DCKD 47

3.9K 199 8
                                    

Sebuah taman berdiri di tengah-tengah pembatas tembok bercat putih. Siapa pun yang belum pernah masuk Rumah sakit ini akan mengira bahwa tempat ini hanya dikelilingi oleh tangga dan tembok penghubung antar ruangan. Namun sejatinya, di tengah-tengah tembok beraroma obat ini berdiri sebuah taman. Bak selambar daun hijau di tengah padang pasir, taman ini menjadi penyejuk mata.

Dua buah pohon asem yang berdaun rindang tengah berbunga lebat, bunga-bunga warna-warni mengelilingi tepian taman. Sementara kupu dan kumbang saling kejar menggapai nektar. Sangat indah.

Dari sisi yang berlainan tampak jendela terbuka dari sebuah ruangan. Seorang wanita tua berambut putih kusut tengah mengunyah makanan yang disuapkan padanya.

Dari sisi jendela yang lain juga terlihat seorang lelaki paruh baya yang termenung menatap sepetak-petak ubin. Ada juga yang menatap selang infus, atau hanya sekadar duduk-duduk memerhatikan hijaunya taman.

Fifah terduduk di kursi roda. Meski sebenarnya tidak ada masalah dengan kakinya, Kak Irfannya tidak mengizinkan Fifah untuk berjalan. Dia rela menemani jalan-jalan sekalipun seratus kali keliling taman. Begitu katanya.

Beruntung Allah masih memberinya kesempatan hidup di dunia. Untuk memperbaiki segala kesalahan, melangkah menuju surga.

Tes!

Sensasi dingin menembus kulit kaki kanan Fifah. Ia sedikit memajukan tubuhnya, penasaraan ada apa dengan kakinya.

Oh! Setetes air jatuh di sana. Ia mendongak, rupanya selembar daun yang meluncurkan embun.

Ia jadi teringat. Aliran merah hangat yang membanjiri pergelangan tangannya mengucur deras. Sensasi sakit kembali terasa, khayalan bau anyir darah membuatnya ingin ...

"Hooeeekkk." Fifah membekap mulutnya.

Irfan yang semula mendorong kursi roda berhenti seketika dan berpindah posisi seraya merendahkan tubuhnya sejajar dengan Fifah.

"Hey! kamu kenapa?"

Fifah diam. Ia sedang mengatur napas untuk menetralisir lendir di ujung kerongkongan yang terus memaksakan diri keluar. Seketika udara terasa dingin, butiran keringat mulai membanjir di pelipis. Bau anyirnya benar-benar mudah diingat.

"Dek, kamu kenapa sayang?" tanya Irfan.

Fifah menggeleng. Dua bola mata hitam pekat itu mencari-cari jawaban pada bola mata lawan bicaranya. Irfan mengusap lembut kepala Fifah kemudian menyeka keringat dingin yang mengucur namun ditepisnya oleh Fifah. Ia kembali diingatkan pada Salsa, perempuan yang telah memeluk suaminya dengan mesra. Seketika desiran darah di dalam dada kembali terasa.

"K-kamu ... masuk angin?"

Lagi-lagi Fifah menggeleng.

Irfan mengernyit. "Aneh. Padahal kan kamar kamu hangat, Sayang ...."

Fifah menarik napas panjang. Sekali lagi, ia ingin muntah.

"Tuh kan! Kita masuk aja ya, udara di luar nggak baik buat kamu."

Fifah memegang tangan Irfan seraya melempar sorotan penuh makna. "Di sini aja, Kak. Aku suka di sini."

Irfan menghela napas. "Sayang, kamu istirahat aja dulu di kamar, ya? Mau apa? Nanti saya belikan."

"Aku maunya di sini, Kak."

Irfan kembali menghela napas, sabar. Ia tidak bisa marah. Entah kenapa meski perasaan kesal ada, ia tetap tidak bisa mengeraskan suara pada istrinya meski memarahinya adalah demi kebaikan.

Inikah yang dinamakan cinta?

Irfan tidak tau.

Manusia hanya bisa berencana namun sesungguhnya Allah lah sebaik-baik perencana. Termasuk rencana tentang rasa yang sudah dibuang jauh-jauh ternyata hadir jua.

