23. Gaji Pertama

21.8K 2.1K 39

Setelah satu bulan, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Masih pagi memang. Tapi menurut informasi dari rekan-rekan di divisi lain, gaji sudah masuk dari kemarin. Jadi Lily pun memeriksa akun banknya dengan jantung berdebar-debar. Ini memang bukan pertama kalinya ia menerima gaji, tapi ini pertama kalinya ia menerima gaji tiga kali lebih besar dari gaji sebelumnya.

Setelah angka-angka itu muncul, Lily menghitung dengan sangat hati-hati jumlah digit yang tertera. Ia hampir memekik, tapi urung saat memandangi rekan-rekan kerjanya yang tampak sibuk. Hanya senyum lebar menghiasi wajahnya.

"Cieee, yang gajian pertama nih ye!" goda Amy yang kebetulan lewat di depan Lily.

"Ih, Mbak Amy nih, tahu aja Lily lagi ngecek," balas Lily.

"Terima traktiran buat kaum fakir sekretariat ya, Li!" sambar Eza dari belakang Lily.

"Sip! Sip! Senin aja ya, Mas dan Mbak semua! Lily belum ada uang tunai nih. Kita makan-makan di luar ya! Yang murah-murah aja gak papa kan?"

Suara-suara gembira mengiyakan dari enam kepala di ruangan sekretariat itu pun membahana. Ternyata si sekretaris baru tak sepelit dugaan mereka. Hati gadis mungil itu secantik wajahnya.

Tapi bukan uang tunai yang jadi alasan sebenarnya. Lily sudah menyimpan beberapa ratus ribu di dompetnya. Ia berniat menepati janjinya yang lain. Menraktir Boss Galaknya, Ajie.

Tangan Lily mengambil handphone-nya dan jari-jarinya mulai mengetik pesan WhatsApp untuk Ajie. Ia tahu, Ajie selalu lama menjawab pesannya. Ia pasti sibuk sepagi ini. Tapi Lily sudah berjanji dan ia harus menepatinya.

Me: Pak! Sibuk gak? Lily mo ngomong

Mr. Hubby: Skrg?

Oh ya, Lily sudah mengganti nama Ajie dengan nomor pribadi menjadi Mr. Hubby demi melindungi dia rahasia Lily. Tentang suami fake-nya dan hubungannya dengan Ajie.

Me: Iya

Mr. Hubby: Hbis jumatan aja.

Me: Makasiiih Bapak ganteng!!!

Senyuman lebar menghiasi wajah cantik Lily.

Ketika waktu sholat Jumat tiba, para staf pria beragama Islam yang hendak menunaikan sholat pun mulai pergi satu persatu. Setengah jam kemudian, giliran para staf tersisa yang keluar untuk makan siang. Karena baru habis gajian, banyak yang memilih makan siang di luar kantor dan bukannya di kantin karyawan.

Usai sholat, sebagian kembali ke ruangan, sebagian lagi langsung ke cafeteria karyawan. Ajie kembali ke kantor bersama Willy. Lily sempat melemparkan senyum saat Ajie lewat dan dibalas dengan anggukan.

Lily memilih untuk menunggu sampai semua orang pergi sebelum menuju kantor Presiden Direktur. Ia dan Ajie memang makin berhati-hati sekarang. Cukup skandal Ajie dengan para artis itu saja, tidak dengan Lily.

"Gak makan, Li?"

Suara itu membuat kepala Lily berputar. Ternyata Willy masih duduk di kursinya. "Lily baru mau pergi, Pak. Bapak gak makan?"

Willy menggeleng, "Duluan aja Li, saya masih banyak kerjaan."

Lily meraih dompetnya, ia memutuskan meninggalkan tas dan hanya membawa dompet kecil serta handphone-nya. Setelah kurang lebih satu jam, Lily pun berdiri.

"Lily pamit ya, Pak. Mau makan di luar sama teman dulu."

Willy mengacungkan jempol.

Ruang sekretariat sebenarnya bersebelahan dengan ruang Presiden Direktur, tapi karena Willy masih bekerja, Lily tak mau ambil resiko ketahuan olehnya. Karena itu ia berpura-pura berjalan ke arah lift karyawan, yang berada di tengah-tengah lantai 9 itu. Setelah memastikan Willy tak memperhatikannya, ia keluar melalui pintu samping menuju teras lantai 9 untuk memutari taman hingga ke ruang kerja Presiden Direktur yang juga memiliki pintu teras sendiri itu.

Boss Galak  & Sekretaris Badung [TAMAT]Baca cerita ini secara GRATIS!