1. Interview Atau Interogasi?

47.3K 3.7K 54


Andai saja ia tak membuka Linkedln, andai saja ia tak membaca lowongan pekerjaan itu, aaah... tidak, andai saja ia tak mengenal media sosial untuk mencari kerja!

Setelah mengira tinggal selangkah lagi menjadi sekretaris direksi bergaji tiga kali lipat dari UMR, dan sibuk mengkhayalkan pertemuan mendebarkan yang menyenangkan dengan Pak Boss muda, ganteng, soleh dan tajir sesuai informasi dari semua mata-mata yang ia sebut sahabat, yang terjadi justru inilah wawancara terburuk sepanjang hidup Lily.

Ketika Lily menatap pria yang sedang duduk di hadapannya, tanpa sadar ia menelan ludah. Sinar matahari dari balik jendela besar di belakangnya, jatuh tepat di sisi wajah pria itu, membentuk bayangan yang meninggalkan garis-garis wajah tegas yang hampir sempurna. Hidung mancung dengan tatapan tajam sarkastis, ditambah bibir tipis yang berkedut berulang kali membentuk seringai saat ia mulai mengucapkan kata-kata itu, yang membuat Lily ingin lantai ruang Direktur itu terbuka lebar dan membiarkannya tenggelam lalu menghilang dari hadapan pria tampan itu.

"Sepertinya saya sudah kenal Anda sebelumnya," kata pria itu perlahan.

Dimana? Kapan? Bagaimana? Apa yang terjadi?

Lily sibuk mengingat-ingat. Masak sih? Kok bisa-bisanya ia melupakan pertemuan itu dengan pria tampan seperti itu. Satpam yang jaga di apartemen kakaknya saja dia hafal semua mana yang tampan dan mana yang tidak, bahkan sampai ke shift kerja mereka, lah ini... makhluk tampan dari planet orang ganteng loh! Yang selalu berseliweran di majalah bisnis karena kemampuan bisnis yang mumpuni, dan pose-pose tampannya yang hilir mudik di berbagai media sosial gosip karena ketampanannya itu.

Aneh bin ajaib, tapi Lily tak bisa mengingatnya sama sekali.

"Eeeeh... kita, Pak?" Lily ragu. Jangan-jangan salah kali nih si Direktur ganteng ini.

Tapi keraguan itu malah dijawab dengan anggukan meyakinkan sekali lagi.

"Iyap! Kita sudah lama kenal," katanya lagi, lalu matanya menatap tajam pada Lily, "dan kamu menolak cinta saya dua kali."

Ajeee gile!! Beneran? Lily nolak dia?

Mata bening Lily membulat besar. Terbelalak tak percaya. Tak mungkin ia menolak lelaki setampan dia. Apalagi justru dia memilih keluar dari pekerjaannya yang dulu, rela memulai proses panjang untuk menjadi sekretaris Bapak ganteng ini, sambil berharap siapa tahu... siapa tahu loh ini, terjadi hubungan spesial antara Boss dan Sekretaris seperti di drama-drama Korea favoritnya, juga novel-novel chicklit yang ia baca. Ia pun bisa mendapat paket cowok yang lengkap seperti yang didoakan Emak dan Kakaknya tiap hari. Gak perlu pusing nyari-nyari lagi.

Dan kata si Boss ganteng ini, Lily sudah menolaknya dua kali! DUA KALI!!

"Ka.kapan itu, Pak?" tanya Lily dengan lidah yang mendadak kelu.

Wajah tampan itu terangkat. Bibir berkedut sedikit. "Yang pertama waktu saya di SMP kelas 1."

Kepala Lily miring, berusaha mengingat saat itu. Hm... sebelum menjalani proses wawancara, Lily sempat mencari tahu tentang daftar pimpinan di perusahaan ini. Memang tak mudah mengingat semuanya. Tapi ia ingat dengan jelas tahun kelahiran si Boss. Justru begitu ia tahu tahun kelahiran si Boss, Lily langsung mengkhayalkan posisi 'sekretaris plus-plus' itu.

Mereka berbeda sekitar 7 tahun. Cukup jauh memang, tapi itu ukuran idealnya Lily untuk calon suaminya. Tapi tunggu! Kalau saat itu si Boss itu SMP kelas 1, berarti dia...

Ya elah... Aku kan masih TK!!

Lily hanya bisa melongok. Ya iyalah dia gak ingat sama sekali. Anak TK diajak pacaran. Duh, Pak! Yang ada entar disangka gejala awal pedofilia kali.

"... Lalu yang kedua, waktu saya selesai wisuda," sambungnya tanpa peduli raut wajah Lily yang sudah kayak hantu mau kentut. Pengen ketawa ngakak, tapi takut si Boss malah ngamuk kalau calon sekretarisnya ngakak kayak kebo.

