Epilog 2

20.4K 1.6K 29

Avelia sedang mempelajari sebuah proposal penawaran kerja sama untuk pembukaan cafe-nya ketika seseorang mengetuk pintu. Gadis itu membuka pintu dan sedikit heran saat melihat Papa berdiri di situ. Biasanya Papa meminta si Bibik yang memanggilnya turun.

"Ada apa, Pa?" tanya Avelia bingung.

Papa memberi isyarat. "Kakakmu udah pulang tadi. Dia lagi mandi sekarang. Buruan!" bisik Papa sambil memperlihatkan laptop kecil di tangannya. 

Senyum Avelia mengembang. Teringat akan rencana Papa yang tadi siang disusun rapi antara Papa, dirinya dan Amy. Rencana untuk menjodohkan kakaknya dengan sahabat baiknya. Gadis itu mengangguk dan dengan langkah perlahan mereka berdua mendatangi kamar Ajie.

Avelia mendorong pintu kamar Ajie pelan-pelan. Terdengar suara percikan air di kamar mandi. Seperti kata Papa tadi, si pemilik kamar sedang mandi. Papa tetap menunggu di depan pintu, namun kali ini laptop telah dibuka dan menyala, siap digunakan. Sementara Avelia mulai menelusuri meja dan nakas yang ada di kamar Ajie, mencari ponselnya.

Ponsel Ajie tergeletak di atas nakas kecil samping tempat tidurnya. Dengan langkah cepat nyaris tanpa suara, Avelia mengambil ponsel itu dan membawanya ke pintu. Sambil sesekali melihat ke arah kamar mandi, Avelia berusaha membuka kunci ponsel kakaknya. Didekatkannya ponsel Ajie ke arah lampu, dan mencoba membuka kode kunci layarnya. Dua kali gagal dan yang terakhir baru terbuka. Buru-buru gadis itu memeriksa daftar kontak dan menambahkan sebuah nomor. Lalu ia membuka WhatsApp, memilih menu WA Web dan memindai kode batang di laptop Papa. Tak sampai semenit, WhatsApp Ajie telah berpindah. Papa dan Avelia saling melempar senyum puas.

Setelah berhasil, Avelia segera menutup layar ponsel dan mengembalikan ponsel ke tempatnya. Ia berhenti sesaat memastikan posisi telpon sesuai seperti saat ia mengambilnya tadi. Tepat saat itu suara percikan air berhenti, tangan Papa melambai-lambai menyuruhnya keluar. Avelia pun berlari meski tetap tanpa suara. Pintu kamar tertutup tepat sebelum pintu kamar mandi terbuka.

Ajie yang keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya berdiri bingung. Sesaat ia merasa barusan ada orang yang masuk ke kamarnya, tapi nyatanya tak ada siapapun. Ajie menghela nafas. Mungkin ia hanya terlalu lelah. Malam ini, tak ada yang perlu diperiksa, ia hanya perlu tidur. Dengan rambut masih setengah basah, ia membaringkan tubuhnya yang penat. Ia benar-benar sangat lelah.

Di ruang kerja Papa, Avelia dan Papa berdiri bingung di depan laptop terbuka yang menampilkan layar WhatsApp Web.

 "Kita nanya apa dong, Pa?"

Papa mengangkat bahu. "Mana Papa tahu, Ve. Kamu kan anak muda. Kira-kira biasanya nanya apa?"

Ganti Avelia yang mengangkat bahu. "Ya mana Ve tahu, Pa. Biasanya Ave yang ditanya bukan nanya."

"Ya udah, kamu biasanya ditanya apa sama cowok?" tanya Papa balik. 

Velia sibuk mengingat-ingat. Lalu mengetikkan pertanyaan. 

Anda: Sudah makan?

Papa menatap layar laptop dan keningnya berkerut. "Kok nanyanya itu sih?"

"Ave seringnya ditanya begitu, Pa," jawab Avelia polos.

"Standar bener sih cowok-cowokmu itu! Emangnya cewek sekarang gak tahu cara makan apa?"

"Papa ah gitu, mau dibantu gak sih? Papa aja deh!"

"Kalo Papa bisa, masak Papa minta bantuan kamu sih! Ya sudah, sini! Entar kalo Ajie sama Lily gak jadian, kamu yang Papa nikahkan sama si Jaya. Mau?"

"Papaaa!"

Suara denting balasan WhatsApp terdengar membuat keduanya berhenti berdebat, dan sama-sama menatap layar laptop. Senyum Papa dan Velia sama-sama mengembang. 

Boss Galak  & Sekretaris Badung [TAMAT]Baca cerita ini secara GRATIS!