32. Di sofa dan masalah baru.

34.2K 2K 62
                                    

        Hingga senja berpulang, Satya terus mengulang. Benar - benar kehausan, kelaparan dalam sentuh menyentuh.

Rasanya Sarah tidak bisa pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Raya. Miliknya terasa tidak nyaman di buat berjalan.

"Gue aja yang jenguk, atau ga usah jenguk aja sehari." Satya mengeringkan rambutnya dengan handuk."atau kirim bibi aja buat jaga - jaga." lanjutnya lalu mengecup kilat kepala Sarah.

Sarah yang duduk di tepi kasur hanya mengangguk saja, tubuhnya terasa remuk, di tambah baru bangun tidur yang membuatnya masih pening.

"mandi? Gue siapin air anget?" sambungnya seraya membelai kedua pipi Sarah.

Sarah yang asyik melamun kini menatap Satya."Mau tapi bentar, masih kumpulin nyawa." jawabnya.

Satya tersenyum tipis, sekali lagi mengecup kepala Sarah."Makasih, gue bener - bener terhibur." ungkapnya tulus.

Sarah mengangguk saja, kantuk masih bergelayut di kedua mata sepertinya.

***

Sarah dan Satya libur ke rumah sakit, hanya bibi yang di kirim ke sana guna bertukar dengan Revano.

"Harusnya kita jagain bunda." Sarah mengaduk makan malamnya.

"Bunda ga akan marah, kita kalau lama di rumah sakit justru bahaya. Nanti bisa ke tular sakit." balas Satya sebelum memakan makan malamnya.

Sarah menghela nafas pelan dan mulai fokus pada makan malamnya.

Setelah selesai, keduanya berada di sofa, menatap televisi lebar itu dengan sesekali bercanda.

"Di sofa sini kayaknya enak, menantang." bisik Satya dengan mesumnya.

"Jangan aneh - aneh, masih capek!" suara Sarah agak terdengar merengek.

"Sekali deh, lo capek karena berkali - kali." nego Satya bagai hasutan setan.

Mungkin budaya masa dulu ada bagus dan minusnya, menikahkan para anak - anak mereka bahkan di bawah umur guna menghindari nafsu - nafsu yang terlarang walau menikah dalam keadaan belum dewasa bisa mengantarkan pada perpisahan.

Sarah ingin menolak namun Satya lebih dulu membungkam mulutnya. Sarah mendadak pasrah saat Satya mendorongnya hingga terlentang di sofa.

Satya menurunkan celana tidur Sarah, membuka sebagian kancing atasnya lalu melepas pakaiannya sendiri.

Sarah lemah, benar - benar lemah iman. Keduanya sudah benar - benar tersesat.

Satya tersenyum keren."Cantik banget sih pacar gue." di kulumnya lagi bibir Sarah yang membengkak itu.

Satya membuatnya cepat.

Sarah kembali tepar. Di atas sofa itu begitu panas.

"Ga bisa rasanya gue cari cewek lain, lo aja bikin gue puas." Satya membersihkan hasil perbuatannya.

Sarah mengancingkan bajunya namun urung saat Satya melebarkan kakinya."Ngapain?" tanyanya.

"Bersihin, bukan mau lagi." kekeh Satya.

"Ga usah, biar nan—"

"Diem, sekalian gue cek. Punya lo luka apa engga, gue gempur dari siang soalnya." potong Satya begitu santai.

***

Akhirnya, hari ini telah tiba. Hari di mana Raya pasrah dan akan menceritakan semuanya agar Satya puas, tidak menduga - duga lagi dan tentunya semua kesalah pahaman akan selesai.

Gairah Anak Muda (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang