13. A Perfect Date

23.5K 2.4K 15


Saat menyusuri Orchard Road, Lily menatap pria di sisinya berkali-kali. Ia tak ingin percaya melihat kenyataan yang terjadi padanya saat ini. Kedua sisi hatinya sudah sibuk saling beradu argumen di dalam hatinya, tapi hatinya memilih mengikuti apapun keinginan pria yang kini berjalan berdua bersamanya bagai sepasang kekasih. 

Ini pasti mimpi. Ini pasti khayalan yang belum selesai. Ini pasti karena Ajie terbawa kebohongan mereka kemarin. Ini pasti sesuatu yang disiapkan Ajie untuk membalas keisengan Lily kemarin.

Tapi lo suka kan Li? Ngaku aja! #Sisi Jahat berbisik sinis.

Dan ya, hati Lily tak bisa berbohong. 

Lily menikmati kebohongan ini sejak awal. Ia bahkan nyaris melupakan pengaruh terhadap pekerjaannya. Ia nyaris tak peduli apapun. Begitu wajah Ajie berada di hadapannya, semua logikanya ikut melayang jauh. Lagipula siapa yang bisa menghindari pesona pria tampan ini? Dengan kantong tebal dan tawaran menggiurkan.

Bahkan Emak sangat sangat sangat perhitungan setiap kali Lily mengajaknya melewati Orchard Road. 

"Pokoknya lewat aja yak! Cuma lihat aja ya! Jangan beli apa-apa! Entar kita beli oleh-oleh segambreng di Bugis aja ya, Li. Tutup mata! Tutup telinga ya, Nak!" Begitu kata Emak tiap kali mereka liburan di Singapore dan Lily memilih tempat dengan toko-toko barang yang cukup menggiurkan itu. 

Tapi biasanya yang belanja banyak justru Emak. Namanya ibu-ibu gaol macam Emak, mana dia bisa melewatkan kesempatan toko dan mall dari barang-barang berkelas yang berjajar cantik menggodanya di sepanjang jalan itu.

Sebesar apapun rasa suka Emak terhadap semua barang berkelas, ia masih punya kendali. Begitu juga Lily. Manalah mereka berani masuk ke ION Orchard, meski sekedar melirik Louis Vuitton, Dior, atau Dolce & Gabbana. Itu sama saja mempermalukan mereka berdua saja. Tas seharga mobil atau pakaian seharga rumah takkan pernah mungkin ada dalam bayangan Lily bisa ia pakai.

Sekarang kepala Ajie malah sibuk celingak celinguk menatap jajaran toko pakaian, sepatu dan tas mahal itu. Berulang kali Lily menarik tangannya, mencari perhatiannya agar mereka menyudahi tur ke toko-toko itu. Tapi Ajie justru mempererat genggamannya dan menggandeng Lily semakin kuat.

"Pak, di sini mahal," bisik Lily saat Ajie berdiri cukup lama di depan tas berwarna merah muda.

"Kamu masih suka pink?" tanya Ajie menatap gadis itu tanpa peduli bisikannya barusan. Otomatis Lily mengangguk.

"I take that bag. A pink one." Lily terperangah.

"Do you have my girlfriend's size for that dress? and that... " Rahang Lily terbuka makin lebar. Sementara ia sibuk mencari cara agar bisa menolak, Ajie sudah melepaskan genggamannya dan berbicara lagi dengan salesgirl yang melayani mereka. 

Lily tak bisa bicara apapun. Otaknya kosong. Antara keinginan memiliki benda-benda cantik menggoda dengan menjaga harga dirinya, ia tak bisa memilih. Lily tak bisa berdusta. Ia menyukai semua pemberian Ajie.

"Kamu sudah bantuin saya dapetin kontrak Theo. Ini hanya persentase bagian kamu di kontrak," ucap Ajie saat mereka kembali menyusuri jalan Orchard.

Tunggu! Persentase bagian? Insentif sales maksud si Bapak ya?

Lily memandangi tas-tas belanja yang sedang dipegangnya. Kalkulator otaknya sibuk menghitung dan membandingkan kurs Singapore Dollar dengan Rupiah, dan itu membuat lututnya lemas.

Hampir 200 juta!!!

Tak bisakah bagian itu dirupiahkan dan ditransfer ke rekeningnya saja? Lily bisa beli mobil dengan uang sebanyak itu!!!

Boss Galak  & Sekretaris Badung [TAMAT]Baca cerita ini secara GRATIS!