39. Fear

20.2K 2K 18

Sebelumnya, Lily tak tahu rasanya jadi bagian dari berita 'viral'. Ia tak pernah benar-benar menjadi sosok yang diperhatikan, karena selama ini memang tak pernah suka menampilkan diri terlalu berlebihan dan tempat kerja sebelumnya hanyalah perusahaan biasa yang tak ada seujung kukunya dengan GE Grup. Dulu Lily juga hanya netizen kebanyakan. Komen dulu, selidiki belakangan.

Hanya saja kini berbeda. Di GE, karyawannya yang terdata mungkin tak sampai 500 orang, tapi rekanan dan karyawan dari berbagai sub-kontraktor hampir tak terhitung. Kalau dijumlahkan semua, angka ribuan pun muncul. Jelas bukan jumlah yang kecil untuk sebuah perusahaan. Belum lagi pengaruh dari GE secara eksternal. Maka tak heran, semakin tinggi jabatan seseorang di GE, semakin terkenallah orang itu. Semakin dekat dengan para pejabat perusahaan, semakin diperhatikan pula mereka oleh seluruh bagian perusahaan.

Lily, mungkin mengira dirinya hanya salah satu staf di Sekper. Tapi gadis cantik, badung dan jahil yang selalu bersama Ajie, sang Presdir, jelas langsung menjadi perhatian sejak awal ia masuk kerja. Untungnya, saat itu semua orang mengira ia sudah menikah. Para pria yang menyukainya akan mundur teratur begitu tahu, sementara para perempuan penggemar Ajie merasa tenang karena saingan mereka sudah tak punya kesempatan.

Sekarang semua berbeda. Hanya satu pengumuman biasa yang memang rutin dikeluarkan oleh bagian HR, semuanya berubah.

Lily baru masuk pintu lobby hari ini, hari pertama setelah pengumuman kenaikan gaji tersebut. Ia tengah sibuk meminta tolong aka memerintah Tiar untuk menyiapkan pakaian pesta Gala Dinnernya nanti malam, saat dua rekan kerja pria mendekatinya.

"Hai, Li! Morning!" Pria dengan kemeja biru kotak-kotak yang lebih dulu menyapanya.

"Hai!" Lily tersenyum manis sambil berusaha keras mengingat siapa nama pria itu. 

"Hallo Little Girl!" sapa pria satunya lagi yang tingginya di atas 175 cm.

Lily tak menyahut. "Saya bukan anak kecil!" jawabnya tak senang. Jangan sindir tinggi badan kalau depan Lily.

Wajah pria tinggi itu pias. "Eh, hello, Big Girl!" ujarnya memperbaiki.

Kening Lily makin berkerut. "Memangnya Lily keliatan gendut ya?" jawabnya makin tak senang. Again, jangan bahas berat badan depan cewek manapun! Pria berbaju biru kotak tertawa puas. 

Dua pria itu masih ingin bicara, tapi Lily sudah pergi begitu saja. Di depan lobby, sudah ada tiga pemuda lain lagi menyapanya. Setelah menolak dua orang sebelumnya, Lily tak enak meninggalkan mereka begitu saja. Apalagi untuk yang tiga ini, ia kenal mereka. Jadi ia pun berhenti sebentar, beramah tamah dengan mereka.

Tepat saat itu Ajie lewat. Ia berhenti memperhatikan Lily yang tertawa-tawa mengobrol santai. Tak lama datang Danu dan Amy, mereka juga berhenti di dekat Ajie, memperhatikan ke arah yang sedang dilihat Ajie.

"Anak-anak arsitek tuh, Jie. Mereka memang akrab. Kan Lily sudah ikut rapat mereka beberapa kali," ujar Danu memberitahu. Ia memberi kode pada Amy untuk memanggil Lily, tapi Ajie mengangkat tangan.

Ajie bergerak dengan tenang, memasukkan tangannya ke saku celana dan mendekati kumpulan staf yang sedang bercanda itu. Saat Ajie makin dekat, para staf pria itu terdiam dan mengangguk hormat. Kepala Lily mengikuti arah tatapan mereka dan tersenyum saat melihat Ajie.

"Selamat pagi Pak Ajie!" sapa para staf itu hampir bersamaan dengan Lily.

"Pagi! Gimana? Sepertinya seru tadi obrolannya," tanya Ajie dengan suara yang begitu tenang, menatap wajah-wajah pemuda di depannya.

"Eh, itu... anu... kami... "

"Jadi... gunung Himalaya itu termasuk gunung tertinggi di dunia dan selalu ditutupi salju, gak mudah naik ke sana. Sangat sulit!" sergah Lily sambil tersenyum pada Ajie. Lalu menoleh kembali pada para pemuda itu. "Iya, kan?" tanyanya meminta dukungan.

Boss Galak  & Sekretaris Badung [TAMAT]Baca cerita ini secara GRATIS!