1. Adaptasi

227K 6.5K 205
                                    

"Betah di sini ya? Mau apapun, ada apapun bilang ke bunda atau minta tolong ke Satya." tunjuk Raya pada laki - laki dengan sosok menjulang tinggi yang sedang menuruni tangga.

"Iyah, bunda." balas Sarah sopan dan malu - malu.

"Sini, sapa dulu, Sat."

Laki - laki itu berdiri di samping Raya yang artinya di depan Sarah."Satya." sapanya ogah - ogahan.

"Sa-Sarah." balasnya dengan gelagapan, pandangan Satya apa tidak terlalu tajam dan berkilat mesum?

Rasanya Sarah menggigil tidak berani, semoga mereka tidak banyak interaksi. Walau rasanya mustahil karena mereka satu atap.

"Dia itu anaknya tetangga kita yang waktu di Bali, kamu inget?"

Detik itu juga Satya menggeleng."Lupa, kalau ga ada yang penting lagi, Satya pamit, main." setelah itu berlalu begitu saja.

Sarah meringis dalam hati, sepertinya Satya akan menjadi sosok yang akan membuatnya tidak nyaman di sini. Tapi melihat keacuhan Satya membuat Sarah cukup lega.

Sarah juga sebenarnya lupa soal mereka yang bertetangga itu.

"Maafin Satya, ya? Dia emang gitu, pokoknya betah di sini, ya?" Raya menyeret lembut Sarah untuk segera masuk ke kamar barunya.

"Iyah, Sarah pasti betah."

***


Satya menatap Sarah yang sudah memakai piyama tidur motif panda. Mungkin kedua orang tuanya sudah tidur, makanya Sarah yang buka pintu.

"Ngapain berdiri di sana? Minggir!" bentaknya dengan tidak suka.

Sarah menutup hidungnya saat Satya melewatinya, ternyata Satya minum minuman beralkohol. Sarah tahu wanginya karena dia sempat di tawari temannya saat di Bali.

Alasan Sarah pindah ke sini pun agar terhindar dari pergaulan bebas teman-temannya yang kebanyakan bule atau belasteran, hanya dia yang asli Indonesia.

Tapi ternyata, pergaulan bebas tak hanya di Bali yang banyak bulenya. Di sini pun masih ada yang mabuk-mabukan. Haruskah dia pulang? Percuma di sini yang katanya di sini itu jauh dari pergaulan bebas.

"Lo mau bermalam sama nyamuk? Tutup pintunya, bego!"

Sarah tersentak kaget lalu buru-buru menutup dan mengunci pintu utama, setelah itu melangkah cepat menuju kamarnya tanpa peduli dengan Satya yang berada di dapur.

***

"Ayah berangkat jam 3 pagi, maaf katanya ga pamit." Raya membuka percakapan pagi setelah Satya dan Sarah duduk di kursi meja makan.

"Udah biasa." Satya membalasnya acuh tak acuh.

"Jangan marah, ayah kerja juga untuk kita." Raya mengusap kepala Satya sekilas.

Satya tersenyum miring, mencemooh ucapan bundanya itu."Jangan terlalu percaya, bun. Ayah bisa aja ada cewek lain, jangan terus tutup mata." mood sarapan pun lenyap.

"Ga boleh sembarangan." Raya berseru tidak suka.

Satya memutuskan meraih kasar tasnya, dia memilih tidak sarapan dari pada melanjutkan obrolan yang akan berakhir pertengkaran itu.

Sarah yang sedari tadi sibuk menunduk dengan roti sudah di gigit itu mendongkak, menatap kepergian Satya.

"Kamu bareng sama Sarah, Satya! Jangan terus pancing emosi, bunda!" serunya dengan menahan kesal dan juga luka.

Ucapan Satya memang tidak ada yang salah.

***

Sarah menahan nafas, Satya yang mendekat dan menggigit roti bekasnya itu jelas membuatnya kaget.

"Berdua, gue belum sarapan." ujarnya dengan masih berjarak dekat.

Satya mengarahkan roti itu ke mulut Sarah, refleks Sarah menggigitnya dengan kaku. Terus begitu hingga roti terakhir di makan Satya, di sertai jilatan di jemarinya.

Sarah membolakan kedua mata, tubuhnya semakin menegang, wajahnya kaku, syok dan juga cemas dalam waktu bersamaan.

"Pake sabuk pengamannya, jangan bengong kayak orang bego!"

Sarah dengan cepat dan salah tingkah memasang sabuk pengamannya lalu duduk dengan tegang.

***

"Ruang guru di ujung sana, cari sendiri." Satya berbelok tanpa memperdulikan Sarah.

Sarah mengedarkan tatapannya, para murid yang sudah ada di sekolah jelas melirik padanya yang belum memakai seragam.

Apalagi Sarah turun dari mobil dan berjalan bersama Satya.

Dengan cemas, Sarah melewati mereka. Langkahnya kian cepat dengan kedua mata fokus mencari ruang guru.

"Ini dia." gumamnya lalu masuk, mengucapkan salam dan menghampiri satu guru yang menyuruhnya menghadap.

"Ini seragamnya dan ini kelas baru kamu, semoga betah sekolah di sini ya." kata Dita, guru yang akan menjadi wali kelasnya.

"Iyah, bu. Makasih bu."

***

Seragam barunya sudah melekat pada tubuh ramping Sarah, dengan canggung Sarah mencari kelas dan masuk ke dalam kelasnya.

Suara siswa-siswi langsung menyapa, begitu berisik dengan pemandangan kelas yang sudah berantakan padahal masih pagi.

Sarah merasakan perbedaan, mungkin karena sekarang dia berada di sekolah umum biasa bukan internasional seperti sebelumnya.

"Eh.. Eh.. Ada murid baru, woy!" teriak salah satu siswa yang tengah sibuk bermain bola plastik itu.

Para siswi yang sibuk berdandan terlihat menghentikan gerakannya, siswa yang tengah mojok dengan di temani ponsel mendongkak, siswa maupun siswi yang tengah menyalin tugas pun mendongkak.

Sarah sontak menciut, semua mata tertuju padanya yang mematung di ambang pintu.

Sarah bingung harus bagaimana, begitu canggung.

"Masuk, sayang."

Sarah tersentak begitu kagetnya, bisikan di telinga dan lilitan tangan dari belakang ke perutnya membuat Sarah semakin menegang.

Kelas semakin hening...

Satya mendorong pelan Sarah dengan posisi yang tidak berubah, menyeretnya menuju kursi belakang yang sering dia tempati sendiri.

"Duduk di sini, bareng gue." bisiknya yang membuat Sarah menahan nafas, tubuhnya meremang aneh.

Riko— teman Satya yang sedari tadi mengekor hanya tersenyum samar. Dia sudah tahu soal anak baru yang tinggal di rumah Satya itu.

"Minggir!" usir Riko pada siswa yang duduk di depan meja Satya itu.

Dengan tidak berdebat, siswa itu pindah ke kursi lain.

Sarah menarik nafas lega saat Satya sudah berjarak darinya. Tatapan Sarah mengedar, semua mata masih menatapnya walau tidak lama karena takut pada Satya mungkin?


Gairah Anak Muda (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang