Lo bisa kan nggak usah kasar sama ce-akh.”

Alvaro menatap Gabriella tajam. “Minta maaf atau gue cium?"

Semua orang yang berada di dalam lapangan membelalakkan matanya terkejut setelah mendengar ucapan Alvaro. Tidak terkecuali Gabriella. Cewek itu berdehem berusaha bersikap biasa saja.

“Coba aja kalo berani,” tantang Gabriella. Cewek itu yakin jika Alvaro tidak akan berani menciumnya di sini. Terlebih di lapangan ini terdapat CCTV. Apalagi saat ini sudah banyak murid yang tengah memperhatikan mereka. Tidak mungkin kan jika seorang Alvaro Aldebaran mencium seorang bad girl di depan mereka semua?

Ya, That's impossible.

“Lo nantangin gue?” Tanya Alvaro datar.

Gabriella mengangguk. “Iya. Gue yakin kalo lo nggak bakal berani nyi-“

Cup

-TBC-

LIVE WITH MY KETOSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang