39. Bukan Akhir.

33.4K 2.3K 337
                                    

    Satya benar-benar di hukum oleh alam, dia yang pergaulannya bebas berubah saat Sarah datang. Dia menjadi setia pada satu perempuan hingga perempuan yang mengubahnya itu hilang tanpa kabar.

Satya tidak bisa lagi bergairah, seolah mati rasa. Satya hanya sibuk bergalau ria selama satu tahun sekolahnya, tanpa ikut nongkrong dan sebagainya.

Satya menarik diri dari sosial yang buruk itu.

Tahun-tahun berikutnya sama hambar, dia hanya sibuk kuliah dan mendapat teman baru yang lebih baik.

Pergaulan bebas benar-benar lepas dari jiwa Satya semenjak dia di pisahkan dengan Sarah.

Bagaimana keadaan Sarah setelah 6 tahun lamanya berpisah?

Satya tidak tahu, dia di larang berhubungan dengan Sarah, bahkan hanya lewat media sosial.

"Lusa terbang ke Milan, ayah kenalin kamu ke rekan bisnis di sana." Revano bersuara lalu menyeka mulutnya dengan tissue.

Satya tidak merespon, menjawab tidak pun dia tetap akan di paksa ikut ke Milan.

Satya menyeka mulutnya, menyudahi makan malam yang tidak pernah dia nikmati itu.

"Kenapa ga di habisin?" Raya bersuara.

Satya hanya meliriknya tanpa menjawab, alasannya karena terlalu malas.

"Soal Sarah—" Revano menjeda, menatap Satya yang langsung bereaksi. "kalian bisa ayah temuin kalau proyek di Milan sukses." lanjutnya.

***

Setelah penantian yang lama, di sinilah Satya berada. Di depan pintu apartemen yang katanya tempat Sarah tinggal.

Dengan jemari gemetar, Satya menekan bel beberapa kali hingga pintu terbuka.

Bukan Sarah, melainkan anak perempuan yang cantik sekali. 

Apa dia tidak salah alamat? 

Tubuh Satya menegang karena pemikirannya, apa anak kecil di depannya anaknya bersama Sarah?

Pemikiran itu pupus saat suara seseorang di belakang Satya terdengar.

"Sabrina, ngapain di situ?"

"Momi!" pekik anak gadis itu pada perempuan yang jelas bukan Sarah.

Di gendongnya anak cantik menggemaskan itu oleh sang ibu. "Mas tamunya mba Sarah? Sebentar saya panggilkan." kata perempuan itu ramah.

Satya masih diam, menunggu dengan jantung yang semakin berpacu cepat.

"Masuk mas, mba Sarah lagi di kamar mandi bantuin Glen mandi, katanya di tunggu sebentar." terangnya seraya membuka lebar pintunya.

"Momi, lapar." Sabrina menarik-narik jemari sang Ibu.

"Iya, ayo makan." Di tatapnya Satya. "katanya mba Sarah, mas tunggu aja di ruang tamu, saya pamit." izinnya yang di angguki Satya.

Satya duduk di sofa dengan alis bertaut serius, Sarah terlalu gegabah menyuruh tamu yang tidak di ketahui masuk dengan mudahnya.

Dan siapa perempuan dan anak manis tadi? Tetangga Sarah?

"Mamah ada tamu dulu, Glen tunggu di kamar aja."

Satya menoleh ke arah suara yang terdengar dari ruang terhalang tembok itu.

Jantung Satya semakin bertalu-talu, suara tadi jelas suara yang tidak asing walau ada sedikit perubahan.

Satya mencoba tenang walau rasanya dia sudah tidak sabar.

"Engga, Glen mau liat tamu mamah siapa."

Mamah? Satya kembali tak karuan saat ngeh dengan panggilan itu. Pikiran Satya semakin aktif.

"Yaudah, ayo. Kita lihat tam—" Sarah mematung, membuat Glen mendongkak dan menatapnya.

"Ada apa, mah?"

Glen menatap pria yang duduk di sofa itu, senyum Glen sontak mengembang. " PAPAH!" serunya nyaring saking senangnya.

Glen berhamburan ke dalam pelukan Satya yang hanya bisa mematung itu. 

Kepalanya seolah di hantam beberapa kali oleh fakta yang tidak bisa dia percaya. Rasanya bagai mimpi.

Glen mengurai pelukan. "Papah kenapa baru pulang, apa kerjanya udah beres? Glen pertama kali liat papah langsung dan Glen langsung tahu." cerocosnya dengan bahagia.

Satya masih tidak bisa bereaksi, tatapannya terpaku pada anak tampan yang begitu mirip dengannya dan Sarah. Perpaduan yang sangat luar biasa pas.

"Papah?" Glen menyentuh sekilas rahang Satya yang tidak di tumbuhi bulu.

Satya mengerjap, kini tatapannya naik pada Sarah yang sibuk menangis. 

"Sayang." suara Satya begitu bergetar, menahan semua yang meluap tak terkendali.

Apa ini mimpi? Satya terus meragukan semuanya.

Sarah bukannya menjawab malah semakin terisak, akhirnya waktu memberikan mereka pertemuan. Pertemuan yang keduanya nanti-nantikan.

***

Satya terus mengulum bibir Sarah dengan tergesa, seolah tidak ada waktu lagi untuk keduanya. Seolah mimpi yang akan berakhir karena terbangun.

Satya semakin tidak terkendali saat Sarah menceritakan semuanya, tentang kehamilannya.

Perpisahan mereka ternyata bukan akhir karena ada bayi yang mengikat mereka walau berjarak.

Nevan berjanji akan membebaskan Sarah bertemu lagi dengan Satya di saat Satya benar-benar memiliki pekerjaan tetap dan usianya siap untuk menikah.

Dan saat inilah waktunya, tak lebih dan kurang. 

Satya sukses dengan pekerjaannya di Milanlah yang mengantarkannya bisa bertemu Sarah dan anaknya yang tampan.

"S-stop, Satya—"

Gairah Anak Muda (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang