(16) Terlambat

5.4K 323 3
                                    

Sudah direvisi

Assalamualaikum...

***


Aleeta meratapi kursi kosong milik Raani dengan pikiran bertanya-tanya kenapa sang sahabat yang hampir dua minggu itu tidak masuk saat jam terakhir? tak biasanya Raani berani meninggalkan kelas.

Aisyah mendekati dirinya sebelum berpamit pulang, "Al nanti mampir ke rumah yah soalnya Adimas pulang." Senyuman bahagia terukir di bibir tipis Aleeta, "Adimas pulang?"

"Oh yah aku baru ingat, dia juga titip salam sama kamu." Aisyah mengedipkan matanya menggoda Aleeta.

"Apa sih Aisyah." Bahu Aisyah ditepuk pelan, dia merasa malu karena Aisyah terus-terusan menggodanya.

Aisyah terkikik. "Jawab atuh Teh salamnya." Aleeta malu-malu menjawab, "Waalaikumussalam ... buruan pulang sana!" katanya tertawa kemudian.

"I---ya, dah Assalamualaikum."

"Waalaikumussalam."

Sepeninggalan Aisyah di kelas, Aleeta pun melangkah keluar menemui Faisal yany sudah berada di depan gerbang. Mungkin saja di sana nanti dia akan menemui Raani, ya semoga saja.

***

Habibi dan Raani berdiri di balik pohon menunggu Aleeta lewat di sana. Sejak tadi mereka berdua tak hentinya berdebat.

"Seharusnya kita bikin peringatan sama Indah agar dia tidak melakukan apapun pada Aleeta." Raani kembali mencibir.

"Kita harus marah-marah padanya begitu? Padahal dia belum melakukan apapun pada Aleeta ... 'kan enggak baik tuh yang namanya suudzon," sanggah Habibi membuat Raani melotot kearahnya.

"Lagipula, nanti lo salah dengar percakapan mereka," sambungnya.

"Jadi ... kakak pikir aku bolot?" ujar Raani dengan suara meninggi, Habibi terbahak-bahak namun segera menghentikannya karena sosok Aleeta sudah terlihat, gadis itu berjalan menunduk seperti biasanya.
Mereka segera mengambil langkah, menempatkan posisi sekitar 10 meter dari Aleeta.

"Kayaknya lo beneran salah dengar deh. Liat nih enggak ada tanda-tanda indah. Bahkan sesuatu yang mencurigakan pun enggak ada di sini," protes Habibi karena pandangan sekitar mereka tidak tampak mencurigakan.

"Bener deh, ayoo Ran pulang dari sini gue bersedia nemani lo ke dokter THT."

Raani tak terima rasanya, dia berhenti sejenak dan menarik tas Habibi. "Jangan sembarangan ya, Kak. Telingaku normal! Mamaku aja bilang aku enggak ada sakit telinga."

Habibi terbahak-bahak. "Namanya orang tua ya enggak mungkin bilang anaknya penyakitan."

"Maksud Kamu---"

"ALEETAA!!"

Raani dan Habibi sontak menoleh ke asal suara dan betapa kagetnya mereka melihat dua orang itu tersungkur di aspal.

"ALEE ...," teriak Raani berlari sekencang mungkin meski kakinya lemas dan badanya gemetar hebat. Apa yang dia takutkan terjadi. Oh Tuhan ... dia terlambat melindungi Aleeta.

Raani & Aleeta ✔(TAHAP REVISI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang