10. Mulai penasaran

60.3K 2.3K 13
                                    

"Yakin ga mandi dulu? Kita abis perang, ada yang basahkan?" Satya masih setia mengekor di belakang Sarah yang wajahnya kembali memerah itu.

"Ga ada yang basah!" semprotnya dengan emosi plus malu.

Satya mencolek punggung Sarah."Becanda, lo masih tetep harus mandi. Bangun tidur masa langsung nongkrong, jigong lo bisa bikin angin tercemar, sayang." kekehnya di akhir.

Sarah tidak merespon, semakin hari ternyata Satya semakin menyebalkan. Keacuhan, kekerenan dan sikapnya yang dingin itu lenyap.

"Gue tunggu di sofa, mandi dulu." di tepuknya lembut kepala Sarah sebanyak dua kali lalu berlalu.

Sarah tanpa di suruh pun akan mandi, dia tidak bangga dengan bau percintaan di tubuhnya itu!

Dengan wajah di tekuk dan bibir misuh - misuh, Sarah melangkah kesal ke kamar mandi.

Satya bersantai di sofa dengan di temani gawai mahalnya itu. Pemesanan ganja pun di batalkan, sebagai gantinya dia akan tetap membayar tanpa mengambil barang.

Obat penenang terbaiknya saat ini adalah Sarah.

Senyum Satya mengembang walau tidak terlalu lebar.

***

"Lama bener keluar dari kandang, gue pikir kalian berdua pulang duluan kayak si Akram sama calonnya." sindir Riko dengan acuh tak acuh.

Ado melirik keduanya bergantian."Kalian ML?" tanyanya yang membuat Sarah tegang di tempatnya.

"Ga, kita ke asyikan nonton terus tidur." jawab Satya cuek dengan tatapan masih fokus pada sekitarnya.

"Di sini aja makan - makannya, langit mendung banget, kayaknya bakalan turun hujan." kata Ado mengabaikan soal pertanyaannya sendiri dan mengganti topik lain.

Aldi mengangguk setuju."Ide bagus, suruh orang beliin bahannya aja. Gojek aja." tambahnya.

Sarah yang masih agak tegang itu duduk di samping Satya yang sudah siap meraih satu gelas sloki.

"Alkohol?" Sarah menahan lengan jaket Satya.

Satya menarik tangannya, dia hampir lupa soal perjanjiannya dengan Sarah. Padahal dia sedang ingin minum, sedikit. Hitung - hitung untuk menghangatkan tubuh.

"Kenapa?" tanya Aldi.

Riko dan Ado melirik gelagat Satya dan Sarah yang berucap tadi.

"Kenapa? Apanya?" balik Satya dengan santai, menatap para sahabatnya datar.

"Alkohol? Sarah, lo larang Satya minum?" Riko beralih pada Sarah yang menunduk kini.

Ado dan Aldi beralih pada Sarah.

Sarah menelan ludah."A-anu, ta-takutnya Satya mabuk terus bikin ulah. Ki-kita satu ruangan soalnya." jelasnya dengan gelagapan dan salah tingkah.

Rasanya Sarah bisa gila saat semua mata sahabat Satya menatap ke arahnya dengan penuh selidik itu.

"Bener sih, dia bahaya. Gairah binatang." Ado berucap jenaka yang mengundang tawa Aldi dan Riko.

Satya tidak merespon selain menatap langit yang begitu gelap."Kita beli jadi aja, bakar - bakaran di sini pasti ga akan bener. Anginnya gede."

Semua beralih menatap langit dan sekitar yang tertiup angin.

Aldi menepuk bahu Riko beberapa kali."Bener, cepet pesen sekarang sebelum mereka ga mau karena hujannya gede." titahnya.

Ado mematikan rokoknya lalu membuka ponsel."Gue juga ikut bantu pesen, cemilan dan lo, Ko. Makan buat malem aja." titahnya yang di angguki Riko.

Aldi beranjak, menyiapkan keperluan di dapur dan beberapa minuman. Sedangkan Sarah hanya mengamati mereka dengan bingung, ingin membantu tapi ragu memulai.

"Diem aja, punya kamu masih sakit." bisik Satya lalu beranjak untuk membantu Aldi.

Sarah bersemu, mengusap pipinya sekilas lalu menyisir rambutnya yang tertiup angin.

Aldi melirik Sarah yang sendirian di balkon itu."Bawa masuk, angin makin gede." di lemparnya kode pada Satya agar mengajak Sarah masuk.

Satya melirik Sarah yang sibuk merapihkan rambutnya yang tertiup angin. Langkahnya sontak menghampiri Sarah.

Sarah menatap uluran tangan Satya sekilas sebelum menyambutnya lalu berdiri dan melangkah masuk.

"Tunggu di sini." di kecupnya gemas puncak kepala Sarah lalu berlalu untuk kembali membantu.

Sarah yang tersipu sesekali melirik Satya, melihat bagaimana ekspresinya berubah, melihat bagaimana suaranya mengalun saat membalas obrolan sahabatnya. Semua gerak - gerik Satya menculik seluruh perhatian Sarah.

Satya menoleh saat merasakan seseorang memperhatikannya, detik selanjutnya melempar senyum keren sebagai respon dari tertangkap basahnya Sarah yang memperhatikannya.

Rencana liburannya gagal sebagian, seperti tidak bisa naik wahana air karena cuaca yang buruk. Tidak bisa belanja lama juga.

Tapi, mereka tetap bersyukur karena masih bisa berlibur bersama.






Gairah Anak Muda (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang