LIVE WITH MY KETOS 16& 17

240K 13.3K 345
                                    

Bel istirahat pertama berbunyi sepuluh menit yang lalu. Kini, Gabriella dan keempat sahabatnya sudah berada di dalam kantin ke dua yang berada di dekat koridor. Ya, SMA Garuda memang memiliki dua kantin khusus untuk anak kelas X dan anak kelas XI.

Mila yang tengah memakan Soto-nya menatap Gabriella bingung ketika melihat cewek itu bangkit dari duduknya. "Mau kemana El?"

"Mau beli minuman. Tadi gak sempet beli," balas Gabriella.

Ketiga sahabatnya hanya mengangguk paham.

"Gue beli minum dulu," setelah mengatakan itu, Gabriella langsung berjalan tertatih menuju stand minuman yang berada tidak jauh dari tempatnya saat ini. Cewek itu memesan coppucino panas, karena ia memang menyukainya.

Gabriella mengambil pesanannya kemudian berjalan menghampiri ketiga sahabatnya yang masih sibuk dengan dunianya sendiri. Cewek itu sangat hati-hati dalam membawa minuman itu, mengingat kakinya yang masih terluka, menyebabkan cara berjalannya seperti orang pincang.

Hingga tiba-tiba, Gabriella merasa ada seseorang yang dengan sengaja menyenggol pundaknya, membuatnya kehilangan keseimbangan, dan...

Grep

Byur

"Stt.."

Gabriella merasa ada seseorang yang memeluk pinggangnya erat, menahan tubuhnya agar tidak jatuh mengenaskan di bawah lantai. Cewek itu juga sempat mendengar suara ringisan kecil yang keluar dari mulut seseorang yang tengah memeluk pinggangnya.

"Lo gak papa?"

Suara itu...

Gabriella menahan napasnya ketika suara cowok yang membuatnya kesal di lapangan tadi pagi kembali terdengar di indra pendengarannya. Ya, itu adalah suara Alvaro.

Gabriella memberanikan diri untuk menatap mata Alvaro.

Alvaro menatap Gabriella dengan pandangan yang tidak dapat Gabriella artikan. "Lo gak papa?"

"G-gue-"

"Gabriella! Lo gak papa kan? Ada yang luka? Kaki lo-" Reva menjeda ucapan sembari menundukkan kepalanya melihat kondisi kaki Gabriella yang masih di perban. "Hah.. syukur kaki lo gak kenapa-napa."

Kejadian itupun tidak luput dari perhatian para murid yang tengah berada di dalam kantin. Banyak siswi yang merasa iri ketika Alvaro begitu dekat dengan Gabriella. Bahkan, cowok itu masih setia memeluk pinggang Gabriella.

Gabriella dan Alvaro masih bertatapan dengan pandangan yang sulit untuk di artikan. Bahkan mereka berdua juga tidak tahu apa arti dari tatapan itu.

Alvaro tiba-tiba saja mendekatkan wajahnya ke wajah Gabriella, membuat Gabriella menggigit ujung bibirnya cemas. Apa yang akan Alvaro lakukan?

Tatapan Alvaro beralih ke bibir yang tengah Gabriella gigit. Cowok itu menyentuh bibir Gabriella dengan lembut, kemudian di usapnya pelan bibir Gabriella. Sontak, hal itu membuat semua orang yang berada di dalam kantin berteriak histeris karena iri. Tidak terkecuali ketiga sahabat Gabriella yang tengah berada di hadapan mereka.

Gabriella memejamkan mata ketika Alvaro kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Gabriella. Detak jantung Gabriella berdetak semakin cepat ketika hembusan napas dari mulut Alvaro menerpa wajahnya yang terasa panas. Apakah Alvaro akan menciumnya untuk kedua kalinya?

Alvaro memiringkan wajahnya dan...

"Lo berharap bakal gue cium?" Bisik Alvaro tepat di samping telinga Gabriella.

Gabriella yang mendengar itu pun langsung saja membuka matanya menatap Alvaro kesal. Cewek itu mendorong dada Alvaro, membuat cowok itu mundur beberapa langkah. "S-sok tau!"

Alvaro terkekeh geli menatap Gabriella yang tengah menatapnya kesal. Wajahnya terlihat lucu dengan rona memerah di sekitar pipinya. "Jangan terlalu berharap."

Gabriella semakin menatap Alvaro kesal. "Siapa yang berharap?!"

"Lo."

"Kapan?!"

Alvaro memasukkan tangannya ke dalam saku celana olahraganya. "Barusan."

"G-GR! Siapa juga yang berharap di cium sama cowok bencong kayak lo?!" Gabriella mengatakan itu dengan suara yang cukup keras, hingga dapat di dengar oleh semua murid yang berada di dalam kantin.

Tanpa Gabriella sadari, kata-kata itu membuat seorang Alvaro Aldebaran marah. Cowok itu menatap Gabriella tajam. Alvaro tidak suka jika seseorang menyebut dirinya sebagai 'Bencong.' Alvaro membencinya.

"Lo bilang apa tadi?" Tanya Alvaro dingin.

"Lo itu ben-akh"

Ucapan Gabriella terpotong ketika Alvaro tiba-tiba saja mendorong tubuhnya hingga membentur dinding yabg berada di dalam kantin dengan lumayan keras, membuat semua murid yang tengah memperhatikan mereka terpekik kaget. Tidak ada jarak diantara mereka. Hingga Gabriella bisa merasakan dada bidang milik Alvaro.

Alvaro meletakkan kedua tangannya diantara tubuh Gabriella. Cowok itu menatap Gabriella tajam. "Bilang sekali lagi."

Gabriella menatap Alvaro takut. Kejadian di gudang waktu itu kembali tergambar jelas di pikiran Gabriella. Bagaimana Alvaro memukul dan menendang dinding di sisi tubuhnya, hingga membuatnya menangis.

Gabriella masih diam tanpa mau mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Takut hal itu semakin membuat Alvaro marah. Dan ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Alvaro. Gabriella mendorong dada Alvaro sekuat tenaga hingga membuatnya terlepas dari kukungan cowok itu.

Gabriella menatap Alvaro kesal. "Lo bisa kan gak usah kasar sama cewek?! Sakit tau gak?!"

Alvaro menatap Gabriella tajam. "Gue. Gak. Peduli."

"Lo-"

"Ada apa ini?!"

Teriakan Pak Adam, guru BK SMA Garuda memotong ucapan Gabriella. Pak Adam berjalan menghampiri Gabriella dan Alvaro dengan tatapan garangnya. "Ada apa?!"

Gabriella dan Alvaro masih diam, menatap satu sama lain dengan tatapan tajam. Sedangkan para murid yang berada di sana bungkam, tanpa mau mengeluarkan suara.

"Kenapa diam?! Jawab saya!"

Gabriella dan Alvaro lagi-lagi tidak menjawab pertanyaan Pak Adam. Mereka berdua masih sibuk bertatapan tajam satu sama lain.

"Jawab saya!"

"Diam!"

"Diam!"

Gabriella dan Alvaro mengatakan itu secara bersamaan, membuat Pak Adam semakin menatap mereka berdua garang.

Gabriella menutup mulutnya setelah menyadari apa yang telah ia katakan. "Pak sa-"

"KALIAN BERDUA! KELILING LAPANGAN OUTDOOR 100 KALI! SEKARANG!"

"APA?!"

"APA?!"

-TBC-

LIVE WITH MY KETOSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang