22. Sandaran.

27.9K 2.1K 96
                                    

        Sarah membuka P3K itu dengan menekuk wajahnya marah. Satya yang dia pikir tidak lagi baku hantam nyatanya kini melakukannya lagi. Sarah tidak suka kekerasan.

"Gue lagi marah, jangan pasang wajah kayak gitu! Gue bisa hilang kendali, Sarah." Satya terlihat sama kusutnya dengan Sarah.

Aura mereka sungguh gelap, segelap malam ini yang kini menunjukan pukul 23.51.

"Kenapa harus kekerasan?" Sarah mendatarkan ekspresinya dan mulai mengobati luka di pipi kiri.

"Dia bukan cewek, yang bisa gue serang di ranjang."

Sarah menatap Satya kesal."Jadi kalau cewek bakalan di bawa ke ranjang? Walau bukan pacar kamu?" tanyanya dengan wajah di tekuk.

Satya tersenyum keren."Bisa cemburu juga ternyata. Udah cinta sama gue?" tanyanya mengalihkan topik.

Sarah menghela nafas pendek, dia tidak akan merespon. Sarah kembali meraih kapas baru, kini giliran luka di sudut bibir Satya.

"Emang anj*ng si Bayu! Gue jadi harus libur ciuman sama lo gara - gara bibir sobek."

Sarah melotot sesaat dengan wajah merona."Jangan mesum! Makanya kalau ga mau gitu ya jaga diri!" semprotnya.

"Iyah, Sayang."

Sarah mendengus, tatapannya beralih pada lengan Satya yang berdarah - darah.

"ASTAGA!" pekik Sarah yang sempat membuat Satya kaget.

"Apaan sih!" Satya menautkan alisnya kesal.

"Ini! Berdarah parah—" Sarah mencari luka lain, ada di lutut dan di sebelah telapak kaki Satya."buka baju!"

Satya menelan ludah, darahnya berdesir saat mendengar permintaan Sarah. Satya membuka pakaiannya bahkan hendak bersama boxernya namun Sarah tahan.

"Punya kamu yang murahan itu jangan di liatin!"

Satya terlihat marah."Murahan?" tanyanya tak percaya dengan hinaan itu.

Sarah mengangguk."Belum di apa - apain udah kembung kayak gitu!" balasnya santai dengan fokus mencari luka lain.

Satya memejamkan matanya, menggigit bibirnya saat melihat Sarah berjongkok untuk mengobati luka di lutut dan di tulang kering.

Satya tidak bisa marah lagi karena miliknya memang murahan. Hanya melihat Sarah jongkok saja sudah mengeras.

***

Satya demam, mungkin karena lukanya yang kata dokter terinfeksi.

"Makan dulu, terus minum obat." Sarah menyuapi Satya dengan telaten.

Satya yang sakit terlihat lebih damai, tidak banyak tingkah apalagi bertingkah mesum.

Satya tidak mendebat, menerima semua perintah Sarah yang pasti demi kebaikannya itu.

"Ada pesan masuk, nomor yang ga di kenal—" Sarah menjeda ucapannya."katanya, dia hamil—anak kamu." lanjutnya dengan menatap dan mengaduk bubur di pangkuan.

"Lo percaya?" suara Satya terdengar lemah, kedua matanya tampak sayu.

Sarah menggeleng walau ragu jelas bergelantungan. Sarah tidak heran kalau mendapat berita seperti itu. Sepak terjang Satya di dunia ranjang bukankah sudah tidak terhitung? Entah dia yang ke berapa, apa mungkin menjadi yang terakhir?

"Lo ragu." Satya memilih meraih bubur itu dan memakannya hingga habis.

Satya jelas ingin sembuh cepat, dia tidak suka sakit. Satya tidak suka menjadi lemah.

"Aku—"

"Gimana demamnya?" suara Raya muncul di ambang pintu dengan langkah terus terayun mendekati Satya yang tengah berbaring.

"Masih demam bun." jawab Sarah.

Satya menyimpan mangkuk bubur itu, meraih segelas air lalu meminum obatnya yang sudah di siapkan Sarah tanpa peduli pertanyaan Raya yang pasti Sarah sahuti itu.

"Kenapa bisa luka?" Raya terlihat khawatir.

Satya menatap sang bunda dengan datar."Ayah ga jadi pulang?" tanyanya mengalihkan topik.

Raya terdiam sesaat."Ayah ada kerjaan tambahan, jadi—"

"Jangan terlalu percaya, bun. Ayah pasti sama simpanannya." potong Satya dengan rahang mengeras."mau sampai kapan bunda siksa diri bunda demi Satya yang ga baik sama bunda! Satya muak!" lanjutnya tanpa peduli dengan pening yang menyapa.

Masalahnya semakin bertambah dengan kabar kehamilan tidak jelas itu, membuat Satya hilang kendali.

"Bunda bersih - bersih dulu, jagain Satya ya Sarah." di usapnya kepala Sarah lalu berlalu tanpa menghiraukan kicauan Satya.

Nafas panas Satya memburu, tangannya terkepal dengan menatap tajam ke pergian Raya.

Sarah mengusap kepalan itu sekilas, memperiksa demam Satya yang masih tinggi itu.

Satya beralih menatap Sarah, emosinya perlahan menguap. Kepalanya dia sandarkan di dada Sarah.

Sarah pun memeluknya, mengusap kepala itu dengan perhatian. Sarah tidak tahu masalah Raya dan Satya di awali dari apa dan kapan.

Sarah hanya bisa memberi sandaran agar Satya tenang.

"Cepet sembuh, Satya." ucap Sarah dengan tulus."jangan pikirin apapun, aku percaya kalau kamu ga akan gegabah apalagi sampe hamilin perempuan dan soal tadi, aku ga akan tanya - tanya."

Satya sesaat sangat bersyukur karena ada Sarah di sampingnya, membuat barang - barang di kamarnya aman dan tidak terbang karena dia banting dan lempar.

Gairah Anak Muda (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang