33. Cinta itu...

20.6K 1.9K 7

Belum tiga hari tak bekerja, Lily sudah seperti cacing kepanasan di rumahnya. Bagaimana tidak? Hampir tiap hari Emak dan Ayah menjejalinya dengan berbagai makanan yang menurut mereka 'pasti Lily suka'. Belum lagi Ajie yang datang setiap hari on-time membawanya untuk fisioterapi. Fisioterapi hanya beberapa menit, dan paling lama sejam sudah selesai semua urusan di rumah sakit. Tapi Ajie menghabiskan sepanjang hari di rumah. Begitu pula Abangnya, yang tiba-tiba saja pulang membawa Tiar plus drama kacangan yang dimainkannya di depan Ajie.

"Aaaah, Lily... kamu kenapaaa, Sayaaang?" pekik Tiar saat masuk ke rumah. Menyongsong Lily yang sedang duduk di sofa. Sedangkan Ajie dan Ayah tengah duduk di depan meja makan, menyantap gorengan buatan Emak sambil mengobrol. Di belakang Tiar, Jaya mengikuti.

Bibir Lily maju. "Iniii... " rengeknya manja, sambil memperlihatkan kakinya yang diperban. Seperti biasa mata kucing memelasnya muncul.

Otomatis paham kelakuan dua gadis bertingkah bocah itu, Ayah, Ajie dan Jaya sama-sama geleng-geleng kepala. Jaya pun memilih bergabung dengan dua pria itu.

Tiar mengelus-elus tangan Lily. "Sakit yaaa... Makanya Sayang, kalo missqueen kayak kita jangan coba-coba nraktir Boss gendeng kamu," ujarnya sengaja agak keras, seraya melemparkan tatapan tajam ke arah Ajie.

Ajie keselek. Lily melongok. Jaya berusaha keras menahan tawa. Ayah senyum-senyum.

Ayah menoleh pada Tiar. "Sudah, sudah! Gak enak kan ada Ajie. Lagian tuh anak badung kalo gak sakit mana mau pulang. Ya kan Jay?"

"Iya nih kalian berdua. Jangan lupa siapa yang ngurusin si Lily dari kemaren. Ajie semua," sambung Jaya. Lalu menoleh pada Tiar. "Siapa yang kesenangan dapet oleh-oleh coklat satu tas yaaa, sampe maksa orang cepet-cepet pindah dari hutan ke kota... " sindirnya lagi. Tiar meringis.

Ini yang bikin Lily gak betah di rumah. Kalau ada Ajie, semuanya membela Ajie. Kalaupun Ajie sedang tak ada, tetap saja semuanya memperlakukan seakan-akan Ajie yang benar. Lily pokoknya harus salah aja.

Hanya Tiar yang memahami Lily. Sayangnya, Tiar tak bisa menginap karena ia baru mendapat pekerjaan sebagai pelatih kebugaran di Gym apartemen tempat mereka tinggal.

Sampai di hari ketiga, ketika dokter mengatakan bahwa kaki Lily tak lagi perlu fisioterapi, gadis itupun merengek pada Ajie di mobil saat pulang.

"Lily pengen pulang ke Jakarta aja deh, Paaak!"

"Enggak! Nanti Emak marah."

"Bapak bantuin jelasin ke Emak yaaa. Bapak kan disayang Emak."

"Pokoknya enggak!"

Lily menghempaskan punggungnya dan membuang muka ke jendela. Marah. Tapi ia teringat sesuatu. Lalu kembali memasang senyuman manis dan sekali lagi mencoba meminta.

"Boss Lily tersayaaang, Lily itu bosan di rumah. Lily kangen temen-temen, kangen becanda sama Pak Boss, kangen ribut sama Pak Boss, kangen ngerjain Ba... kerjaan kantor. Boleh ya, Lily pengen ikut pulang sama Bapak nanti sore? Boleh ya? Boleh ya Bapak ganteng?" rayu Lily dengan mata kucingnya lagi.

Ajie ingin langsung menjawab. Tapi ia malah melirik Lily dan sungguh itu kesalahan besar. Karena begitu menatap mata memelasnya Lily, ia tak bisa lagi menolak.

"Baiklah. Tapi dengan satu syarat!" katanya sembari tersenyum tipis.

"Ok. Apapun itu. Apa? Apa? Apa?" tanya Lily tak sabar.

Senyuman Ajie melebar. "Panggil saya Mas Ajie mulai saat ini!"

Lily terpaku, sebelum dengan wajah malu-malu ia berbisik pelan sekali. "Mmmas... Ajie."

Boss Galak  & Sekretaris Badung [TAMAT]Baca cerita ini secara GRATIS!