(17) Persahabatan Lebih Penting; 2

6.4K 340 0
                                    

Sudah direvisi

***

Mereka sudah duduk di kantin, Zakki berhasil membawa Raani bersamanya. Raani duduk di sampingnya sedangkan Adimas dan Faisal duduk di depan mereka. Dia sudah berjanji untuk meluruskan semua ini, kesalahpahaman antar sang adik dan Raani harus diselesaikan.

"Kalian tentu tahu 'kan, sebuah cinta itu butuh pengorbanan... terkadang cinta berakhir bahagia, namun tak jarang berakhir dengan kesedihan, karena harus mengikhlaskannya pergi."

"Pedih memang kalau harus melepaskannya, gue juga pernah mencintai seseorang sejak SMP hingga sekarang pun gue masih sedikit mencintai dia."

"Tapi gue udah ikhlas karena dia sudah memiliki seseorang yang dia cintai. Ya, gue sih berusaha terima dengan legowo. Kalau Allah jodohkan gue sama dia, kami pasti bersatu, kalau enggak? Yaudah, yakin aja Allah akan berikan yang terbaik." Zakki mengarahkan pandangan pada mereka satu per satu, tampaknya ketiga orang itu mendengarkan dengan sangat baik.

"Yang kalian harus petik dari cerita gue adalah jika kalian mencintai dia karena Allah, kalian juga harus merelakan dia karena Allah," jelas Zakki.
"Gue tahu ... Raani mencintai Faisal," lanjutnya membuat Raani melotot menatapnta.

"Faisal pun mencintai Raani, iya 'kan Sal?" Faisal mengangguk pelan, "dan ... Adimas lo mencintai Aleeta."

"Aleeta? Gue enggak tahu betul adik gue itu mencintai siapa, yang jelas dia enggak cinta sama Faisal," ujar Zakki mengarahkan dagu nya pada Faisal sontak Faisal mengangguk pasrah.

"Jadi gini ... Raani dan Faisal memang saling cinta namun mereka harus mengikhlaskan cintanya." Ucapan Zakki membuat Adimas kebingungan dan Raani menunduk meremas ujung jilbabnya.

Faisal membuang napas lalu mengusap wajahnya pelan.

"Kenapa begitu, Kak? mereka saling cinta," tanya Adimas heran.

Zakki menggeleng tak kuasa, "Lo juga harus mengikhlaskan Aleeta dan Aleeta juga harus mengikhlaskan laki-laki yang dia cintai." Adimas menggeleng tak terima. "Kenapa harus begitu?!"

Dia memandang Raani, gadis itu hanya menunduk diam lalu berpindah ke arah Faisal yang menatapnya datar.

"Allah mengumpulkan kita di sini sebagai kumpulan orang-orang mengikhlaskan cinta dijalan-Nya," kata Zakki setelahnya menarik napas sejenak, "Adimas ... Aleeta dan Faisal dijodohkan."

"Apa?!" Adimas melebarkan matanya, tak menyangka dengan semua ini. Raani membuang muka ke arah lain saat Zakki menatapnya sejenak.

"Kalian harus mengikhlaskan orang yang kalian cintai." Zakki berbicara pada ketiga teman adiknya itu. "Ikhlaskan dirinya."

"Yakinlah ... Allah akan berikan kalian jodoh yang terbaik."

Adimas menunduk mencerna kata-kata Zakki sedangkan Raani bergeming menatap lantai yang dia pijaki.

"Dan kamu, Dek. Kamu pasti tahu siapa yang dicintai Alee. Dia enggak mencintai Faisal 'kan? Aleeta enggak salah apapun di sini, Dek. Bahkan dia rela membantah abi karena menolak perjodohan ini."

"Kakak mohon sampingkan emosi dan egomu, coba berpikir dengan perasaanmu. Kalian sudah bersahabat sejak belasan tahun, bukankah sangat disesali jika kalian harus putus hubungan ini?" Raani menyeka air matanya sesekali dan Zakki memberikan tissu padanya.

"Semua ini bukan kehendak kita. Bukan gue ataupun Aleeta." Faisal ikut bersuara. "Gue pun sama seperti kalian, mengikhlaskan cinta selama tiga tahun pada Raani, semata-mata demi orang tua."

Raani & Aleeta ✔(TAHAP REVISI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang