17. Buka Baju Lo

51.7K 2.3K 80
                                    

Satya terlihat tenang di temani televisi yang menayangkan film action kesukaannya, bahkan sudah 3 kali menontonnya dan tidak bosan sama sekali.

"Kill you, sweety"

Sarah menoleh ke arah Satya dengan tatapan takjub."Bener - bener hampir hafal semua." beonya.

Satya tersenyum tipis nan keren, merasa bangga walau bukan prestasi besar. Di tatapnya Sarah dengan genit lalu berkedip.

"Itu sih kecil, bahkan gue inget setiap detail adegan panas kita. Lo seksi di atas gue." Satya menggigit bibir bawahnya guna menahan tawa saat melihat wajah konyol Sarah yang kaget dan malu karena ucapannya.

Sarah mengerjap gugup, tiba - tiba dia merasakan hawa panas, padahal AC sedang menyala.

Satya menarik dagu Sarah, mengecup bibirnya singkat dengan gemas."Malu ceritanya, hm?" bisiknya di depan bibir Sarah.

Sarah sontak membuat jarak dengan salah tingkah."Apaan sih, jangan mancing - mancing. Inget! Aku ga akan kasih." serunya dengan sedikit gelagapan.

Satya terkekeh menyebalkan."Kasih apa, hm? Yang ahh.. Ahh, bukan?" godanya seraya mencolek lengan Sarah beberapa kali.

Sarah memilih diam, membiarkan wajahnya yang merespon.

Suara bel berbunyi, membuat tawa Satya harus berhenti."Gue buka dulu pintu-" lalu beranjak."walau sebenernya maunya buka baju lo." lanjutnya di setiap langkah Satya.

Sarah berpaling dengan wajah merah yang di tekuk sebal.

***

Raya menata martabak, sate dan memberikan jus alpukat pada Satya dan Sarah.

"Bunda cuma beli ini buat cemilan." Raya mengusap kepala Sarah dan Satya bergantian.

"Makasih, bunda." balas Sarah yang di angguki Raya.

Satya tidak banyak bicara melainkan bertindak, apalagi Satya suka sekali dengan sate.

"Gimana di rumah? Kalian akurkan?" tanya Raya penuh selidik, menatap keduanya bergantian.

Satya mengangguk acuh."Akur, apalagi-" di tatapnya Sarah yang mulai tegang itu."Sarah jago bikin lapar Satya ilang." lanjutnya dengan tersenyum usil.

Sarah menghela nafas pendek dengan memaksakan senyum."Cuma nasi goreng sama telur mata sapi kok." ucapnya agak canggung.

Sarah mulai meraih satu tusuk sate, memakannya dengan sesekali merespon obrolan Raya dan Satya.

Tanpa Satya sadari, tangannya terulur menyeka bumbu sate di ujung bibir Sarah.

Raya yang menangkap itu memicingkan matanya dengan senyum geli.

Sarah yang mendapat perlakuan itu jelas salah tingkah sekaligus sebal dengan tindakan Satya yang tidak bisa melihat sekitar.

"Kalian ada sesuatu bunda ga masalah, tapi inget! Kalian harus jaga diri, apalagi satu atap gini."

Telat bunda batin Satya merespon.

***

Sarah tertawa geli saat Satya menggelitikinya, keduanya tengah menonton televisi bersama Raya di ruang keluarga.

"Bunda, tolong AAHH GELII!" seru Sarah seperti cacing kepanasan.

"Stop Satya, itu Sarah udah kayak mau pipis." kekeh Raya dengan menggeleng samar, dasar remaja.

"Janji dulu, lo jangan lama di sana, ntar gue keberatan terus rindu sama lo."

Raya kembali menggeleng pelan, tidak percaya kalau anaknya itu suka pada Sarah dan dengan terang - terangan.

"Dilan aja sanggup!" seru Sarah di sela - sela gerakan tubuhnya yang menghindari gelitikan dari jemari Satya.

Satya semakin gencar menyentuh pinggang Sarah."Pokoknya, milea gue ga boleh lama - lama perginya kayak dia!" serunya gemas dan menyudahi gelitikannya.

Sarah yang terkulai di karpet berbulu itu menyeka sudut matanya yang basah, dengan nafas terengah Sarah membawa tubuhnya duduk.

"Bunda, besok pagi, Sarah izin pulang.."

Satya duduk di samping Raya, menatap Sarah dengan pandangan lurus tidak terbaca.

Raya mengangguk, merentangkan kedua tangannya meminta di peluk. Dengan senang hati Sarah pun mendekat dan memeluknya.

"Bener kata Satya, jangan lama di sananya ya, nanti di sini rindu, berat."

"Tapi masih berat lemak dia, bun." sambar Satya dengan santai yang sontak mendapat pukulan manja dari Sarah.




Gairah Anak Muda (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang