36. Agar semua cepat.

32.8K 2.3K 128
                                    

      Satya memijat pelipisnya, suara anak-anak tongkrongan cukup menghibur dirinya yang sering melamun beberapa hari. Mood Satya sungguh naik turun.

"Gue pusing banget selama cari dalang penyebar aib gue." aku Satya pada Aldi dan Riko yang ada di depannya.

"Yang sabar aja, jadiin pelajaran ke depannya." Riko bersuara yang di angguki Aldi sebagai bukti setuju.

"Yang gue ga paham, apa salah gue?" Satya menghela nafas lelah sebelum meneguk minuman pesanannya.

"Nanti juga ketahuan, gue juga bantu cari." Aldi bersuara."mau mabok hari ini ga?" lanjutnya.

Satya menggeleng. "Nyebat aja." tolaknya acuh.

Riko merogoh ponselnya yang bergetar, panggilan dari Adila yang masuk. Riko mematikannya, dia terlihat tidak peduli.

"Gue cabut duluan, ga bisa lama." Riko berpamitan pada semuanya.

Satya melirik Aldi yang tengah mengunyah pilus garuda. "Lo tahu pelakunyakan?" tebak Satya.

Aldi mengangguk. "Dari jauh-jauh hari gue tahu." jawabnya cuek.

"Terus kenapa diem?" tatapan Satya menajam.

"Lo emang harus di kasih pelajaran, lo terlalu ngerendahin ciptaan Tuhan. Gue nakal gini, masih inget Tuhan kali." terangnya dengan senyum menyebalkan.

Satya menelan emosinya. "Jadi alasannya karena cewek?" senyum miring terbit dengan rasa masih tidak percaya.

"Lo tahu, Riko cinta banget sama Adila. Seburuk apapun cewek gatel itu berprilaku, Riko terlalu gila sama dia. Ga masalah di dua, ga masalah berbagi, sama sahabatnya lagi. Riko itu palsu. Dia ga sama dengan apa yang mata kita liat."

Satya semakin menelan emosinya. "Terus kenapa lo ga kabur atau cari temen lain?" tanyanya semakin dingin. Dia kurang paham dengan pemikiran Aldi.

"Kalo semua orang baik, hidup ga asyik. Selagi dia ga ganggu hidup gue, gue ga bakalan bertindak." senyum tipis terbit. "lo emang pantes di hukum, lo terlalu remehin dan injek-injek cewek. Adila cewek yang di seret pergaulan, dia sebenernya baik. Gue kenal dia dari umur 5 tahun." terangnya.

Satya baru tahu soal itu.

"dia terlalu cinta sama lo yang cuma jadiin dia boneka seks dan Riko terlalu cinta Adila walau Adila ga pernah fokus sama dia." sambung Aldi.

Satya diam, merenungkan semuanya tanpa menjungjung tinggi emosinya.

"Riko sengaja hamilin Adila dengan iming-iming, lo bisa jadi ayah anak dia. Adila nurut, saking cinta sama lo. Setelah hamil, jelas Riko ga bisa jadiin lo ayah dari anaknya. Rencana Riko buat iket Adila berhasil. Mereka bahkan udah nikah 3 minggu lalu." tambah Aldi dengan masih tenang.

Aldi benar-benar tidak memihak pada Riko maupun Satya. Aldi hanya akan menjadi penengah tanpa ikut campur lebih dalam lagi. Itu urusan keduanya.

"Riko orang yang paling gue percaya. Setahu gue, Adila cuma suka uang gue." Satya menghela nafas panjang, entah apa yang harus dia lakukan kedepannya.

Jelas masalah ini harus di luruskan. Satya mengaku salah karena merendahkan harga diri perempuan. Tapi, cara Riko juga salah. Menyebar aib orang lain jelas perbuatan buruk.

"Uang sebagai alasan, bisa juga awalnya emang karena uang tapi lama kelamaan bisa aja tumbuh cinta. Lo sama Adila ga sebentar, bro." Aldi menanggapi.

