(12) Be Patient

5.5K 307 0
                                    

Di taman kampus Raani dan Aleeta berbincang-bincang seperti biasanya, dan kali ini mereka membicarakan hafalannya yang sudah lama belum disetorkan, karena kesibukan kuliah membuat mereka jadi jarang ke pondok seperti biasa.

Tiba-tiba sosok Habibi sudah menjulang tinggi samping Aleeta sambil berkata, "Assalamualaikum ... jadi, bagaimana?" tanyanya. Aleeta menghadapkan wajahnya ke depan kembali sesekali dua sahabat itu saling lempar tatapan setelah menjawab salam Habibi.

"Hem ... adik kakak cewek atau cowo?"

"Cewek kok, Naysila namanya." Habibi tersenyum merekah setelah Aleeta mengangguk dan berkata, "Baiklah, nanti aku bersama Raani ya, enggak masalah 'kan, Kak?"

Tentu saja laki-laki itu mengangguk. Meski Aleeta mengajak siapapun dia tidak masalah, asalkan gadis itu bersedia menjadi guru ngaji Naysila.

"Kalian pulang jam berapa?"

"Jam tiga," jawab Aleeta cepat.

Habibi menganggukkan kepalanya masih dengan senyuman yang kian melebar. "Oke, aku tunggu di parkiran ya setelah jam tiga nanti." Lalu dia mengucapkan salam kemudian berbalik meninggalkan kedua sahabat yang saling tatap itu.

"Kamu belum cerita loh sama aku," ujar Raani.

Aleeta mulai menceritakan semuanya dan Raani menaikkan sebelah alisnya. "Al, jangan-jangan itu cuma akal-akalan dia aja? modus mungkin." Aleeta menepuk punggung tangan Raani seraya berdecak dan berkata, "Jangan suudzon ah."

"Ya habisnya ... eh tadi kamu mau ngajak aku?" tanya Raani dan dilihatnya sahabatnya itu mengangguk, "aku lupa, Al. Mama minta aku langsung pulang karena beliau lagi banyak pasien."

Bahu Aleeta menurun, kenapa Raani tidak bicara sedari tadi? rasanya dia ingin sekali marah sama sahabatnya ini, tapi bagaimana lagi? dia sudah terlanjur berjanji pada Habibi.

"Hehehe, maaf ya bungsunya abi Agus."

"Huh! kalau aja kamu bukan sahabatku, Ran. Udah aku ceburin ke kolam itu." Tunjuknya pada kolam yang berada tak jauh dari tempat mereka berada.

Raani terbahak-bahak di sana. Namun tak lama tawanya reda bergantian dahinya mengerut.

"Dasar! sok suci kalian, diajak ke rumah lanang, oke-oke wae. Mana atuh yang katanya mah perempuan itu harus jaga batasan sama laki-laki, heleehhh ... liat laki-laki ganteng ilang dah tu kata-katanya." Tiga orang gadis sudah berdiri mengelilingi tempat Raani dan Aleeta duduk.

"Maaf, kalian ... ngomong sama kita?" balas Raani tersenyum miring.

"Enggak! kita ngomong sama kursi ini."

Raani tertawa sedangkan Aleeta hanya diam. "Yaudah lah ya, kalau kalian mau ngomong sama kursi, sok diaturin, mangga." Menarik tangan Aleeta kemudian hendak melangkah namun tertahan karena salah satu dari mereka menarik ujung jilbab milik Aleeta.

Aleeta meringis sambil menoleh, menatap gadis dengan kacamata bolong tren zaman sekarang dan berkata, "Mau kalian apa?" Dengan suara penuh penekanan.

"JAUHI HABIBI!" Teriakan gadis itu terdengar. "Gue gedeg banget liat lo ya, didekatin Habibi sok suci banget lo. Sok enggak mau padahal mau! jijik banget gue sama lo."

"Asal lo tahu Habibi itu pacar gue! karena lo datang, dia enggak peduli lagi sama gue," ujarnya masih menarik-narik ujung jilbab Aleeta dan kali ini dia tarik bagian atas dengan kuat membuat Aleeta menahannya susah payah.

"Kenapa lo diam? benar 'kan apa yang gue ucapkan?" Diam sejenak sebelum melanjutkan. "Buka jilbab lo, buka! benci gue sama orang sok alim kayak lo!"

Raani & Aleeta ✔(TAHAP REVISI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang