14. The Perfect Gifts

22.5K 2.4K 33

Di pintu keluar mereka bertemu Danu. Pria yang jelas-jelas tak menyembunyikan keingintahuannya. Tapi Lily memilih diam, begitu juga Ajie. Setelah di dalam mobil, Ajie sudah mulai bertanya tentang perusahaan pada Danu. Ini membuat Lily punya kesempatan, untuk mengistirahatkan matanya yang mulai terasa berat. Ia tertidur sepanjang perjalanan menuju rumahnya.

Danu yang membangunkan Lily. Tepat di depan lobby apartemennya. Dengan mata mengantuk, Lily melirik ke depan. Ajie sudah tidak ada. Mungkin sudah diantar Danu ke rumahnya saat Lily tertidur. Karena terlalu lelah, Lily tak bertanya apapun dan memilih mengucapkan terima kasih pada Danu.

Di lobby, Tiar sudah menantinya. Sahabatnya itu menjerit kesenangan, memeluk Lily begitu girang.

"Lo beli oleh-oleh apa aja, Li?" tanya Tiar tak sabar dalam lift sambil melirik dua tas koper yang mereka bawa. Lily tak menjawab. Ia memilih menyandarkan diri ke dinding. Membiarkan matanya terpejam sesaat.

Saat masuk ke dalam apartemen, barulah Lily menjawab pertanyaan Tiar dengan malas. "Gue gak sempat beli apa-apa, Yar. Di sana gue sibuk. Bos gue doang." Lalu ia menghempaskan tubuhnya ke sofa, kembali memejamkan matanya.

Hanya terdengar suara Tiar yang membaringkan koper dan mulai membukanya satu persatu. "Terus ini apaan?" tanya Tiar bingung saat melihat isi koper.

"Hmmm... " Masih setengah mengantuk, Lily membuka mata dan ia teringat barang-barang yang dibelikan Ajie. Jangan-jangan... Lily melompat dari sofa, menerjang mendekati koper.

Tapi bukan kopernya yang dibuka Tiar. Koper itu berwarna hitam dengan pom-pom warna biru. Koper yang tadi dibawa Ajie sepanjang perjalanan pulang. Lily menatap koper itu bingung.

"Eh, ini bukan koper gue, Yar! Ini koper bos gue!"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Eh, ini bukan koper gue, Yar! Ini koper bos gue!"

"Benarkah? Cepetan lo hubungi bos lo!"

Buru-buru Lily mencari tas tangan yang barusan ia lempar asal-asalan ke salah satu kursi dekat sofa. Begitu ketemu, ia mengambil ponsel dari dalam tas. Segera mengirim pesan melalui WhatsApp.

Me: Pak Ajie, koper Bapak kebawa sama Lily!

Jantung Lily tiba-tiba berdebar. Ya ampun, baru juga berpisah. Cuma info begini aja, jantungnya sudah berpacu cepat. Lalu saat Lily masih sibuk menenangkan jantungnya... Sebuah pesan balasan masuk.

My Lovely Boss Galak!: Ini bukan ponsel pribadi. Urusan pribadi pakai yang satunya.

Nomor satunya? Yang mana? Lily mulai panik.

Ponsel bergetar sekali lagi. Sebuah pesan lain masuk.

0852 1076 53xx: Yang ini.

Lily bengong. Memandangi layar ponselnya tak percaya. Nomor ini kan...

Itu nomor yang beberapa hari lalu ia kira dari Bang Jay. Dari kakaknya yang sering jahil padanya. Yang ia kira hanya sekedar prank untuk mengerjainya.

Me: Pak Ajie?

Jemari Lily gemetar saat mengetik nama itu.

0852 1076 53xx: kalau pakai yang ini panggil saya Mas Ajie.

"Aargh!!!" jerit Lily. Ponsel melambung jatuh ke atas sofa. Nafasnya tersengal-sengal ketakutan menatap ponselnya yang kini tertelungkup di atas sofa.

Tiar yang sedang berjongkok menutup kembali koper hitam sampai ikut melonjak mendengar jeritan Lily. Gadis itu tergopoh-gopoh mendekati sahabatnya. "Ada apa?"

"Gue berdosa, Yar. Gue kena tulah! Gue bakal mati, Yar! Gue udah mati!" Bibir Lily berkomat-kamit tidak jelas.