Irfan kembali mendorong kursi roda perlahan, berkeliling taman, menyaksikan kupu-kupu dan kumbang bergantian.

"Kak." Fifah mendongak.

"Ya?"

"Jangan kasih tau Bunda kalo aku ada di sini ya."

Irfan mengernyit. "Mmm ... emangnya kenapa?"

"Aku nggak mau Bunda khawatir."

Irfan tersenyum, menghadirkan batin tentang takdir yang tidak salah mempertemukan jodohnya. Kalau mau dikata, sekarang ia baru mengakui tidak ada penyesalan atas jodohnya kini meski dipertemukan melalui ketidak sengajaan.

"Bunda memang nggak khawatir sayang, kan ada Irfan ...."

Fifah menoleh ke sumber suara. Seorang wanita berjalan ke arahnya sambil menenteng tas berkelas.

"Bunda ...." gumam Fifah.

Begitu wanita itu mendekat, Fifah berusaha meraih tangannya, kemudian diciumnya. Diikuti dengan Irfan.

"Kan Bunda sudah ajarkan kepada Irfan, Nak. Supaya dia menjaga dengan baik wanitanya. Sama seperti ia menjaga Bunda." Seulas senyuman terukir di bibir wanita itu seraya mengusapkan tangannya ke pipi Fifah.

"Kamu kenapa bisa masuk Rumah Sakit? Pakai kabel ini segala. Nggak bagus, ah. Pasti waktu disuntik sakit yaa."

Fifah tersenyum tipis, hatinya kembali teriris.

Kenapa Bunda tanyakan soal itu? Fifah jadi teringat luka tempo lalu, Bund. Bahkan sakit dadanya melebihi rasa sakit ditusuk jarum suntikan.

"Nak?"

"Iya Bunda."

"Kamu pasti nggak mau makan, ya? Ditinggal Irfan sehari aja nggak mau makan ya? Padahal Bunda udah bilang sama Irfan, Fifahnya dibawa aja. Eeh malah ditinggal. Kan ... sampai masuk rumah sakit."

Lagi-lagi Fifah tersenyum tipis sebab ternyata Bunda tidak mengetahui penyebab awal mula Fifah dirawat di Rumah Sakit. Lebih baik jangan sampai tahu. Toh ia tidak ingin timbul perselisihan di antara dua manusia. Ia hanya ingin semuanya baik-baik saja seolah tidak ada apa-apa.

Perlahan, Fifah mengulurkan baju lengannya untuk menutupi balutan kain kasa yang menutupi luka operasi pada pergelangan tangannya.

Semoga ke depannya hubungan semua orang baik-baik saja.

***

05 Oktober 2019
💜

Assalamu'alaikum ....

Aku mau tarik napas dulu yaa guys. 😃

Hmmmp ... Fuuuhhh

Alhamdulillah, udah. Hehehe

Haloo teman-teman ... apa kabar?
Semoga selalu baik-baik saja yaa.

Alhamdulillah wa syukurillah, part ini masih bisa dilanjutkan meski agak ... hmmm yaah, jujur aku ngerasa kurang greget. Hehehe

Nggak tau nih lagi kenapa akunya 😅

Jadi temen-temen, pengennya tuh ... cerita ini kan udah lama yaa teman-teman ... aku pengen ini cepet-cepet tamat. Gitu 🙈

Akunya lagi pengen bikin cerita dengan tema yang lain tapi aku juga sedang berkomitmen, bahwa cerita yag ini harus diselesaikan dulu. 😆😹🙈

Ada usulan ide apa gitu?
Kan lumayan teman-teman. Hehehe

Atau ... ada yang mau usul tentang lanjutan cerita ini ke depannya? Gegara nggak make outline nih aku jadi kehabisan ide. 🙈
Eh tapi sebenernya kalo nulis juga aku nggak pernah make outline, sih! Wkwk

Oke deh, Thanks for reading man-teman ...

Selalu ditunggu kritik dan sarannya yaa. 😃🙏

Bye ... 👋👋

Dengan Cinta-Nya Kucintai DirimuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang