LIVE WITH MY KETOS 31

213K 12K 257
                                    

“GABRIELLA!”

Alvaro berteriak keras memanggil Gabriella. Cowok itu kini sedang bersandar di sofa ruang tengah. Sudah ribuan kali Alvaro memanggil cewek itu, tapi sampai sekarang, Gabriella belum juga keluar dari tempat persembunyiannya.

Di sisi lain, Gabriella yang tengah menonton MV BTS di dalam kamarnya berdecak kesal. Karena sejak tadi, Alvaro tidak pernah berhenti memanggilnya dan menyuruhnya untuk keluar kamar. Ia yakin jika Alvaro memanggilnya untuk di jadikan pelayan dan di suruh ini-itu sesuai keinginan cowok itu.

Karena tidak ingin telinganya rusak akibat teriakan Alvaro, Gabriella memilih berjalan menuruni tangga, menghampiri Alvaro yang tengah duduk bersandar di atas sofa. Tatapan mata Alvaro terlihat tajam. Tapi Gabriella sama sekali tidak peduli. Itu karena ia sudah biasa mendapatkan tatapan seperti itu dari Alvaro.

“Apa?” Tanya Gabriella malas setelah berada di depan Alvaro.

Alvaro menatap Gabriella tajam. “Lo punya telinga kan? Lo budek?”

Gabriella menghela napasnya sabar. “Maaf ya Alvaro Aldebaran. Gue tadi lagi nonton BT-“

“Gue gak peduli. Sekarang lo pijit kaki kiri gue. Pegel,” ucap Alvaro dingin.

Gabriella hanya pasrah ketika dirinya di suruh oleh Alvaro. Cewek itu pun berjongkok di samping kaki kiri Alvaro dan mulai memijat kaki cowok itu.

“Bukan di situ,” kata Alvaro.

Gabriella menatap Alvaro masih berusaha sabar. “Terus yang mana?”

Alvaro menggerakkan pergelangan kaki kirinya. “Di sini.”

Gabriella pun mulai memijat pergelangan kaki cowok itu kesal.

“Bukan yang kiri. Tapi yang kanan.”

“Tadi lo bilang yang kiri! Kok sekarang yang kanan sih?!”

“Tapi gue maunya yang kanan. Lo mau apa?”

Gabriella berdecak kesal kemudian kembali menuruti permintaan Alvaro. Baru saja Gabriella menyentuh kaki cowok itu, Alvaro langsung menjauhkan kakinya dari tangan Gabriella.

“Apalagi sih?” Tanya Gabriella gemas.

Alvaro membaringkan tubuhnya di atas sofa sembari memainkan handphone nya.

“Gue laper. Beli in gue bubur yang ada di depan kompleks.”

“Lo punya kaki. Jadi beli sendiri!”

“Bubur Ayam,” balas Alvaro tidak peduli dengan ucapan Gabriella.

“Kok lo nyebelin sih?”

“Pake mangkuk.”

“Gue gak mau!”

“Harus ada ayamnya.”

“Ta-“

Alvaro menatap Gabriella tajam. “Gak pake lama.”

Gabriella mengangguk paksa dengan senyum misterius di wajahnya. Sedetik kemudian, Gabriella menginjak kaki kiri Alvaro kesal. Setelah itu, Gabriella langsung berlari menghindari Alvaro yang sudah menatapnya seolah ingin memakannya hidup-hidup. Tanpa Gabriella sadari, sebuah senyuman tipis muncul di sudut bibir cowok itu.

LIVE WITH MY KETOSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang