29. Kesayangan Satya

25.4K 2.2K 50
                                    

        Satya mengaduk soto di mangkuk yang sisa setengah lagi itu. Pikirannya terus menduga - duga—memang kebiasaan manusia yang sulit di hilangkan. Satya ingin mendesak bundanya tapi dia tahu kondisi dan terpaksa dia harus menahannya.

"Mungkin rahim bunda di angkat setelah punya kamu, aku yakin kalau kamu anak bunda, bahkan kamu mirip sama ayah." Sarah mengusap sekilas lengan Satya.

Satya menatap Sarah sekilas sebelum kembali ke arah soto."Biasa bareng - bareng aja bisa jadi mirip, tante Gea juga gitu sama anak adopnya." balas Satya datar.

"Jangan dulu pikirin yang aneh - aneh, tunggu bunda jelasin."

Satya mengangguk pelan.

"Udah lama rasanya—" Satya kembali menatap Sarah dengan tersenyum miris."sweety panggilan ayah ke bunda dari gue kecil sampe gue 10 tahun? Mungkin, lupa gue dan gue baru lagi denger itu—sakit ternyata." lanjutnya tanpa di tutup - tutupi.

Sarah tersenyum tipis, masih betah mengusap lengan Satya guna membuatnya nyaman.

"gue lemah ternyata, lo mikir gitu ga?" sambung Satya.

Sarah jelas menggeleng."Kamu kuat dalam segala hal." jawabnya yang ambigu di telinga Satya.

Satya terkekeh, perasaannya mulai terhibur dengan perbincangannya bersama Sarah di kantin rumah sakit.

***

"Ayah yang jagain, kalian pulang aja." Revano mengusap kepala Sarah sekilas dengan senyum hangat walau kedua matanya terlihat lelah.

Satya tidak menatap Revano barang sedikit pun, tatapannya lurus ke asal tempat. Terlalu campur aduk perasaannya, jadi Satya memilih menghindar dari pada membuat onar.

"Ayah ga papa jaga sendiri?" tanya Sarah.

"Ga papa, kalian pulang aja."

Sarah mengangguk lalu melirik Satya yang tidak kunjung menyahut itu."Jadi mau pulang?" tanyanya pada Satya.

"Hm," jawabnya. Tanpa pamit, Satya keluar ruangan meninggalkan Sarah yang pamit dulu.

"Ga sopan!" Sarah menyindir di saat langkahnya sudah senada dengan Satya.

"It's me." balas Satya dengan acuhnya dan pandangan lurus ke depan. Moodnya masih terlihat pasang surut, Sarah mencoba paham.

Sarah tidak bisa menyangkal, Satya memang tidak menjungjung tinggi kesopanan. Seenak jidat sih iyah.

"Jalannya pelan." Sarah sungguh sulit mengimbangi langkah lebar Satya yang baginya satu langkah Satya seperti dua langkah atau bahkan tiga?

Satya meraih pinggang Sarah, memelankan langkahnya dengan masih memasang wajah datar.

Walau begitu, Sarah tersenyum samar dengan jantung tak karuan saat tahu Satya tidak mengabaikannya. Saat pacaran memang seperti itu bukan? Hal - hal kecil yang di respon berlebihan.

Satya membukakan pintu mobil untuk Sarah, membuat Sarah kembali tersipu walau itu bukan yang pertama kali.

Sudah gilakah dirinya? Pikir Sarah karena terlalu merespon semua perlakuan Satya dengan berlebihan.

"Jangan pasang dulu sabuk—" kata Satya saat baru duduk di kursi kemudi.

Sarah urung menarik sabuk pengaman."Kenap—" Sarah bungkam saat Satya memeluknya, membiarkan kepalanya membebani bahu Sarah.

"Gue capek sama pikiran gue sendiri, gue butuh sandaran, Sarah." bisiknya di dalam leher Sarah.

Sarah menelan ludah gugup namun perlahan tangannya naik, mengusap kepala Satya, sesekali menyugar rambutnya.

Satya sampai terpejam saking hangatnya dan nyaman. Ternyata pelukan saja cukup untuk membagi beban.

"Terus di samping gue, Sarah." bisik Satya yang mampu menghipnotis Sarah untuk mengangguk.

Satya mengurai pelukannya, meraih wajah Sarah lalu di kecupnya bibir Sarah sekilas.

"Kita pulang." Satya pun mulai menyalakan mesin mobil, sedangkan Sarah mulai memakai sabuk pengaman.

***

"Mau makan apa besok?" tanya Sarah sebelum keduanya pisah ke kamar masing - masing.

"Apa ga sekamar? Gue masih butuh di peluk." ujar Satya mengabaikan pertanyaan Sarah karena yang lebih dia mau adalah memakan Sarah.

"Mau bersih - bersih dulu, lebih baik pisah. Aku di sana nanti malah aneh - aneh dan kita ga istirahat."

Satya mendekat, memeluk pinggang Sarah dengan mesra."Kecup perpisahan dulu." bisiknya.

Sarah mengecup bibir Satya kilat lalu mengalihkan pandangan asal."Udah, jadi lepas dan kita tidur. Besok harus gantian sama ayah buat jaga bunda di RS." jelasnya.

"Iya, bawel." di kecupnya rambut Sarah, di gigitnya pipi Sarah sekilas lalu berlalu menuju ke kamarnya.

Mereka terpisah, yang memang seharusnya begitu. Tapi, lagi - lagi, sebuah larangan memang kadang selalu di langgar. Manusia sekali bukan?

Tak lama, hanya jarak 3 jam Satya sudah keluar kamar dan pindah ke kamar Sarah.

Satya menutup pintu, melangkah lalu merangkak naik dan memeluk Sarah yang sudah terlelap pulas itu.

Ditatapnya wajah Sarah dalam pelukannya itu. Polos dan manis. Satya jadi ingat pada sepupu Riko, Sarah mirip balita 6 tahun itu.

"Hm—balita kesayangan gue." bisiknya dengan gemas dan pelukan semakin erat, kedua matanya pun mulai terpejam.

Gairah Anak Muda (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang