6. The Real Friends

22.8K 2.7K 24

Seminggu berlalu, dan pesan misterius itu masih saja Lily terima.

0852 1076 xxxx: kamu belum tidur?

Me: Udah

0852 1076 xxxx: Terus ini siapa?

Me: Hantu!

0852 1076 xxxx: Kamu kenapa?

Me: Habis kamu ditanya siapa gak pernah jawab

0852 1076 xxxx: Nanti juga kamu tahu.

Selalu seperti itu jawabannya. Jadi setelah dua hari menanyakan hal yang sama dan mendapatkan jawaban yang sama, Lily berhenti bertanya tentang identitas si pengirim. Ia memilih menganggap si pengirim adalah teman curhat dan becanda yang tak perlu ia kuatirkan. Kalau nanti ia kenal, tinggal blokir atau ganti nomor ponsel. Selesai. Habis perkara. Cara Lily berpikir selalu sesederhana itu.

Selama seminggu terakhir ini, Lily juga sudah mulai terbiasa dengan ritme cepat di kantornya. Meski training-nya sangat melelahkan, mempelajari struktur dari satu departemen ke departemen lain, mengenali job description masing-masing dan mulai mempelajari seluk beluk pekerjaan masing-masing secara mendetail, Lily bisa menjalani dengan baik.

Sayangnya, Lily masih belum bisa mendekati teman-teman satu ruangan latihannya. Mengenali mereka tak berarti bisa menjadi sahabat mereka. Semua orang seperti menjaga jarak dengannya. Bicara seperlunya, berdiskusi hanya saat training dan setelah itu sibuk dengan urusannya masing-masing.

Satu dua kali Lily bertemu dengan teman-teman dari housekeeping, yang akhirnya tahu kalau Lily bukan bagian dari mereka. Tapi mereka juga seperti menjaga jarak, tiap kali Lily bergabung, satu persatu memilih pamit sebelum makanan di tray mereka habis. Lily benar-benar tidak mengerti, mengapa sebuah pekerjaan bisa membuat jurang begitu dalam bagi sebuah persahabatan?

Me: Sebel

0852 1076 xxxx: Ada apa?

Me: Lily mau jadi housekeeeping aja kalo begini

0852 1076 xxxx: Ditanya ada apa, malah ngomong gak jelas

Me: Iiih, suka-suka Lily dong!

0852 1076 xxxx : Iya ada apa????

Me: Biasa aja ya!!!! Lily udah sebel sama orang-orang di sini, Tauk!

Tak ada balasan cukup lama. Mungkin dia marah. Mungkin juga dia sama kesalnya dengan Lily. Perlahan, Lily kembali men-scroll chat dan merasa tidak enak. Bukan salahnya kalau Lily merasa kesal hari ini.

Me: Maaf

Me: Lily hanya gak tahu harus ngomong ke siapa lagi

Me: Teman-teman Lily yang baru kayaknya ngehindari Lily.

Me: Lily kesal

Tetap sepi. Tak ada respon. Juga tak ada tanda-tanda si dia sedang mengetik. Lily menghela nafas.

Me: Lily rasa Lily gak pantas kerja di sekper.

Me: Teman-teman Lily gak ada yang mau temenan ama Lily

Me: Dan teman-teman Lily yang di housekeeping jaga jarak banget sama Lily

Me: Padahal apa hubungannya pekerjaan, jabatan atau apalah itu dengan persahabatan?

Me: Lily kan cuma mau berteman T_T

Masih tak ada respon. Bahkan belum di-read. Tapi entah mengapa hati Lily mulai terasa lebih tenang, sebagian beban di hatinya terlepas. Dadanya yang tadi terasa berat, kini jauh lebih ringan.

Boss Galak  & Sekretaris Badung [TAMAT]Baca cerita ini secara GRATIS!