6. Memulai

89.3K 3.9K 165
                                    

     Sarah menatap kartu identitas milik Satya yang terongok di meja dekat televisi itu. Alisnya bertaut, ternyata Satya beda satu tahun dengannya. Tapi kenapa berada di kelas yang sama?

"Ganteng?"

Sarah terkejut di duduknya, menoleh cepat ke arah Satya yang berdiri di belakang sofa dengan tanpa atasan.

"Ha?" beonya salah tingkah.

Satya meraih kartu itu, membawa langkahnya ke dapur. Tak lama perempuan yang di bawa Satya turun.

"Gue pulang, di anterin ga?" tanya Maya dengan bergelayut di lengan Satya.

Satya membawa langkahnya ke sofa yang jadi tempat Sarah, detik itu juga Sarah beranjak untuk menghindar dari keduanya.

"Kemana? Ga ada yang nyuruh lo pergi!"

Sarah mendadak tuli, langkahnya semakin cepat menaiki tangga dan apesnya dia terpeleset dan jatuh hingga sebelah kakinya tergores sesuatu dan berdarah.

Satya berlari, mengabaikan panggilan Maya.

"GUE BILANG-"

"SAKIT! Ngapain lo ngamuk!" potong Sarah dengan sama membentak, bahkan untuk pertama kalinya berlo - gue dengan Satya.

Satya menatap kedua mata yang basah dan berkilat sakit terselipi emosi itu dengan datar.

Tanpa banyak kata, Satya menggendong Sarah. Sebelumnya Satya menoleh ke arah Maya yang cemberut.

"Lo minta supir gue atau cari taksi, biaya gue transfer nanti."

***

"Anterin dia, jadi cowok harus tanggung jawab." kata Sarah saat tubuhnya sudah menyentuh kasur.

Satya tidak peduli, dia lebih fokus pada darah yang terus keluar itu.

"Ud-"

"Berisik! Lo mingkem atau gue bikin bibir lo berdarah juga!" amuknya dengan kesal.

Sarah menghela nafas sabar, percuma berdebat dengan si batu Satya. Sarah yang pastinya akan berakhir lelah dan kalah.

Satya mengusap darah itu dengan tissue basah antiseptik, membersihkannya dengan telaten. Mengobatinya tanpa peduli dengan Sarah yang terus meringis sakit, meminta berhenti dan sebagainya.

Satya merapihkan kotak obat itu lalu duduk dengan menatap Sarah dengan pandangan yang tidak terbaca.

Lama - kelamaan, Sarah jadi salah tingkah di tatap seperti itu."A-apa?" tanyanya gugup.

Satya mendekat, mengecup bibir Sarah cukup lama lalu beranjak meninggalkan kamar Sarah tanpa kata.

Sarah menelan ludah, tangannya refleks mengusap dada yang berdebar tak karuan itu.

***

Satya memesan makanan seadanya, dia tidak tahu makanan kesukaan Sarah selain Chiken dan mie ayam. Jadi, dia memutuskan untuk membeli chiken paket spesial dan satu botol cola - cola.

Sarah turun dari tangga dengan pandangan mengedar, mencari Raya yang lagi - lagi belum sampai di rumah.

"Bunda telat, katanya jam 8 malem baru pulang." Satya menyambut Sarah dengan senyum tipis dan tangan terulur.

Gairah Anak Muda (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang