9. Deal?

85.6K 3.1K 112
                                    


     Satya melirik Sarah dari atas ke bawah. Tatapannya naik, menatap Sarah yang sibuk membuat jus apel itu.

"Diet lagi?" Satya mendengus pelan. "sebelah mana yang mau di kecilin? Dada lo?" ceplosnya yang membuat Sarah melotot kaget mendengarnya.

"gue benci sama cewek yang suka diet, mereka ga punya rasa syukur karena di kasih uang lebih buat makan, mereka juga ga bersyukur sama tubuh yang tuhan kasih." sambungnya dengan acuh tak acuh.

"Cowok jadi alasan kenapa para perempuan kadang ga bersyukur, kebanyakan dari cowok-cowok maunya punya cewek cantik dengan body goals. Biar apa? Biar ga malu di bawa-bawakan?" balas Sarah agak ngegas.

Satya tersenyum miring. "Udah berani sekarang, hm?" bukannya marah, Satya justru merasa geli dan senang karena Sarah mulai terbiasa di sampingnya, bahkan menunjukan sikap aslinya.

Sarah melipat bibirnya, merasa menyesal merespon omong kosong Satya. Jus apel itu sudah selesai dia buat. Tanpa kata Sarah berlalu, berjalan pelan.

Satya meliriknya acuh, mulai kembali fokus untuk membuat susu yang di buat khusus untuk membantu membuat otot.

"Apa gue juga ga bersyukur? Gue muak sama perut bayi yang buncit ini." gumamnya geli.

Manusia memang selalu begitu, menasehati orang lain yang tanpa di sadari, dirinya sendiri masih perlu di nasehati.

Ilmu obor, yang artinya, menerangi orang lain tapi diri sendiri gelap.

Satya mengangkat bahunya acuh soal itu.

"Biar Sarah betah, gue bentuk tubuh gue kaya idolanya itu." gumamnya.

***

Sarah melirik Satya yang masuk ke dalam kamar hotel dengan satu gelas susu coklat di tangannya.

"Apa?" tanya Satya sebelum duduk di samping Sarah.

Sarah yang sedari tadi menatap Satya sontak berpaling. "Apanya yang apa?" balasnya pelan.

"Enak jusnya?" tanya Satya mengabaikan pertanyaan yang pertama.

Sarah mengangguk, menyesapnya sedikit. "Enak, itu susu coklat?" tunjuknya pada gelas Satya.

"Hm, buat bentuk otot." senyum usil terbit. "biar lo betah." lanjutnya yang membuat wajah Sarah memerah.

Sarah memalingkan pandangannya ke depan televisi dengan merasakan wajah yang panas.

"Cih! Salah tingkah." kekehnya geli.

Sarah menekuk wajahnya bete.

Satya meraih leher Sarah, memeluknya lalu mengecup kepala Sarah singkat.

"Anunya udah sembuh belum?" bisik Satya yang membuat Sarah semakin dag dig dug.

"Ke-kenapa tanya?" gagap Sarah.

"Ka-karena lagi mau." jawab Satya dengan meniru kegagapan Sarah.

Sarah memejamkan matanya sekilas. "Kesalahan waktu itu—"

"Itu jelas bukan kesalahan, kita sama-sama mau." potong Satya dengan menekuk wajah tidak suka.

Sarah menunduk di dalam rangkulan Satya itu. "Perbuatan itu—itu salahkan? Ga boleh. Aku ke sini buat ngehindar dari pergaulan bebas, seks bebas. Aku ga mau terjebak, cukup satu kali waktu itu." terangnya dengan masih menunduk.

Gairah Anak Muda (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang