Bonus 4: Hadiah

16.8K 1.8K 52

Bonus Rank 1 tanggal 04/03/2019 #Komedi #Chicklit #KisahCinta #Boss #RomCom #Sekretaris

Empat bulan berlalu dan semuanya terlihat baik-baik. Atau setidaknya itulah yang dikira oleh Lily dan Ajie. Keluarga yang baru mereka bangun, mulai beradaptasi dengan kebiasaan kedua keluarga dan jadwal kerja mereka. Tak ada yang mudah, tapi keduanya semakin bisa menyesuaikan semuanya perlahan-lahan. Semua terasa lebih mudah karena cinta selalu berada di hati keduanya.

Tapi ternyata itu tak terjadi di kantor.

Pagi itu Lily tiba-tiba masuk ke ruangan Ajie. Pria itu memalingkan wajahnya dari layar laptop yang sedang diketiknya, memandangi heran istrinya yang masuk tanpa mengetuk pintu lagi.

"Ada apa?" tanya Ajie kuatir.

Belakangan hati Lily gampang banget berubah. Sebentar marah-marah tak jelas juntrungannya, sebentar sudah tertawa-tawa. Pagi dia diam seribu bahasa, sore istrinya itu sudah berceloteh bak burung betet. Setiap kali perubahan itu terjadi, Ajie kadang tak tahu harus melakukan apa-apa. Ia kehabisan ide. Karena itu tiap kali ia melihat sedikit saja ada sesuatu pada Lily, ia buru-buru bertanya.

Lily menguap. "Ngantuk! Lily mau bobo. Boleh kan, Mas?" tanya Lily. Sebenarnya itu bukan pertanyaan, lebih mirip pernyataan, karena dengan cueknya Lily membuka laci meja dan mengambil kunci kamar yang ada dalam ruang kerja Ajie.

Seperti di lantai 9 dulu, ruang kerja Ajie yang sekarang juga dilengkapi kamar tidur. Kamar yang bisa digunakan Ajie saat ia harus lembur atau lelah. Namun, sejak pindah ke lantai 23, kamar itu hanya digunakan Lily. Sejak menikah, Ajie tak pernah bisa tidur tanpa istrinya lagi. Ia bahkan membawa Lily kemanapun saat harus perjalanan bisnis. Posisi sekretaris yang dipegang Lily, cukup menjadi alasan untuk itu.

Ajie hanya tersenyum dan mengangguk. Membiarkan istrinya melakukan apapun yang diinginkannya. Semalam Ajie terlalu bersemangat, sampai lupa kalau Lily itu gampang lelah.

Tak lama setelah Lily menutup kamar dan Ajie kembali bekerja, pintu ruang kerja diketuk. Ajie teringat janjinya, pagi ini Pak Wira ingin melaporkan sesuatu padanya. Jadi ia menyuruh si pengetuk pintu untuk masuk. Benar dugaannya. Pak Wira muncul dari balik pintu.

"Selamat pagi, Pak Ajie!" sapa Pak Wira sambil berjalan mendekat.

"Pagi, Pak Wira! Gimana? Ada masalah?" tanya Ajie to the point. Ia hanya punya waktu setengah jam untuk bicara, dan harus segera menyelesaikan review mengenai salah satu project yang akan mulai minggu depan. Setelah itu ia masih harus memimpin rapat keuangan. Tak ada waktu untuk berbasa-basi.

Pak Wira terlihat ragu. Maka Ajie tersenyum. Ia tahu, Pak Wira mungkin hanya seorang kepala HRD, yang masih jauh dari sikap profesional. Tapi Pak Wira adalah salah satu karyawan setia yang bekerja sejak Papa Ajie yang memimpin dan salah satu karyawan yang paling dipercaya oleh Papa. Pekerjaan Pak Wira mungkin tak sebaik para staf profesional yang memiliki basic pendidikan tinggi. Namun kejujuran Pak Wira sudah tak lagi diragukan. Ia tak hanya menganggap Golden Eagle sebagai perusahaan, tapi menjadikan dirinya bagian dari keluarga Ajie. Ia tak segan memberi peringatan atau kritik setiap kali Ajie melakukan sesuatu yang salah. Sesuatu yang dianggap Ajie sebagai nilai plus tersendiri. Karena itu, Ajie hafal raut wajah Pak Wira saat ia ingin menyampaikan kritik. Seperti saat ini.

"Begini, Pak Ajie. Maaf kalau ini sedikit pribadi. Tapi mau tidak mau saya harus menyampaikan masalah ini karena sudah banyak keluhan yang saya terima belakangan ini," kata Pak Wira membuka dialog.

Ajie mengangguk. "Silakan, Pak."

Pak Wira menghela nafas panjang. "Ini mengenai istri Bapak."

"Istri saya?" kening Ajie berkerut dan matanya secara otomatis menatap pintu kamar dengan kuatir. Tak masalah kalau ia mendengar kritikan soal Lily. Masalahnya, ia tak ingin emosi Lily meledak saat mendengar kritik Pak Wira.

Boss Galak  & Sekretaris Badung [TAMAT]Baca cerita ini secara GRATIS!