46. Lamaran

22.8K 1.9K 26

H-3 sebelum pernikahan.

Sudah beberapa hari ini Lily mengambil cuti. Padahal belum setahun bekerja. Tapi semua orang di kantor sepertinya tak terlalu peduli soal itu, meski Lily sendiri tetap mengurus cutinya dan menganggapnya sebagai 'advance leave'.  Selama cuti untuk menyiapkan pernikahannya, Lily dan Tiar tinggal sementara di rumah Emak lagi.

Seperti biasa begitu bangun, Lily langsung meraih ponsel. Subuh tadi usai sholat, Emak memaksanya untuk tidur lagi. Bayang hitam di bawah mata Lily terlihat jelas. Maklum saja, semakin dekat waktunya, semakin banyak yang harus diurus Lily.

"Coba kalo pagi itu langsung bangun, Li! Mau nikah ini!" kata Tiar sambil menarik selimut Lily, yang auto mempertahankan hingga ponselnya terlepas.

Tapi Tiar berhasil menariknya dan Lily berteriak. "Iyaaaa, Nyonya cerewet." Tiar pun keluar dari kamar Lily. Mengira Lily akan bangun.  

Tapi gadis itu tidak langsung bangkit, ia malah memandangi foto Ajie yang ada di sisi tempat tidurnya, tersenyum-senyum sendiri, lalu tertawa tak jelas. Setelah beberapa menit bergulingan di atas tempat tidur, barulah ia bangun dari tidurnya. Tapi hanya untuk duduk dan meraih ponsel lagi, mulai memeriksa notifikasi satu persatu.

"Liiii... Bangun!" teriak Tiar dari depan pintu. Lily mengangguk santai. Tapi ia tidak kunjung bangkit dari tempatnya, malah meraih bantal dan menjadikannya tumpuan tangan untuk mengirim voice note.

"A World Without You... " Lily mulai berucap.

"Lilyyyyyyy! Banguuuuun!" Teriakan kasar membahana dari dekat pintu. Tiap lagi. 

"... A**ir!" dan pesan berisi makian tanpa sengaja itu, terkirim. Lily terkesiap. Buru-buru ia menghapus, tapi Voice Note balasan sudah masuk.

"Bahasanya bagus banget ya." Suara Ajie terdengar dingin.

Dengan cepat Lily menelpon. "Halo?" Suara sapaan dingin terdengar. Ajie.

"Maaf! Maaf, Mas! Tadi itu Lily kaget. Suaranya Tiar ngagetin," kata Lily buru-buru menjelaskan.

Ajie baru akan bicara, ketika terdengar suara keras lagi di belakang Lily. "Heh, Ikan Lele, banguuuun! Kita janji sama tukang salon. Buruaan! Tuh Mak udah nungguin!"

Lily menoleh, menatap sadis pada Tiar. Nih orang yeee... 

Entar lo balas dia saat dia nikah nanti, Li #Sisi Jahat mengompori.

Jangan dong Li, dia kan sahabatmu #Sisi Baik mengingatkan

Tapi seakan tak peduli tatapan Lily, Tiar merampas telepon Lily. "Bang Ajie, sorry ya gue harus bawa bini lo ngepas baju ke salon. Dia mandi aja belom. Baru bangun."

Entah apa yang dikatakan Ajie, saat itu juga pembicaraan berakhir. Tiar memasukkan ponsel Lily ke kantong bajunya dan menarik Lily dari tempat tidur. Mengomel-omel  memarahi calon adik iparnya yang manjanya bukan main ini. Meski masih malas, Lily patuh saja mengikuti kemana Tiar mendorongnya.

Hari ini ia punya misi yang sangat penting. Gak boleh marah! Gak boleh marah!

***

Pak Harun, supir kantor yang dipinjam Lily hari ini tersenyum-senyum saat memarkirkan mobilnya, tepat di tengah-tengah pintu masuk lobby gedung GE.

"Pak Harun ngerti kan nanti harus apa?" tanya Lily pada Pak Harun. Pria paruh baya itu mengangguk. Saat turun, ia menuju bagasi, mengambil sebuah kotak besar dan meletakkannya di teras lobby. Dua satpam yang menghampiri, salah satunya membawa kereta barang. Mereka sudah mendapat perintah untuk mengambil beberapa kotak lain yang ada di dalam bagasi yang sama oleh Lily. Bertiga mereka membawa barang menuju kantor Ajie.

Boss Galak  & Sekretaris Badung [TAMAT]Baca cerita ini secara GRATIS!