29. Nostalgia

21.2K 2.2K 20

Ajie benar-benar merasa tak enak. Usai Jaya menjelaskan mengenai dirinya, suasana ceria berganti secara mendadak. Seketika hening mengisi suasana dalam ruang tamu itu. 

Untunglah, tiba-tiba mata Jaya melihat kaki adiknya. Spontan ia berjongkok. "Kakimu kenapa, Ly?"

Lily pun menyelamatkan diri dari tatapan Emak dan Ajie, buru-buru menjelaskan. "Jatuh, Bang. Tadi pas makan siang sama Pak Ajie."

Jaya mendongak, ke arah Ajie. "Kalian makan berdua?" Ada senyum membayang di wajahnya saat berdiri lagi dan menepuk punggung Ajie. "Gerak cepat juga lo, Mate!"

Sementara Emak mulai mundur teratur diam-diam. Saat Ajie sibuk dengan Jaya, tanpa suara, dengan tergesa-gesa. ia memilih kembali ke dapur. Emak memilih bersembunyi. 

Ajie ingin sekali mengatakan sesuatu pada Jaya, tapi sahabatnya itu malah mengajaknya duduk di sofa dan mulai sibuk bernostalgia mengenang masa lalu mereka dulu. Tapi Ajie sempat menatap memberi isyarat pada Lily, memintanya untuk bicara pada Emak. Dengan kaki terpincang-pincang dan berpegangan di dinding, Lily juga ikut masuk ke dapur. Ajie sebenarnya kuatir melihat cara Lily berjalan, tapi saat ini ia tahu ia tak bisa ikut masuk ke dapur.

" .... Lo doang yang gak pernah datang ke reunian sih, Jie. Jadi teman-teman kita nganggap lo itu sekarang sombong. Tapi gue yakin, lo gak gitu kan?" tangan Jay menepuk punggung Ajie pelan, membuatnya mengalihkan perhatian pada kakak Lily itu.

Ajie tersenyum getir. Sejak dulu Ajie tak berniat untuk kontak lagi dengan teman-temannya itu. Temannya hanya satu. Hanya Jaya. Yang lain hanyalah teman-teman palsu yang dulu bahkan tak pernah menganggapnya.

"Gue kan gak kayak lo, Jay. Lo itu kan emang teman mereka. Lah gue?" Ajie mengangkat bahunya setengah tak peduli.

Flash-back

Tangan Ajie mengepal mendengar obrolan dari dalam toilet sejak beberapa menit lalu. Teman-teman sekelasnya berkumpul tepat di depan pintu toilet sambil tertawa-tawa.

"Ya mumpung dia anaknya orang kaya, Cung. Lumayan gue ditraktir mulu sama Ajinomoto itu!" Suara pertama terkekeh memulai obrolan itu.

Suara tawa lain juga terdengar sebelum menyambung, "Setuju! Gue juga sebenarnya ogah bertemen sama anak culun gitu. Tapi berhubung dia sukarela minjemin peer ke gue ya kenapa enggak ya hahahaha!"

"Lagian tuh anak tolol banget sih, mau aja kita suruh-suruh dan nraktir tiap hari. Dasar culun! Hahaha!" kata suara lain yang berbeda.

"Kalian ngapain?" Suara yang bertanya itu terdengar dari kejauhan. Mungkin ada teman lain yang ingin ikut bergabung dengan mereka.

Ajie menempelkan telinga ke dinding toilet, agar lebih jelas siapa yang baru saja datang itu. Ia berharap ia adalah salah satu guru.

"Eh lo Jay! Please jangan cerita ke anak baru itu ya!" Ajie langsung mendapat jawabannya. Si empunya suara yang baru datang itu ternyata Jaya. 

"Kalian itu licik banget sih. Dia kan benar-benar baik sama lo semua, tapi lo ternyata cuma jadiin dia alat gitu doang? Tega lo pade!" bela Jaya. 

"Ah lo sih enak, Jay. Lo anaknya kan pinter. Lagian lo gabung aja sama kita-kita. Lumayan makan gratis." Ajie menghafal suara itu. Ia akan mengingat suara ini

"Najis gue makan haram gitu! Jijik gue liat lo pade!" kembali suara Jaya terdengar. 

Ajie tak pernah menangis. Juga untuk saat ini. Dia malah sangat marah. Dia ingin membalas mereka. Mereka tak mengenal dirinya yang sebenarnya, tapi sudah berani mengejeknya. Ia yang berusaha keras menjadi teman yang baik, malah dijadikan bahan candaan. Mereka akan membayar mahal atas pengkhianatan ini. Mereka akan menerimanya, janji Ajie geram.

Boss Galak  & Sekretaris Badung [TAMAT]Baca cerita ini secara GRATIS!