41. Everyone Knows

17.1K 2K 11

Setelah melewati akhir pekan yang heboh, Ajie harus keluar negeri selama dua hari. Lily tetap berangkat bekerja seperti biasa, dan ia sempat ragu bisa bekerja sama seperti biasanya.

Saat ia baru masuk lobby, ada pesan masuk.

Mr. Hubby: Li, nanti malam ada yang mau ketemu. Mau?

Kening Lily berkerut. Siapa lagi nih? 

Lily berhenti di depan lift dan untuk sesaat, ia membalas pesan Ajie. 

Lily: Yawdah. Siapa? Paling Mas Ajie kan? Ngasih kejutan jangan lupa coklat ama coklat.

Mr. Hubby: Serius. Beneran nih.

Mr. Hubby: Coklat terus! Sakit gigi nanti.

Lily: Kalo sakit kan tinggal ganti gigi berlian. Mas Ajie kaya ini... (^_-)-☆ 

Mr. Hubby:   (-_-;) 

Lily: Jadi siapa orangnya?

Mr. Hubby: Natty. Dia kangen ketemu kamu. Saya cerita kamu lagi sakit. Dia kuatir.

Lily: Okeee, Lily tungguin! 

Lily: Dear Hubby! Don't forget my chocolate yaaa! Love you.

Senyum Lily mengembang lebar. Benar-benar asyik banget punya pacar. Beneran kata Vani, dunia serasa milik Lily saja. Yang lain... 

"Heh! Asyik bener, Buuuu!" Sapaan yang disertai dengan pelukan dari samping itu membuat Lily sedikit terlonjak. Mira menatapnya sambil nyengir. "Pak Ajie ya?" tanyanya setengah menggoda. Di belakangnya ada Vani yang sedang menekan mesin absen dengan jempol.

Tak ada yang perlu dirahasiakan lagi. Lily mengangguk.

"Pak Ajie pulang hari ini kok, Li. Udah kangen yaaa?" goda Mira lagi. Lily tertawa sambil mengangguk lagi.

Tak lama Vani juga berdiri di depan pintu lift. Mereka saling menyapa. Tepat saat itu, pintu lift VIP terbuka. Tanpa peduli tatapan iri para karyawan lain yang sedang mengantri di depan pintu lift biasa, Lily menyeret kedua sahabatnya masuk bersamanya.

"The Power of Presdir Wifey!" ledek Vani begitu mereka berada dalam lift VIP itu. 

Mira tampak agak ragu meski ia tersenyum. "Beneran nih, Li? Kita gak papa naik liftnya Pak Ajie?"

LIly mengangkat bahu. "Gak tau! Tapi kapan sih Lily nurut sama Bapak Gajah itu?" ujarnya santai tak peduli.

Mira menggeleng-gelengkan kepalanya. "Mungkin ini kali ya sebabnya Pak Ajie tergila-gila sama kamu gitu."

"Habis lo udah gue info kalo Lily pacaran sama Pak Ajie, lo gak percaya," sergah Vani sambil memasang kartu ID karyawan ke lehernya.

Lily menoleh heran. "Loh, jadi Mbak Vani udah tau sejak dulu?" tanya Lily heran.

Vani tersenyum simpul. "Baru juga sih Li. Itu loh pas kita di Pantry dan kamu nerima telpon dari Hubby-mu. Saya lihat fotonya Pak Ajie. Cuma waktu itu, saya kira kalian berselingkuh."

"Eeeh siapa bilang? Gue juga udah tau Lily pacaran sama Pak Ajie sebelum kejadian di toilet kok!" kata Mira tak mau kalah.

Saat Lily hendak bertanya bagaimana ia bisa tahu, pintu lift terbuka dan Mira keluar. Lily menjajari langkahnya. "Kok bisa, Mbak?"

Mira menatap Lily. "Saya lihat kamu dan Pak Ajie di ruangannya lagi... " Lalu ia mempertemukan kedua tangannya, memberi kode sepasang kekasih sedang bermesraan. Seketika rona merah menyemburat di wajah Lily. Mira tergelak. 

"Jadi itu Mbak Mira toh!" pekik Lily.

"Udaaah, don't worry Li! Kami senang kok kamu jadian sama Pak Ajie. Kami juga jadi enak. Barusan tadi pertama kali loh saya naik lift VIP itu. Kalo gak karena kamu, manalah kami berani," kata Vani sambil merangkul Lily. Mira mengangguk setuju.

"Next time kalo ada yang nyakitin kamu karena kamu pacarnya Pak Ajie, biar kami yang hadapi!" Mira menepuk dadanya. Ganti Vani yang mengangguk setuju.

Mereka berjalan masuk ke dalam ruang Sekper. Lily, Mira dan Vani menyapa semua staf termasuk Pak Willy. Kali ini obrolan makin seru. Semua meminta Lily untuk tetap semangat, walaupun Ajie tak ada di kantor, mereka semua akan menjaga gadis itu.

"Lily jadi terharu nih!" kata Lily dengan bibir mencebik menahan airmata harunya.

Pak Willy tersenyum. "Makanya Li, jangan suka bohong. Saya sampai pusing mikirin caranya nasihatin Boss kita karena ngira kamu sama Pak Ajie itu berselingkuh."

"Really? Bapak juga udah tahu Lily sama Pak Ajie?" tanya Lily tak percaya.

Pak Willy mengangguk. "Iya, sejak kamu izin makan. Saya curiga lihat kamu berjingkat-jingkat kayak pencuri gitu. Ini kan kantor sekretariat. Eh saya malah lihat kamu muter masuk lewat pintu teras kantornya Pak Ajie, terus saya sengaja nungguin dan lihat kamu bareng Pak Ajie keluar. Akrab banget."

Mulut Lily terbuka lebar. Gadis itu tertawa. "Waah, Pak Willy bukannya nanya ke Lily sih?"

Kali ini Eza yang duduk di depan Lily yang buka suara. "Pak Ajie juga gak pintar nyembunyiin rahasia kok."

"Maksudnya?" tanya Mira ingin tahu.

"Lu inget gak Ra waktu gue tiba-tiba ditugasin ke Kalimantan?" kata Eza pada Mira, tapi matanya memandang jenaka Lily. "Pak Ajie nanya macam-macam soal Lily ke gue. Pas gue terdiam gak bisa jawab, ealaaah... Pak Ajie langsung merintah gini... 'Besok kamu ke Balikpapan tiga hari dan bawa tim audit sekalian' baru gue mo ngomong 'Tapi, Pak... ' terus dia ngomong lagi 'Tidak! Kamu di sana selama seminggu sampai benar-benar selesai'. Disitu gue tahu kalo Pak Ajie pasti punya perasaan beda ke Lily," ceritanya panjang lebar sambil meniru kata-kata Ajie.

Semuanya tertawa. Lalu seperti dikomando tatapan berpindah ke arah Pak Harun dan Lukas. 

Lukas mengangkat tangan. "Sama! Saya juga udah tahu lama."

Semua menunggu dengan pertanyaan yang sama. Lukas tersenyum simpul. "Waktu Mbak Lily sakit, dan Pak Ajie batalin semua meeting hanya untuk ke Bogor. Ke rumah Mbak Lily."

Kembali semua kepala di ruangan Sekper itu mengangguk-angguk. Tinggal orang terakhir, Pak Harun. Supir khusus staf Sekper.

Pak Harun tertawa. "Saya punya spion depan."

Semua orang melongok mendengar jawaban aneh Pak Harun. Tapi Pak Harun tampak santai. "Makanya Mbak, kalo ngajak berantem, atau jahilin Pak Ajie, jangan di mobil," katanya sebelum tertawa. "Baru ini saya lihat Pak Ajie diam seribu bahasa dan gak marah dikerjain sama cewek. Gini-gini saya kan pengalaman daripada Mbak Mas semua. Hahaha..."

Semua ikut tergelak. Lily juga. Ia bersyukur punya teman-teman yang memahami dirinya dan Ajie. Mungkin karena mereka semua staf sekretariat perusahaan yang sudah terikat dengan etika untuk selalu menjaga rahasia. Seburuk apapun rahasia itu, mereka akan tetap menjaga mulutnya. Siapa sangka hal itu justru menguatkan hubungan kerja mereka?

Saat siang itu Lily mengirim pesan, ia mengetikkan satu kalimat.

Makasih udah memberikan pekerjaan dan teman-teman terbaik untuk Lily ya, Mas.

*****

Note:

Jangan lupa vote dan komennya ya... Dikit lagi, dikit lagi!

\(^_^)/

IA

Boss Galak  & Sekretaris Badung [TAMAT]Baca cerita ini secara GRATIS!