4. Housekeeping

29.2K 2.5K 15

Lily mengetuk pintu ruangan manajer training yang tertutup.

"Masuk!" terdengar suara dari dalam memberi perintah. Lily pun masuk.

Seorang pria setengah baya duduk di belakang meja, melirik Lily sebentar sebelum menunduk lagi. Menatap layar ponselnya. Lily ikut melirik. Sepertinya si Bapak itu sedang membuka aplikasi LINE. Lily memanjangkan leher. Benar saja. Manajer itu membaca L*NE Today!

"Selamat pagi, Pak!" sapa Lily 

Sang manajer mengangkat wajah dan dua alisnya bertaut. "Pagi! Siapa ya?"

Lily meneguk liur. "Saya karyawan baru, Pak."

"Ooh, untuk bagian Housekeeping  ya?"

Housekeeping?!? Maksudnya Lily? Hahahahaha #Sisi Jahat tertawa dengan jahat.

Wajah Lily menggelap mendengar pertanyaan itu. Susah payah ia berdandan sebaik mungkin menampilkan sosok wanita anggun, namun profesional malah dikira... calon karyawan baru bagian housekeeping?!?

Tunggu dulu! 

Lily melirik penampilannya yang terbias di dinding kaca ruang manajer itu. Rambut lurus alaminya yang panjang tergelung rapi membentuk sanggul kecil di belakang leher. Tak ada hiasan, karena Lily ingin memberi kesan sederhana dengan mengikat sanggul kecilnya memakai harnet. Blus yang ia kenakan berwarna putih bersanding serasi dengan rok lipit warna hitam sampai lutut. Riasannya juga tak berlebihan, namun didominasi warna peach natural. Tangannya hanya berisi sebuah gelang dan jam tangan mungil. Tas kecil berwarna merah muda tergantung miring di bahu kirinya. Benar-benar penampilan pas untuk seorang karyawan baru. Sama sekali tak ada yang aneh. Klasik, tapi tak ketinggalan zaman.

Atau mungkin gara-gara wajahnya ya?

Apakah ia seburuk itu sampai tak dianggap pantas sebagai seorang calon sekretaris direktur?

Lily hanya bisa menghela nafas. "Saya diterima di sekper, Pak. Ini kartu yang kemarin saya terima," kata Lily menjelaskan sambil memperlihatkan kartu karyawan yang ia genggam dengan tali tergulung di pergelangan tangannya itu.

Gaya malas-malasan dan segan yang awalnya ditunjukkan oleh sang manajer seketika berubah setelah membaca informasi yang tertera dalam kartu itu. Ia berdiri seperti robot otomatis. Senyumnya merekah lebar dengan cepat. Tak ada lagi kesan bossy, hanya ada wajah ramah yang penuh simpatik.

"Oh Anda rupanya? Mbak Lily kan?" tebaknya. Ya iyalah, tadi kan sudah melihat kartu karyawan Lily. "Baik! Baik! Maaf ya, saya tadi sibuk banget. Mari! Ikut saya untuk ke ruang training Anda."

Baiklah, sibuk? Perasaan tadi Lily lihatnya si bapak manajer sibuk main HP. Lebih tepatnya, sedang asyik membaca L*NE Today! 

Setelah itu, sang Manajer Training itu berdiri, memperhatikan Lily dari ujung kaki hingga naik ke wajahnya. Diperhatikan seperti itu, Lily pun menegakkan punggungnya. Memamerkan penampilannya.

Biasanya kalau orang kagum itu terlihat dari raut wajahnya, bukan? Mata mereka akan tampak berbinar, dan bahkan kadang bibir bersiul sebelum memuji. Tapi respon yang diinginkan Lily itu sama sekali tak terlihat.

Tatapan Pak Manajer mulai menelusuri seluruh penampilan Lily, dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tidak berbinar. Malah seperti orang yang sedang... prihatin. 

Ia menghela nafas. Tampak suram. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan bahu melorot, sebelum akhirnya berkata, "Ya sudah, ikuti saya!"

Apa maksudnya? Kenapa wajah Pak Manajer seperti itu?

Manajer Training tak membiarkan Lily bertanya, ia keluar dari ruang kerjanya. Dengan patuh, Lily mengikutinya dari belakang.

Sepanjang lorong mereka melewati ruang-ruang pelatihan. Sayup-sayup Lily bisa mendengar suara para trainer. Ia sempat mengira Pak Manajer akan membuka salah satu pintu ruangan itu. Tapi mereka tak berhenti. Pak Manajer terus saja berjalan hingga sampai ke ruangan paling ujung. Barulah ia berhenti dan membuka pintu perlahan.

Boss Galak  & Sekretaris Badung [TAMAT]Baca cerita ini secara GRATIS!