Kalau dia wisuda, berarti saat itu... Lily sudah duduk di SMA. Sekuat tenaga Lily berusaha keras mengeluarkan semua kenangan selama masa-masa itu.

Dan sebuah adegan yang hampir tak ada pengaruh baginya selama ini, tiba-tiba muncul.

Flashback

"Liii! Lil! Lil! Lilyyyyyyyy!"

Ini nih, gak perlu ditanya siapa yang manggil begitu. Lily sengaja gak mau noleh. Ya kali dipanggil 'Lil, Lil' gitu... Siapa juga yang mau dipanggil begitu? Tapi mendengarnya berteriak makin garang, mau gak mau kepala Lily berputar arah.

Tiar, sahabatnya yang bertubuh gempal sedang berlari-lari menyongsong dirinya. Kaki Lily otomatis mundur beberapa langkah. Ngeri membayangkan tubuh gempal itu menabrak tubuh mungilnya. Bisa remuk semuanya.

"Apaan? Lo sampe lari-lari gitu banget?"

"Hah, hah, hah... Ituuu! Ittu... ada om-om nyari lo!" kata Tiar di tengah-tengah usahanya mengatur nafasnya yang seperti mau putus.

"Om-om?" tanya Lily tak yakin.

"Buruan! Entar lagi masuk, lo ke sana aja kalo mo liat orangnya," Tiar mendorong-dorong tubuh Lily menuju keluar gedung sekolah mereka.

Sebenarnya Lily bingung. Sejak kapan dia kenal om-om? Tapi karena dia pengen tahu juga, makanya pasrah saja didorong dan ditarik Tiar ke gerbang sekolah.

Bener aja. Di sana ada seorang pemuda kurus berkacamata tebal berdiri menunggu.

Pemuda itu tersenyum malu-malu pada Lily. "Hai, Lily!" sapanya pelan.

Alis Lily terangkat, bingung. "Siapa ya?" tanyanya. Tiar memandang Lily heran, lalu beralih pada si pemuda.

"Saya Ly, masa gak inget? Kak Ajie, Inget kan? "

Lily makin bingung. Kak Ajie siapa sih? Kening Lily berkerut-kerut, sambil menatap lekat-lekat wajah di balik kacamata itu, sampai bel istirahat selesai berbunyi panjang.

"Udah ya, Lily harus masuk! Maaf!" Lily dan Tiar sama-sama berbalik.

Tangan pemuda itu terangkat, "Eh, tunggu dulu! Saya kembali untukmu, Li!"

Lily menoleh lagi, "Hah?"

Pemuda itu tersenyum. Manis dan tampak lembut. "Saya kembali untuk jadi pacarmu, Li!"

Tiar langsung menutup mulutnya yang terbuka karena kaget. Lily melongok.

Dan ia melakukan seperti semua gadis remaja yang baru pertama kali mendengar pernyataan cinta untuk pertama kalinya dari orang asing. Menolak ketakutan.

"Maaf Lily gak kenal Kakak! Kakak salah orang! Lily gak kenal!" Lalu Lily berbalik, berjalan setengah berlari secepat yang ia bisa, tanpa menoleh sama sekali. Bahkan Tiar keteteran mengejarnya dari belakang.

"Iih, rugi lo, Li! Orangnya ganteng gitu."

Lily bergidik, "Enggak banget. Amit-amit jabang bayi lo! Dateng-dateng mau jadi pacar gue! Pedofil iya kali. Orang gila pasti tuh!"

Back

Siapa sangka beberapa tahun kemudian, pemuda yang dia sangka gila itu kini duduk dengan seringai sinis di hadapannya. Tapi bukan Lily, sang mantan sekretaris berpengalaman selama dua tahun yang tak bisa menjawab pertanyaan sang calon boss.

"Maafkan Lily ya, Pak! Lily masih sangat muda saat itu. Sangat. Muda. Dan saat itu orangtua juga ngelarang Lily pacaran."

Punggung si Boss menyandar ke kursinya, ia mengayun-ayunkan sandaran kursi dengan punggungnya itu, lalu melirik lembaran kertas yang berisi curriculum vitae milik Lily, ia bergumam pelan. "Hmm, begitu ya."

Entah kenapa, Lily merasakan kuduknya merinding saat mendengar gumaman dingin itu. Ada sesuatu yang seperti menunggu untuk meledak. Firasatnya mengatakan berulang kali dalam kepalanya.

Hati-hati, Li. #Sisi Baik di hatinya mengingatkan.

"Dan sejak kapan kamu menikah? Kok saya gak ngerasa diundang?"

Tuuuh kan???

***

Boss Galak  & Sekretaris Badung [TAMAT]Baca cerita ini secara GRATIS!