23. Hot Push Up

45K 2.2K 51
                                    

     Satya tampak sibuk dengan ponselnya. Kabar soal adik Bayu yang di hamili olehnya ternyata sudah mulai tersebar luas.

"Anj*ng!" geram Satya dengan masih terus mengetik sebuah pesan pada Ciko, anak buah ayahnya yang membantu Satya menyelidiki semuanya.

Kabar kehamilan itu bahkan sudah sampai pada ayahnya dan beruntung ayahnya tidak langsung percaya.

"Ada Riko di bawah." Sarah berdiri di ambang pintu sebelum menghampiri Satya dan memperiksa suhu tubuhnya.

"Gue sembuh." ketus Satya seraya menepis tangan Sarah di keningnya.

Wajah Satya terlihat kusut, moodnya sedang tidak bagus.

"Tapi masih anget, suruh Riko ke sini aja ya?"

Satya kembali bermain ponsel."Terserah." balasnya dengan wajah di tekuk masam.

Sarah menghela nafas pelan, sudah dua hari Satya begini. Sarah harus sabar.

Sarah menghampiri Riko."Ke atas aja, Satya masih belum sepenuhnya pulih." jelasnya.

Riko mengangguk, membawa langkahnya ke kamar Satya.

"Ngapain?" Satya bersuara dengan tanpa menatap lawan bicara.

Riko yang baru sampai tak lupa menutup pintu."Bayu dateng ke markas, cari lo tadi." jelasnya sebelum duduk di dekat Satya.

"Kenapa harus ke sini? Telepon bisakan?"

Riko mendengus."Jahat banget lo sama gue." Riko berdehem pelan."gue mau jujur." terlihat sekali kalau Riko mulai gugup.

Satya menatap Riko dengan serius."Jujur? Soal?" tanyanya.

Riko menelan ludah."Sebenernya—gue sama Adila pacaran, sebelum dia sering main sama lo. Gue sama kayak lo, pake dia buat seneng - seneng. Tapi kayaknya, anak dalam kandungannya anak gue. Gue lupa pake udah 3 kali." akunya walau tidak yakin.

Resiko main dengan banyak laki - laki ya begitu. Entah siapa yang harus bertanggung jawab.

Satya mengepalkan tangannya."Udah gue duga! Gue ga buta liat lo yang sering mepet Adila!" geramnya karena merasa di bohongi hanya karena dia suka main dengan Adila?

Apes sekali.

"Gue di suruh dia, gue yang tahu dia banyak cowoknya ya gue oke aja." Riko menunduk."gue nolak tanggung jawab, makanya Adila cari cara lewat abangnya. Gue ga tahu dia bakalan seret lo, Sat." terangnya.

Satya menghela nafas lega, walau kesal masih ada. Ternyata semua kerumitan ini berasal dari sahabat terdekatnya.

"Lo udah ciptain nyawa, bro. Sebrengseknya gue, gue tetep bakalan tanggung jawab kalau bener itu darah daging gue."

Riko menunduk, keduanya saling menyemangati dan mencari solusi untuk ke depannya.

***

3 hari sudah berlalu, Satya sudah kembali seperti biasa bahkan kini tengah olah raga pagi.

"Jangan terlalu berat, kamu baru sembuh." Sarah muncul dengan nampan di tangannya untuk Satya lalu di simpannya di nakas.

Satya yang hendak push up kembali berdiri."Tidur di bawah." perintahnya santai.

Sarah mengerjap."Ha? Aku? Tidur di bawah? Ngapain?" tanyanya tidak berjeda.

"Tidur aja, cepet." titahnya agak memaksa.

Sarah dengan kebingungan pada akhirnya rebahan, Satya tersenyum puas lalu memposisikan diri untuk push up di atas tubuh Sarah.

Sarah sontak merona, olah raga yang begitu panas pikirnya. Sarah bahkan menggigit bibirnya karena gugup dan berdebar.

"Hitungin, bukan kayak terangsang gitu." Satya mengecup ujung bibir Sarah setelahnya.

Sarah ingin marah namun malah menciut saat Satya mulai bergerak lagi.

Push up macam apa ini? Sarah jantungnya semakin berdebar dan mulai berkeringat.

"Sa-satu... Dua... Ti—ga.." Sarah bahkan sesekali menahan nafas saat Satya tidak sengaja menyentuhkan wajahnya ke pipi, leher atau bahu Sarah.

Satya berhenti push up, malah membiarkan beban tubuhnya menindih Sarah.

Satya meraih bibir Sarah, mengulumnya penuh penghayatan. Satya sudah cukup lama rasanya tidak menyentuh Sarah.

"Masalah adik Bayu yang hamil belum beres, hibur gue, Sarah." bisiknya sebelum kembali mengulum bibir yang semakin berisi itu.

Sarah menahan tubuh Satya."Emh—bukannya itu ulah Riko?" tanyanya dengan berusaha melepas pagutan Satya.

Satya berdecak."Jangan bahas orang lain, bahas soal kita aja. Gue mau sentuh pacar gue yang mulai berani ngebantah ini." gemasnya seraya melancarkan aksi dengan mengecup wajah dan leher Sarah acak hingga Sarah kegelian.

"STOP!" pekik Sarah dengan sesekali tertawa."bukannya mau jalan? Ini hari minggu." lanjut Sarah dengan terus menggeliat.

Ah iyah, dia hampir saja lupa. Satya membawa tubuhnya duduk, dia harus melaksanakan hubungan sehat sialan itu lagi!

Mau tidak mau ya harus mau.

Gairah Anak Muda (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang