LIVE WITH MY KETOS 18

238K 13K 108
                                    

Gabriella menatap Alvaro tajam. Kini, kedua remaja berlawanan jenis itu tengah berada di tengah lapangan bersama Pak Adam yang setia berdiri di samping mereka. Sejak keluar dari kantin tadi, Pak Adam tidak pernah berhenti menceramahi Alvaro dan juga Gabriella di lapangan outdoor sekolah. Sedangkan yang di ceramahi haya diam menatap satu sama lain dengan tatapan tajam. Sama sekali tidak berniat mendengarkan celotehan yang keluar dari mulut tajam seorang Adam Baskoro.

"Alvaro! Kamu itu seorang Ketua OSIS! Harusnya kamu memberikan contoh yang baik kepada adik-adik kelas kamu!" Pak Adam menatap Gabriella. "Kamu juga El! Harusnya kamu bisa lebih menjaga sikap ke Kakak kelas kamu! Jangan kurang ajar!"

Setelah puas menceramahi Alvaro dan Gabriell, Pak Adam beralih menata semua murid yang tengah memperhatikan mereka dengan tatapan garang. "Bubar!"

Semua murid yang berada di pinggir lapangan tersentak kaget mendengar teriakan dari Pak Adam. Begitupula dengan keempat sahabat Alvaro yang baru saja datang. Karena tidak ingin mereka semua berakhir di dalam ruang BK, mereka akhirnya memilih pergi dengan paksa, meninggalkan lapangan dan kembali pada kegiatan awalnya.

Pak Adam kembali menatap Alvaro dan Gabriella yang masih setia bertatapan satu sama lain dengan tatapan tajam. "Sampai kapan kalian mau bertatapan seperti itu?"

Alvaro dan Gabriella akhirnya memutuskan tatapannya dan beralih menatap Pak Adam.

"Maaf Pak."

"Maaf Pak.

Gabriella menatap Alvaro kesal. "Lo ngikutin gue ya?!"

Alvaro menatap Gabriella tajam. "GR!"

"Gue gak GR! Lo kan emang-"

"Diam!" Pak Adam memotong ucapan Gabriella. Pak Adam menatap mereka berdua tajam. "Kalian berdua, lari seratus putaran sekarang!"

Gabriella tiba-tiba menatap Pak Adam dengan tatapan memelas. "Pak, kaki saya kan lagi sa-"

"Tidak ada bantahan!"

Gabriella berdecak kesal. Pak Adam sama sekali tidak memberikannya kesempatan untuk menyelesaikan perkataannya. Setiap kali ia berbicara, Pak Adam pasti selalu saja memotong ucapannya. Dan itu sukses membuat Gabriella kesal. Cewek itu merasa tidak di berikan waktu untuk berbicara dan membela diri.

Gabriella menatap Alvaro tajam. Cowok itu hanya diam, sama sekali tidak berniat untuk melakukan pembelaan. Seolah, kejadian di kantin tadi adalah kesalahannya.

'Emang salah nya!'

"Kenapa masih diam?! Lari sekarang!"

Teriakan Pak Adam membuyarkan lamunan Gabriella. Karena tidak ingin membuat seorang Adam Baskoro kembali marah, akhirnya Gabriella dan Alvaro memilih berjalan ke pinggir lapangan untuk menyelesaikan hukuman mereka. Tapi, pantaskah ini di sebut hukuman?

Sedangkan Pak Adam, berjalan santai menuju Ruang BK yang berada dekat dengan lapangan outdoor SMA Garuda. Sesekali, ia menatap tajam ke arah Gabriella dan Alvaro. Pak Adam sama sekali tidak takut untuk menghukum anak dari pemilik sekolah maupun donatur terbesar di sekolah ini. Jika menurutnya salah, maka harus di hukum. Itu adalah prinsip dari seorang Adam Baskoro.

Di sisi lain, Gabriella dan Alvaro yang sudah berada di pinggir lapangan hanya diam, kembali menatap satu sama lain dengan tatapan tajam.

Gabriella menatap Alvaro. "Gara-gara lo!"

Alvaro menatap Gabriella tajam. "Lo!"

"Lo! Bukan gue!"

"Lo!"

"Lo itu-"

"Kalian berdua! Lari sekarang!"

Lagi-lagi ucapan Gabriella terpotong oleh teriakan dari seorang Adam Baskoro. Cewek itu berdecak kesal. Kenapa setiap kali ia berbicara, ucapannya selalu dipotong? Why? Salahnya apa?

"Nyebelin banget!"

Alvaro menatap Gabriella tajam, kemudian tanpa sadar, cowok itu menggenggam erat tangan Gabriella. Gabriella yang merasa tangannya di genggam oleh Alvaro langsung mendadak membeku di tempat. Kenapa Alvaro menggenggam tangannya? Dan kenapa juga Gabriella mendadak kaku di tempat?

Gabriella menatap Alvaro dengan tatapan yang tidak dapat untuk di artikan. Entah kenapa, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya ketika cowok itu menggenggam tangannya. Ada rasa hangat dan juga nyaman secara bersamaan.

"L-lo kenapa genggam tangan gu-akh.., pelan-pelan dong Al!"

Gabriella terpekik kaget ketika Alvaro tiba-tiba saja menariknya kasar, seolah menyuruhnya untuk berlari di belakangnya. Gabriella sempat berpikir jika Alvaro akan memperlakukannya dengan lembut. Tapi kenyataannya?

"Ish.., pelan-pelan dong! Kaki gue sakit!"

"Larinya jangan kecepetan dong!"

"Aw, kaki gue kena batu bego!"

"Akh, sakit Al! Lo bisa kan gak usah-akh..."

Alvaro tidak menanggapi ucapan Gabriella. Cowok itu masih terus menggenggam tangannya, menariknya untuk berlari mengikutinya. Alvaro sama sekali tidak peduli dengan kondisi kaki Gabriella yang masih terluka. Yang ia pikirkan hanyalah menyelesaikan hukumannya dan kembali ke kelasnya.

Di sisi lain, Gabriella tengah bersusah mati-matian mengimbangi lari Alvaro yang terkesan cepat dan juga kasar. Luka di pergelangan kakinya membuat Gabriella berlari lamban. Dan itu membuat Gabriella semakin susah untuk mengimbangi lari seorang Alvaro Aldebaran yang sangat terkenal dengan kecepatannya.

Terhitung, sudah dua puluh lima kali putaran Alvaro dan juga Gabriella berlari di bawah sinar matahari yang begitu panas menyerang kulit. Seragam sekolah mereka berdua bahkan sudah basah bermandikan keringat.

Alvaro masih terus berlari, menggenggam tangan Gabriella semakin erat. Seolah jika di lepaskan, Gabriella- nya akan menghilang. Tapi, itu bukanlah sebuah kenyataan, melainkan sebuah permisalan.

Di sisi lain, Gabriella tengah memegang kepalanya yang tiba-tiba saja terasa sakit. Cewek itu menahan tangan Alvaro untuk berhenti sejenak. Karena sungguh, kapalanya benar-benar sakit.

"Berhenti dulu..." Gabriella mencoba melepas tangannya dari genggaman Alvaro, tapi Alvaro sama sekali tidak berniat melepaskan genggamannya. Bahkan genggaman tangan cowok itu semakin mengerat.

Alvaro menatap Gabriella bingung. "Lo kenapa?"

Gabriella tidak menjawab. Cewek itu menatap Alvaro dengan tatapan sayu. Hingga perlahan pandangannya mulai mengabur, serta kepalanya yang terasa pening dan berdenyut-denyut.

Samar-samar, Gabriella bisa mendengar suara Alvaro memanggil namanya, sebelum akhirnya kegelapan datang menyelimutinya.

-TBC-

LIVE WITH MY KETOSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang