45. Family Lunch

19.3K 1.8K 15

Ketika seseorang sedang jatuh cinta, hari-hari berlalu tanpa terasa. Apalagi tinggal selangkah lagi, mimpi Lily menjadi istri Ajie akan segera terwujud. Setelah persiapan yang sebagian besar ternyata sudah dilakukan Ajie tanpa sepengetahuan Lily, bersama teman-teman dan keluarga, Lily mulai menyiapkan dirinya fisik dan mental.

"Mas, hari Minggu ini bisa temani Lily ikut ke hotel?" tanya Lily sambil menyodorkan map untuk ditandatangani Ajie.

Ajie mendongak. Raut wajahnya pura-pura tak mengerti. "Kita kan belum menikah, Li."

Lily tertawa kecil. "Issssh, parno banget sih, Mas! Bukaaan... Lily ingin ngajak Mas ngecek ballroom-nya. Ayah mau dengar pendapat Mas juga."

Mereka memang sepakat untuk melangsungkan akad nikah di rumah Lily dan mengadakan resepsi di hotel milik Ayah. Hanya beberapa ratus orang yang diundang, teman-teman dekat dan keluarga mereka. Tapi menurut Ajie, ia tetap harus mengadakan resepsi lain di Jakarta, dan itu mereka lakukan sebulan setelah resepsi di Bogor. Karena tak sanggup lagi mengatur semua itu, akhirnya mereka dibantu oleh seorang EO Manager.

"Baiklah, Sayaaang!" kata Ajie sembari berdiri. "Sinii!" panggilnya sambil membuka kedua tangannya lebar-lebar.

"Di kantor loh ini, Mas," tukas Lily, tapi ia tetap menyuruk masuk ke dalam pelukan Ajie. 

Ajie memeluk gadisnya dengan sayang, menciumi aroma shampoo buah segar dari rambut Lily. "Who cares, Lily. You are mine. Everyone knows that," bisiknya. Lily tersenyum, perlahan kedua tangannya merayap ke punggung Ajie, membalas pelukannya.

Ini saat-saat paling menyenangkan bagi Lily. bekerja untuk orang yang ia cintai, sekaligus memberikan hiburan saat kekasihnya membutuhkan seperti sekarang. Keberangkatan ke Sydney memang bisa diundur, tapi rencana pernikahan tak semudah mengatakannya.  Pekerjaan Ajie takkan ada habisnya, waktunya dengan Lily pun selalu terbatas, bahkan untuk urusan pernikahan, Lily yang kini mengambil alih sepenuhnya.

"Maafkan saya ya, Li. Harusnya saya melamarmu dengan cara yang lebih baik. Dengan sesuatu yang bisa kita kenang seumur hidup." bisik Ajie lagi.

Lily menengadah, memberikan senyum terbaik untuk Ajie. "Gak perlu Mas Ajie sayang, begini juga cukup. Cukup katakan ya untuk semuanya, Lily sudah seneng kok."

"Seperti meminta balon di acara resepsi kita?" goda Ajie, teringat sepasang mata kucing yang memohon untuk diberikan izin memasang balon sebagai dekorasi, membuat Emak langsung mengomel menelpon Ajie.

Tawa Lily terdengar meski ia menyembunyikan wajah di dada Ajie. "Habis Lily suka banget sama balon, Mas. Emak sih fobia sama balon, jadi Lily gak pernah punya. Ini kan pernikahan Lily."

Ajie melonggarkan pelukan agar bisa menatap Lily, "Atau saat kamu minta es krim 7 rasa untuk dessert  resepsi malam hari? Atau kue tujuh tingkat yang warnanya pink semua?"

Lily tertawa. Tak bisa mengelak. Itu memang salah satu permintaan anehnya.

"Atau saat kamu memaksa Amy menemani mencari sepatu dari kaca keliling Jakarta?" tanya Ajie tak mau berhenti menggoda. Senyumannya melebar.

"Aaah, kan menikah sekali seumur hidup, Mas. Boleh dooong Lily minta yang aneh sedikit," ujar Lily beralasan. Menatap Ajie setengah memohon pengertian.

Telunjuk Ajie menyentuh hidung Lily. "Tapi yang menikah itu kan kita berdua, saya juga dan sejujurnya... kalau bukan karena saya itu cinta banget sama kamu, mana saya mau pake jas warna pink begitu!?"

Kali ini Lily tertawa. Ia tidak menjawab. Tak perlu sekarang. Ia sedang menyiapkan sesuatu untuk Ajie dan akhirnya Ajie juga akan tahu. Yang penting sekarang adalah mereka saling menjaga hati masing-masing dan untungnya Ajie membiarkannya mengambil keputusan apapun untuk pesta mereka.

Boss Galak  & Sekretaris Badung [TAMAT]Baca cerita ini secara GRATIS!