"Apaan sih lo? Gak jelas banget!" Tiar menghampiri ponsel dan mulai memeriksa serta membaca pesan-pesan yang barusan membuat Lily ketakutan. Mata Tiar makin lama makin membulat, hingga iapun berucap, "Gila lo, Li! Boss lu rayu begini. Astaghfirullah!"

"Haaa... Tolong gue, Yar! Please! Gue harus jawab apa?" rengek Lily takut.

Ponsel bergetar lagi. Kali ini Tiar yang kaget. Ponsel kembali melambung, jatuh di sofa.

"Kunyuuuk! Kenapa hp gue lo lempar?" jerit Lily kesal. Menatap marah pada Tiar.

"Lah tadi lo juga ngelempar kan?" jawab Tiar tak mau kalah.

"Itu kan barang gue! Serah gue! Emang lo mau hp lo gue banting?" teriak Lily lebih keras.

Tapi Tiar tak menjawab. Gadis itu mengambil hp Lily lagi dan membuka pesan yang baru masuk. Ia tersenyum sebelum menyodorkan ke Lily. "Nih! Baca deh!" Setelah memberikannya, Tiar kembali ke koper hitam itu. Membaringkannya lagi.

Sementara Lily membaca pesan yang baru masuk itu.

0852 1076 53xx: Koper itu memang buat kamu. Kan saya udah janji. Semuanya ada kan? Semua yang kamu minta itu.

Jadi ... 

Lily men-scroll pesan sebelumnya dan bergegas ke koper hitam yang kini sudah dibongkar satu persatu oleh Tiar yang sibuk memilih dari segepok gantungan kunci berciri khas Singapore.

Sekotak coklat.

Selusin gantungan kunci.

Dan satu stel pakaian beserta aksesorisnya di koper milik Lily sendiri. 

Tak hanya itu, Lily menemukan beberapa hiasan meja, t-shirt, tiga kotak coklat lain yang lebih kecil, tas dan dompet lain. Ini ... Ini pesanan Emak dan Tiar! Sekali lagi teleponnya bergetar.

0852 1076 53xx: Juga ada buat ibumu, saya lihat di daftar yang kamu selipin di dokumen semalam, terbeli semua kan?

0852 1076 53xx: Titip salam sama ibu dan teman sekamarmu itu ya!   

0852 1076 53xx: Thank you for helping me on this trip. 

Untuk sesaat Lily tak tahu harus menjawab apa. Ini terlalu banyak. Ini terlalu sempurna. 

Ia tersenyum sebelum mengetik jawabannya. 

Me: Thank you for everything, Boss.

Me: Thank you for a perfect date that I ever got. This is my first, but this is the best.

Cukup lama Lily memandangi ponselnya. Tak ada jawabannya.

Lily yakin Ajie bukanlah boss yang tak bisa membedakan urusan pribadi dan urusan perusahaan. Ia memang mempertaruhkan pekerjaannya. Tapi Lily ingin jujur, setidaknya pada dirinya sendiri. Itu sudah kebiasaannya. Hatinya memang merasakan hal berbeda pada Ajie, berbeda dari semua pria selain keluarganya sendiri yang pernah ia temui dan ia tak ingin menyembunyikannya. Ia akan menikmati semuanya. Meski itu artinya  ketika Ajie tak membalas perasaan Lily, ia akan kembali jadi pengangguran.

Dengan 200 juta yang masih tersimpan rapi di dalam tasnya, Lily takkan pernah takut apapun.

Tanpa sadar Lily tertawa terkekeh-kekeh sendiri. 

Dasar materialistis! #Sisi Jahat menyumpah sadis

Biarin ya Li! Kan hanya ingin memastikan lo masih punya rencana cadangan #Sisi Baik membela

Trrrt... Ponsel bergetar lagi.

0852 1076 53xx: Me too, Lily cantik.  

Ponsel Lily melayang sekali lagi. Tapi kali ini tak berakhir di atas sofa. Kembali ke tangan pemiliknya yang setelah itu melompat-lompat di atas sofa. Membuat Tiar yang kini sibuk mengunyah coklat menggeleng-gelengkan kepala.

Yesss! This is really a perfect date, with complete gifts!

***

Boss Galak  & Sekretaris Badung [TAMAT]Baca cerita ini secara GRATIS!