11. Kebohongan Sempurna

24.8K 2.5K 29

Kata Emak, jangan suka berdusta. Sekali melakukannya, maka kau akan terus berdusta. Hatimu takkan merasa tenang. Selamanya, rasa bersalah akan menghantuimu. Yang lebih parah, jika terbiasa maka kau akan sulit membedakan mana nyata dan mana dusta. 

Begitulah yang dirasakan Lily sejak bertemu Mr. Theo dan Jessica, sekretarisnya. Sampai ia tak lagi bisa membedakan antara dusta atau nyata. Bahkan tanpa sadar menganggap dusta memang sudah menjadi nyata.

Setelah meeting yang menghebohkan, Theo memaksa mereka untuk dinner bersama. Sepanjang makan malam itu, Lily benar-benar merasa tempat duduknya terasa sangat panas. Setiap kali Theo bertanya, berkelakar atau memuji hubungan mereka, sebersit rasa bersalah melintas di hati Lily.

Tapi Ajie sama sekali tak tampak canggung melakukan semua sandiwara itu. Demikian juga Danu, yang justru melengkapi dusta itu dengan kebohongan yang makin jauh dari kenyataan.

"... I know from the first time, Lily was different than other girls that Mr. Ajie met. You knew him, right? So when he told me that he liked this lady, I wasn't surprised. I am just happy, finally he found his half." Danu mengangkat gelasnya tinggi-tinggi, siap memberi toast.

Kapan? Kapan Danu tahu soal itu? Lily baru bertemu dengannya di kota ini, dan satu-satunya yang Danu saksikan hanyalah saat Ajie sedang marah pada dirinya. Apanya yang beda??

Ajie juga sama. Dengan baik ia berperan seperti seorang calon suami yang sempurna. Memandangi Lily penuh cinta, menyentuh tangan dan merangkulnya sesekali. Seperti tak puas, ia bahkan memotongkan daging steak Lily dan tersenyum sangat manis pada saat menyodorkan piring.

Jangan tertipu, Li! Ini angin surga sebelum topan badai melanda. #Sisi Jahat sibuk berpikir keras.

Tapi dia mungkin saja benar-benar mencintaimu, Li. Ingat kan kalo dia pernah menyatakan cinta padamu? #Sisi Baik mencoba meyakinkan.

Lily masih bimbang. Sampai Ajie menoleh padanya. Tersenyum sekali lagi.

Sungguh, Lily tak sanggup menahannya. Pesona Ajie terlalu sulit untuk ditangkal. Hati Lily tak bisa menyembunyikan getaran yang semakin sulit disembunyikan. Kalau para pelayan restoran tempat mereka makan saat itu saja tak menyembunyikan tatapan diam-diam mereka dari wajah Ajie, apalagi Lily yang sepanjang hari berada di sisinya. 

Lily lebih suka melihat wajah tanpa ekspresinya daripada penuh senyuman seperti sekarang. Lily lebih suka ditatap dengan sorot mata tajam, daripada ditatap penuh kasih seperti sekarang. Lily takut, ia tak lagi bisa membedakan antara dusta dan nyata. Ia kuatir terbawa sandiwara ini dan mengira ini benar-benar nyata. 

Maka saat Theo berdiri, setengah mabuk dan berpamitan, gadis itu begitu senang. Danu juga sepertinya mulai kehilangan kesadaran. Nah satu ini juga yang makin membuat Lily sulit menyembunyikan perasaannya. 

Diantara semua orang yang hadir, Ajie sama sekali tak menyentuh wine. Hanya Danu, Theo dan sekretarisnya yang minum. Ia, yang sebenarnya ingin mencoba rasa minuman beralkohol bernama wine, sudah dipelototi oleh Ajie sejak masuk ke ruang makan tertutup itu. Pria itu meminta dua softdrink soda berwarna merah sebagai pengganti wine.

Setelah mengantar tamu mereka pergi dan meminta seorang pelayan pria untuk membantu mengantar Danu ke kamarnya, kini tinggal mereka berdua yang berjalan pulang menuju kamar mereka. 

Lily ingin sekali bertanya mengapa Ajie sampai mau berdusta sejauh ini. Bukankah hal ini beresiko jika Theo tahu yang sebenarnya? Tapi lidah Lily terasa kelu. Setiap kali ia menoleh, ia kembali melihat wajah dingin Ajie. Kali ini malah terlihat jelas kalau ia tampak lelah sekali. Mungkin beban di hati Lily pun dirasakan Ajie.

Boss Galak  & Sekretaris Badung [TAMAT]Baca cerita ini secara GRATIS!