Satya mengangguk. "Makasih Di, lo kasih gue pencerahan. Gue bakalan bicara baik-baik sama Riko." yakinnya.

Satya tidak harus mendahulukan egonya terus. Dia mengaku salah dan harus segera dia perbaiki agar tidak semakin rumit.

***

"Lo?! Ngapain?" Riko terlihat kaget, Satya kenapa bisa tahu apartemen barunya?

"Gue perlu ngomong." Satya terlihat serius.

Riko memejamkan matanya sekilas, menghela nafas pendek sebelum melebarkan pintu untuk Satya dan Sarah.

Riko tahu, pasti Satya sudah tahu kalau dia pelaku yang menyebarkan aibnya.

"Ga perlu basa-basi—" Satya menarik nafas guna untuk tetap tenang. "gue minta maaf." lanjutnya.

Riko diam, menatap Satya datar.

"Gue tahu, gue terlalu rendahin cewek yang lo cinta. Kalau gue di posisi lo pasti bakalan lakuin hal yang sama atau bahkan lebih gila. Andai lo kasih tahu semuanya, gue pasti menghargai Adila bahkan ga akan gue sentuh dia."

Riko berdecih pelan. "Ga hanya buat Adila, lo harus belajar menghargai semua cewek, Sat." tatapan Riko berubah tajam.

Satya mengangguk. "Iyah, gue mau berubah. Sorry, gue bener-bener lukain lo selama ini. Gue juga mau minta maaf langsung sama Adila."

"Ga usah." tolak Riko dengan raut wajah yang berubah luluh. Riko juga merasa bersalah karena berani berkhianat dengan menyebar aib Satya. "gue juga salah, sebar aib lo." lanjutnya.

Sarah terkejut di duduknya, jadi semua permasalahan yang menimpanya itu ulah Riko? Teman terdekat Satya?

Sarah kini mulai paham dengan apa yang di bahas Satya dan Riko.

"Aldi udah cerita semuanya, gue emang marah, tapi gue sadar kalau gue juga salah. Kalau lo bisa dan mau, kita bisa lupain semuanya. Gue udah maafin lo, Ko."

Satya tidak ingin menjadi pendendam, dia hanya ingin hidup tenang bersama Sarah.

Riko semakin merasa bersalah, jika saja dia lebih jujur, mungkin semua tidak akan seberat sekarang.

***

Sarah mengusap kedua pipi Satya, mengecup dan membelainya dengan terus tersenyum bangga.

"Aku pikir kamu bakal emosi saat ketemu pelaku yang sebar aib kita." Sarah terlihat benar-benar lega dan sangat bangga dengan apa yang di lakukan Satya.

"Ngandelin emosi malah bikin kita makin kacau, selagi bisa baik-baik kenapa engga." Satya terlihat nyaman meringkuk di samping Sarah yang terus mengusapnya itu.

Buah dari perbuatan baik. Satya sungguh senang karena tidak mendahulukan emosi

Sarah mengecup kening Satya, memeluk kepala Satya sesaat. "Yuk bangun, kita makan—"

"Makan kamu, sebagai hadiah, hm? Ayo dong." potongnya dengan nada membujuk yang kental.

"Lagi? Kemarin udah, bukannya seminggu sekali? Bahkan minggu ini kamu dua kali loh!"

"Perhitungan banget sih." Satya mulai bergerak.

"Kita bukan suami-istri, kita harus tahu diri." Sarah menggeliat, mencoba menghentikan gerakan Satya yang tangannya kelayapan.

"Lulus nikah kalau gitu, biar tiap hari enak-enakan." Satya tidak menyerah, dia akan membuat Sarah menyerah.

"Nikah itu ga gampang."

"Yaudah, kawin aja kawin." Satya cekikikan seraya bersorak penuh kemenangan saat Satya berhasil melumpuhkan Sarah di bawahnya.

Gairah Anak Muda (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang