5. Pengirim WA Misterius

24.6K 2.5K 27

Belum apa-apa Lily merasa sangat lelah. 

Padahal baru hari pertama. Belum resmi bekerja. Baru juga training. Tapi Lily seperti habis mengarungi samudera, menyeberangi lautan, menjelajah benua dan bertandang ke negeri antah berantah.

GE memang beda. Perusahaan itu seperti sebuah medan perang yang dipenuhi dengan orang-orang yang saling bertarung satu sama lain. Bagaimana bisa Lily menghadapi semua itu tanpa merasa tertekan?

"Sudaaah! Makan sana! Datang bukannya mandi, malah tiduran. Bau tau! Bangun! Bangun!" Tepukan bertubi-tubi mendarat di paha Lily. Malas-malasan Lily bangkit, menatap si empunya tangan yang baru saja menepuk pahanya.

"Gue cape, Yar! Lo tau gak sih? Hari ini itu udah kayak perang dunia ketiga," keluh Lily. Kepalanya tertunduk lagi. Kembali tangan Tiar mendarat ke tubuh Lily, kali ini ke bahunya.

"Lu tuh kelamaan nganggur. Jadi pemalas! Baru gitu aja udah malas. Gak syukur amat lo bisa kerja.  Udah sana! Mandi sana! Nanti Bang Jay ngabsen lo belom ready, gue lagi yang ditegur. Cepetan!" Tak cukup dengan omelan, Tiar kini menarik dan mendorong Lily ke kamar mandi. Duh, teman satu ini benar-benar ya...

Lily memang tinggal di apartemen milik kakaknya, Bang Jaya. Tadinya ia tinggal bersama sang kakak. Tapi tepat sebulan setelah Lily resign, Bang Jay ditugaskan ke daerah Kalimantan. Otomatis, apartemen itu ditempati Lily sendirian. Hanya saja bukan Bang Jay kalau tak membuat Lily bete. Setiap sore ia wajib menyalakan aplikasi video conference supaya si Abang bisa memastikan kalau adiknya baik-baik saja.

Dan sahabat baik Lily justru menjadi follower sejati Bang Jay yang memastikan ia melakukan semua perintah abang kesayangannya.

"Liiii! Buruaaan! Bang Jaya udah online niiih!" suara teriakan terdengar dari ruang kerja Bang Jay, saat tangan Lily sibuk menyisir rambutnya yang panjang melewati pinggang.

Lily mengambil nafas, "Iyaaa! Bentaaar! Lo aja duluuu... Gue nyisiiir!"Suara Lily bergema membahana di apartemen dua kamar itu. 

Lalu terdengar suara sahutan sama nyaring, "Lo pikir gue budeeek! Iyaaa, gue tauuu!"

Isssh... Tadi siapa coba yang duluan teriak-teriak??

Tiar memang hanya sahabat baik Lily sejak remaja, tapi gadis gemuk yang kini ramping langsing itu sudah seperti saudari untuk Lily. Mereka bersekolah di SMP dan SMA yang sama, namun berbeda kampus. Itu tak menghentikan persahabatan mereka, malah karena tak bisa bertemu di kampus, Tiar dan Lily rutin saling mengunjungi rumah masing-masing. Maka tak heran kedekatan mereka juga menular ke anggota keluarga. Emak dan Ayah menyukai Tiar, pun begitu dengan Ibu Tiar, satu-satunya anggota keluarga Tiar, yang menyayangi Lily.   

Entah kenapa belakangan Lily sampai heran sebenarnya yang adik Bang Jaya itu dirinya atau Tiar. Tiar bebas keluar masuk apartemen sejak Bang Jay masih tinggal di Jakarta. Sekarang saat si Abang tak ada, Tiar malah sering menginap dan anehnya si Abang juga mengizinkan gadis itu menggunakan kamarnya.

Lily tak ingin tahu hubungan antara kakak dan sahabatnya. Ia tak merasa perlu untuk menyelidiki. Itu sebabnya Lily santai saja melanjutkan sisirannya. Ia tahu, ia hanyalah alasan untuk Tiar bisa memandangi wajah pria pujaannya. Ia dan Tiar terlalu dekat untuk menyembunyikan rahasia hati. Lily tahu kalau temannya itu jatuh cinta pada kakaknya. Hanya Lily tak tahu bagaimana perasaan Bang Jay yang selalu mengelak menjawab setiap kali Lily memancingnya. 

Bukannya Lily tak berusaha membuat keduanya saling jujur. Tapi Tiar juga sama. Gadis baik hati itu terlalu pemalu mengatakan perasaannya. Akhirnya Lily memilih membiarkan dua orang yang disayanginya itu menjalani apapun bentuk hubungan diantara mereka. Selama keduanya belum menemukan siapapun, Lily yakin suatu hari mereka bisa saling berterus terang.

Boss Galak  & Sekretaris Badung [TAMAT]Baca cerita ini secara GRATIS!