14. Ga kuat

57.9K 2.8K 105
                                    

    Satya mengalah, dia memang ingin merasakan apa itu hubungan sehat. Tapi, kalau kebelet ya beda lagi. Masa iya dia jajan ke tempat lain. Urusan itu biar nanti saja, putusnya.

Bajingan memang... Ck.. Ck..

Sarah tersenyum cerah, rasanya hampir lupa bagaimana tersenyum secerah itu. Sebelum bertemu Satya sih sering, apalagi saat kumpul bersama sahabat.

"Makasih." Sarah mengusap jemari Satya yang menggenggam sebelah tangannya itu.

Satya berdehem pelan, melipat bibirnya yang hendak mengembang tidak terkendali itu. Bibir berkedut menahan senyum itu berubah datar. Agak gengsi, mengakui kalau saat ini banyak sekali kupu-kupu berterbangan.

Hanya karena senyuman lepas Sarah?

"Mau jalan dulu?" tanyanya acuh tak acuh.

Sarah mengangguk. "Nonton ke bioskop? Jalan di taman? Atau danau? Atau nongkrong di cafe? Atau balik lagi ke tempat tadi?" tanyanya dengan semangat. Jiwa yang sempat mendung itu kembali ceria. Khas Sarah yang tidak Satya tahu.

Satya menatap Sarah lekat, ternyata sikap Sarah yang penurut, terkesan murahan, selalu menerima apapun yang dia lakukan itu membuat jiwa Sarah tidak nyaman di dekatnya.

Satya baru tahu kalau Sarah memiliki sisi lain yang secerah mentari. Jiwa Satya sontak penasaran, apakah ada kejutan lain nanti?

Satya akan memcoba untuk membuat Sarah nyaman. Namun sial, bibirnya tidak bisa di ajak kompromi.

"Ke hotel." balas Satya yang langsung mengerang kesal pada dirinya sendiri, padahal dia hanya berucap dalam hati namun ternyata tanpa sadar di suarakan.

Sarah terdiam tanpa ekspresi.

Satya terkekeh canggung nan geli. "Canda, kita ke danau sambil makan cemilan atau pasta." ajaknya.

Sarah mengangguk, wajahnya kembali ceria. "Jagung bakar kayaknya enak." sarannya.

Satya mengangguk. "Boleh, kita beli di persimpangan depan." balasnya.

Mobil Satya pun membelah jalanan dengan tenang, sesekali mereka mengobrol dengan santai.

Itu baru anak remaja, yang harusnya sibuk bercanda ria, bukannya sibuk bergelung di atas kasur dengan dosa yang kian menggunung. Masih beruntung tidak bunting.

***

Satya mengeratkan pegangannya di stir kemudi, Sarah sedang sibuk di luar mobil untuk membeli jagung bakar.

Satya membuka perlahan kedua matanya, mencoba melihat sekitar agar bayangan seks dengan Sarah pergi dari pikiran kotornya.

Melihat kehangatan Sarah, melihat bagaimana perempuan itu tersenyum lepas. Rasanya gila, benar-benar gila.

"Kenapa? Pusing?" tanya Sarah saat melihat Satya menggeleng-gelengkan kepala.

Satya menggeleng dengan senyum tipis, bahkan hampir tidak terlihat. Satya meraih jemari Sarah, memainkannya.

Sarah yang berdiri di luar mobil samping Satya, terlihat asyik menatap jagung bakar itu.

Satya mengecup jemari lentik nan cantik itu, membuat Sarah menoleh dengan kedua pipi yang bersemu.

"Sini, gue bisikin." Satya menarik jemari itu pelan, membuat Sarah menunduk dan mendekat.

"Malem ini, sekali aja, abis itu gue libur, hm?" pintanya dengan pandangan memelas yang di buat-buat.

Sarah menelan ludah, tiba-tiba gugup. "Ke-kenapa bahas di sini? Kita lagi di pinggir jalan." jawabnya dengan salah tingkah.

"Ga kuat."

Sarah melotot sesaat, bisa-bisanya si otak selangkangan itu jujur dengan lantang dan polos, seolah perbuatan mereka bukanlah dosa besar.

"Mau jagungnya ya, mas. Sabar, sebentar lagi mateng." suara si penjual jagung dengan logat jawa itu menyapa Satya.

Satya mendengus samar, kuping bapak setengah abad itu sungguh tajam. Padahal ada jarak di antara mereka.

Gairah Anak Muda (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang