LIVE WITH MY KETOS 33

217K 10.9K 351
                                    

Gabriella merasakan bibir Alvaro menempel tepat di pipinya. Ya, Alvaro mencium pipi Gabriella yang terkena tamparan dari Dekan. Tidak lama, hanya tiga detik.

Alvaro menjauhkan wajahnya dari wajah Gabriella, masih mengusap pipi cewek itu lembut. "Biar cepat sembuh."

Sedetik kemudian....

Plak!

Gabriella menampar Alvaro membuat cowok itu menoleh ke samping akibat tamparan keras dari Gabriella. Ini adalah tamparan kedua yang cowok itu dapatkan sekaligus tamparan keras yang ia terima.

“Ng-gak usah cium-cium gue!" Ucap Gabriella yang sudah memalingkan wajahnya dari wajah Alvaro. Cewek itu merasa jika jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.

Alvaro memegang pipinya yang di tampar oleh Gabriella. Cowok itu  menatap Gabriella tajam. “Maksud lo apa tampar pipi gue?”

Gabriella menatap Alvaro kesal. “Lo itu cowok-“

“Pulang sendiri!” Ucap Alvaro memotong ucapan Gabriella.

Setelah mengatakan itu, Alvaro dengan cepat menurunkan Gabriella dari atas motor, kemudian melajukan motornya meninggalkan Gabriella yang tengah menatapnya tidak percaya.

“Gila, gue ditinggal. Lagi.”

-Live with my ketos-

Gabriella menatap Alvaro tajam. Kini, kedua remaja berlainan jenis itu tengah berada di ruang makan untuk makan malam. Setelah kejadian di lapangan Regas tadi sore, terjadi perang dingin di antara mereka berdua.

Gabriella yang masih kesal karena Alvaro dengan teganya meninggalkan dirinya di lapangan Regas. Sedangkan Alvaro, cowok itu kesal karena Gabriella dengan berani menampar wajah tampannya.
Alvaro menatap Gabriella tajam. “Kenapa lo liat-liat gue?”

“Terserah gue!” Balas Gabriella ketus.

“Ambil in gue minum,” suruh Alvaro setelah menyelesaikan makan malamnya.

“Ambil sendiri! Nggak usah manja!” Balas Gabriella. Cewek itu kemudian berjalan menuju kulkas untuk mengambil sebuah minuman kaleng untuk dirinya sendiri.

“Bawa kesini satu!”

“Apa? Gue nggak denger!”

Alvaro menatap Gabriella yang tengah berdiri di belakangnya. “Bawa in gue satu.”

“Apa? Gue nggak de-“

Ting nong

Suara bel rumah memotong ucapan Gabriella.

Alvaro bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati Gabriella  “Buka sana,” suruh Alvaro yang sudah berdiri di samping Gabriella. Cowok itu merebut minuman kaleng yang ada di tangan Gabriella.

Gabriella menatap Alvaro tidak suka. “Lo aja yang buka,” balas Gabriella.

Alvaro menatap Gabriella tajam. “Buka. Lo pelayan gue.”

Gabriella menghela napasnya berusaha sabar. Cewek itu kemudian berjalan menuju pintu utama untuk membuka pintu rumah. Tidak ada siapa pun di sana. Gabriella memilih tidak peduli dan kembali menutup pintu. Ia berjalan menuju ruang makan dan mendapati Alvaro tengah memainkan ponselnya.

“Nggak ada orang,” ucap Gabriella setelah duduk kembali di meja makan.

Alvaro melirik Gabriella sekilas dan kembali memainkan ponselnya. “Kupas in gue Apel," suruh Alvaro mengabaikan ucapan Gabriella.

Gabriella menatap Alvaro kesal. “Lo nggak lupa kan sama kejadian di lapangan ta-“

“Apel hijau,” ucap Alvaro memotong ucapan Gabriella.

"Lo-"

"Cepet."

Gabriella kembali menghela napasnya berusaha sabar. Cewek itu mengambil pisau kemudian mengambil Apel untuk di kupas.

“Gue bunuh juga lo lama-lama,” gumam Gabriella sembari menatap Alvaro tajam.

“Gue dengar,” ucap Alvaro masih sibuk  dengan ponselnya.

Gabriella menatap Alvaro kesal. Ternyata cowok itu benar-benar menyebalkan. Bagaimana bisa Alvaro memperlakukan tunangannya seperti ini? Bahkan Gabriella tidak sadar jika sejak tadi ia sudah mulai mengupas-

“Shh..”

Gabriella meringis kesakitan ketika jarinya tidak sengaja teriris karena terlalu fokus memperhatikan Alvaro. Cewek itu meletakkan pisau dan Apel itu kembali ke atas meja.

“Aw.. Shh..”

Alvaro yang mendengar Gabriella meringis pun menolehkan pandangannya ke arah Gabriella. Cowok itu melihat jari Gabriella terluka.

“Lo nggak papa?”

Gabriella menatap Alvaro tidak percaya. “Tangan gue luka, dan lo masih tanya kalo gue nggak papa?”

Alvaro memasukkan ponselnya ke dalam saku, kemudian berjalan mendekati Gabriella. Cowok itu mengambil tangan Gabriella yang terluka kemudian membersihkan darahnya dengan tisu yang ada di atas meja.

“Shh, pelan-pelan dong.” Gabriella memejamkan matanya menikmati sensasi dari lukanya yang tengah di bersihkan.

Alvaro melirik Gabriella sekilas kemudian kembali fokus membersihkan darah di tangan Gabriella. Setelah bersih, cowok itu langsung mengambil kotak P3K yang ada di ruang tengah dan kembali mengambil tangan Gabriella yang terluka.

“Kenapa bisa sampe luka?” Tanya Alvaro sambil meniup luka Gabriella.

“Gara-gara lo,” jawab Gabriella ketus.

Alvaro mengernyitkan alisnya. “Gue?”

“Iya. Gara-gara lo jari gue luka. Coba aja tadi lo gak suruh gue kupas in lo Apel. Pasti jari gue baik-baik aja sampe sekarang.”

Alvaro hanya diam tidak menanggapi ucapan Gabriella. Cowok itu menutup luka Gabriella dengan plester. Setelah selesai, ia mencium luka di jari Gabriella.

Gabriella menatap Alvaro terkejut. Kenapa cowok itu mencium lukanya? 

“L-lo?”

Alvaro menatap Gabriella dalam. “Biar cepet sembuh,” sedetik kemudian, Alvaro menatap Gabriella tajam. “Jangan tampar pipi gue lagi.”

“Ta- AAAAA!” Gabriella tiba-tiba berteriak kencang sembari meremas kuat kaus yang Alvaro pakai.

Alvaro menatap Gabriella bingung. “Lo kenapa teriak sih?”

“Ka-kaki gue hiks.., lo injak..” ucap Gabriella yang tiba-tiba saja menangis.

Alvaro yang bingung kemudian menunduk untuk melihat kaki Gabriella yang masih di perban. Dan benar, jika dirinya tengah menginjak kaki cewek itu.
“Sorry, gue-“

“Minta maaf nya nanti aja! Kaki gue masih lo injak! Hiks..."

-TBC-

LIVE WITH MY KETOSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang