32. Calon Mantu Idaman Emak

17.3K 1.8K 7

Senin pagi hari, Lily pun mulai menekan tuts handphone-nya. Menghubungi Amy.

Me: Pagi Mbak Amy! Hari ini Lily minta izin sakit tidak bisa kerja ya. Nanti Surat Dokternya nyusul

Amy Anggita: Pagi juga adik manis! Iya, Mbak udah tau. Pak Ajie sudah info dari hari Jumat

Wajah Lily memerah tanpa ia sadari. Mendadak jantungnya berdetak cepat. Buru-buru ia membalas.

Me: P' Ajie bilang apa aja, Mbak?

Amy Anggita: Ya cuma info kamu sakit dan izin seminggu. Udah itu aja.

Me: Seminggu? Enggak kok Mbak, tiga hari juga Lily udah sembuh. Cuma keseleo ini.

Amy Anggita: Udah Li. Kalo dikasih seminggu, iyain aja. Saya mah seneng bener kalo dikasih izin segitu.

Me: Iya tapi Lily kan baru, Mbak. Gak enak sama yang lain

Amy Anggita: Udaaah. Easy aja kali. Kamu istirahat ya. Jangan mikir macem-macem. Eh. Mikir deh boleh! Mikirin suami! Hahaha

Me: Mbaaak aaah! But I love you banget dah buat Mbaknya Lily.

Amy Anggita: Love you too Lily! Get well soon ya Adeee... muaah

Me: Muaah

Lily baru selesai menutup layar Whatsapp ketika bel pintu berbunyi. Saat ia hendak berdiri membukakan pintu, Emak sudah tergopoh-gopoh keluar dari kamarnya. Senyum lebar merekah di wajahnya.

"Ajie tuh, Li!" katanya riang sambil membuka pintu, tanpa memberi kesempatan pada Lily untuk berlari masuk ke kamar.

Duh, kan sekarang Lily gak bisa lari!

"Assalamualaikum, Bu! Selamat pagi!"

"Waalaikumsalam, Nak Ajie! Pagi juga!"

Dengan santun dan penuh hormat, Ajie meraih tangan Emak, mencium tangannya. Lily melongok, menatap tingkahnya yang tak biasa. Sementara Emak makin sumringah, wajahnya memerah kesenangan. Calon mantu! Calon mantu telah tiba!

"Ayo! Ayo masuk!" ajak Emak, membuka pintu lebar-lebar tanpa peduli anak gadisnya sibuk menutupi tubuhnya dengan bantal-bantal kursi.

Yang benar aja, Emak tahu Ajie mau datang, bukannya tadi ngasih tahu Lily. Malah membiarkan Ajie melihatnya dengan tampang berantakan, belum mandi dan pakai baju kaos lusuh kebesaran.

"Bapak mau ngapain ke sini pagi-pagi?" cecar Lily merengut. Pagi-pagi sudah melihat tampang boss gelo ya bete-lah. Apalagi dia lagi tidak cantik. Catat ya! Perempuan itu paling tak suka pria yang ia sukai melihatnya buruk rupa begini. Jadi sebagai tameng, ia harus menunjukkan kalau ia kesal.

Ajie tidak terusik dengan rengutan Lily. Ia malah menatap gadis itu heran, "Loh kamu gak siap-siap? Kita mau ke dokter, periksa."

Emak juga menatap Lily. "Iya tuh! Dari tadi sudah Emak suruh mandi. Malah mainan hape terus tahu, Ji. Susah diomongin nih anak. Kepalanya dari batu."

Tunggu, Mak! Tunggu! Kapan Emak nyuruh?? Lily menatap Emak yang balas melotot. Bukannya mengerti kode dari putrinya, Emak malah melemparkan tatapan rasain-lo.

Ajie tersenyum pada Emak. "Gak papa, Bu. Biar saya tungguin!"

"Pak, ngapain dicek lagi sih? Paling juga besok udah bisa jalan."

"Eeeh, gak bisa gitu ya, Li. Entar kakimu pincang permanen gimana? Tulang udah muter gitu terus dibiarin, entar malah gak kembali gimana? Untung loh ini ada Ajie mikirin mau nganter kamu. Kamu mau ngarep siapa?" sanggah Emak rada nyolot.

"Ayah kan besok udah ada, Mak!" kilah Lily.

"Emang Ayah kuat ngangkat kamu?" kata Emak cepat.

"Kasihan Ayah, Li! Kamu kan lumayan berat!" kata Ajie. Hampir bersamaan dengan Emak.

Mereka berdua saling berpandangan, dan tersenyum kompak. Ada sinar persetujuan di kedua mata Emak saat memandang Ajie. Makin yakin kalau calon mantu pilihannya hanyalah Ajie.

"Abang kan ada, Mak!" Lily masih mencoba.

"Kan dia harus ngurus mutasinya! Tadi pagi Jay udah balik ke Jakarta," jawab Emak tak kalah cepat.

Ok. Lily kalah telak!

Mau tak mau Lily menuruti keduanya. Dengan tertatih-tatih dibantu Ajie, ia menaiki tangga menuju kamarnya.

"Gendong aja gih, Pak! Kemarin kan sanggup!"

Ajie tersenyum. Matanya bersinar jahil. "Enggak ah... Kamu masih bau."

Gemas mendengar itu. Lily sengaja mengangkat tangannya tinggi-tinggi, hendak mengepit kepala Ajie di bawah ketiaknya. Ajie mengelak tanpa melepaskan tangannya pada pinggang Lily. Mereka tertawa-tawa sambil naik.

Sementara Emak menatap dari bawah. Berdoa dalam hati... Berharap keinginannya memeluk cucu segera dikabulkan.

 Berharap keinginannya memeluk cucu segera dikabulkan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***









Boss Galak  & Sekretaris Badung [TAMAT]Baca cerita ini secara GRATIS!