11. Mine

64.4K 2.3K 35
                                    

       Sayup - sayup mata Sarah mulai menutup, kantuk terasa berat di kedua matanya. Suara dari film dan obrolan sahabat - sahabat Satya tidak lagi utuh menyapa telinganya.

Satya mengalungkan lengannya ke leher Sarah, mengajaknya untuk merapat dan bersandar.

Satya kembali bermain ponsel, game perang di tangannya terlihat seru namun mengantar Sarah untuk segera terpejam.

Sarah mulai terlelap dalam posisi nyaman itu. Satya pun mulai kembali hanyut dalam game itu.

Jeprett..

Satya mendongkak, suara kamera ponsel membuat fokusnya pecah. Tersangka yang memfotonya dan Sarah adalah Riko.

"Ngapain?" Satya menautkan alisnya lalu berdecak pelan.

"Bahan gibahin lo di grup." alis Riko naik turun lalu menyenggol bahu Ado, keduanya tertawa pelan.

"Cewek spesialnya Satya." ledek Aldi yang mengundang tawa Ado dan Riko.

"Hu'um, ga sekali pakai." tambah Ado sembari cekikikan.

Satya masih menatap ponselnya."Dia bukan barang sekali pakai, dia lebih dari spesial. Dia bukan jalang." balasnya acuh.

"WOOO ~ " beo ketiganya dengan semakin semangat menggoda Satya di bandingkan menatap film yang di putar di depan mereka.

***

Sarah merasakan kebas di sebelah tubuhnya, beban berat pun terasa di sebagian tubuhnya.

Kedua matanya perlahan terbuka, gelap menyapa, hanya cahaya televisi yang menyinari keduanya.

Sarah berusaha menggeliat, Satya terlalu erat memeluk dan terlalu banyak membebankan tubuhnya pada Sarah.

Sarah mendengus pelan, dia bukan guling. Rasanya sungguh sesak.

"Kenapa?" Perlahan Satya membuka matanya, mengangkat beban tubuhnya tanpa melepaskan pelukan.

"Sesak, sama kebas." aku Sarah pelan dengan tidak berani menatap Satya. Dia sedang kacau, takutnya iler dan kotoran mata berkerak di wajahnya.

Satya memposisikan tubuh Sarah menjadi tengkurap di atasnya."Sofanya sempit, gini aja. Mau gue bangunin ga tega, tanggung, nginep dulu aja, oke?"

Dengan wajah merona Sarah mengangguk.

"Mau minum? Makan?" tawar Satya seraya menghirup dan mengecup leher Sarah.

Sarah meremas kaos Satya dengan kedua mata terpejam kuat, hisapan dan remasan tangan Satya di bokongnya membuat Sarah panas dingin.

"Janganh gini— ada sahabat—emh.." Sarah menekan mulutnya dengan telapak tangan saat tangan Satya masuk dan menyapa miliknya.

Sarah menggeleng kuat, menahan jemari ahli itu dengan gelisah. Rasa yang membuatnya gila. Tak lama, Satya menarik tangannya dengan senyum tipis yang mengembang.

Nafas Sarah yang memburu, perutnya yang berkedut bisa Satya rasakan. Di usapnya punggung Sarah dengan gemas dan penuh kasih sayang. Seolah ayah yang memeluk anak balitanya.

"Mine, Sarah." bisik Satya.

***

"Cowok cuek itu bukan ga normal." Sahaya berkomentar dengan tenang, mengaduk baksonya teratur.

"Terus? Jual mahal?" balas Anata dengan sama, fokusnya mengaduk bakso.

"Bisa jadi dia udah punya cewek yang sempurna, jadi ga butuh cewek lain dan ga gatel ke cewek lain."

Anata mendengus."Sombong sih iyah, sakit banget saat gue di tolak tadi." bibirnya mengerucut.

Sahaya tertawa geli."Makanya, jadi cewek itu ga usah gatel. Harusnya di sapa bukan menyapa." balasnya puas.

"Abis cuek - cuek bebek gitu, gue jelas harus bertindak."

Kedua gadis yang tengah liburan itu mendadak sibuk membicarakan Satya.

Anata di tolak tanpa berpikir oleh Satya. Sapaan gadis cantik itu di respon angin lalu oleh Satya. Kasihan, dia benar - benar menghancurkan mood Anata.

Satya yang sudah beres memesan pesanannya dan membayarnya pun berlalu santai, melewati dua gadis itu dengan acuhnya.

Anata melongo dengan semakin kesal."Gue harap ga akan ketemu tu cowok sombong lagi!" serunya penuh emosi.

Sahaya tertawa renyah di sebrangnya.

"Gue yakin, tu cowok udah punya cewek yang mantep."

***


Gairah Anak Muda (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang