31. Sentuhan Memabukan.

52.7K 2.1K 88
                                    

#KontenDewasa

Sarah melangkahkan kakinya di samping Satya, pandangannya melirik sekitar rumah sakit yang hari ini cukup ramai.

"Banyak pasien baru." ceplos Sarah yang hanya di tanggapi anggukan oleh Satya.

"Bunda semoga udah sadar ya." harap Sarah sebelum membuka pintu ruang inap Raya.

Di dalam sana, ada dokter dan perawat yang baru selesai memperiksa Raya.

Sarah dan Satya ikut mendengarkan nasihat - nasihat dari dokter dan semua penjelasan soal kesehatan Raya.

Tak lama dokter dan perawat itu berlalu.

"Ayah udah bisa istirahat." kata Sarah pada Revano yang terlihat belum berganti pakaian.

"Hm, kalian ganti dulu seragamnya." kata Revano sebelum duduk di sofa.

Raya yang memang sudah bangun hanya diam, menatap kedua anak muda itu dengan senyum tipis.

"Iya." jawab Sarah namun sebelumnya menghampiri Raya.

"Bunda cepet sehat ya, biar kita bisa masak - masakan lagi."

Raya mengangguk, Sarah pun berlalu ke kamar mandi.

Satya duduk berjarak dengan Revano.

"Udah makan siang?" tanya Revano memecahkan keheningan dan kecanggungan.

"Belum." singkat Satya dengan pandangan lurus namun sesekali melirik Raya yang menatap keduanya dan menyeka air mata sesekali.

"Temenin ayah ke kantin rumah sakit, biar Sarah kita bungkusin dan makan di sini." Revano beranjak.

Dengan berat dan ragu, Satya beranjak. Satya ingat ucapan Sarah soal dirinya yang harus memulai dan tidak menghindar itu.

Tak lama Sarah keluar."Loh? Satya sama ayah kemana, bun?" tanyanya dengan heran karena merasa tidak mungkin kalau mereka jalan berdua, atau memang iyah? Pikir Sarah senang sendiri.

"Makan di kantin sama ayahnya." suara Raya terdengar agak bergetar, mungkin menahan haru.

Raya mengulurkan tangannya pada Sarah."Sini, peluk bunda." pintanya dengan mata berkaca - kaca.

Sarah melempar senyum, dengan senang hati memeluknya.

"Jadi anak bunda ya? Jangan tinggalin Satya, kalau bisa jadi mantu bunda."

***

"Itu udang, sisihin." kata Revano seraya menunjuk satu gulungan tepung dengan sumpit.

Satya tersentak samar, dia tidak menyangka kalau ayahnya masih ingat soal dia yang alergi udang.

Satya menyisihkan udang itu dan mulai makan dalam diam, untuk pertama kalinya setelah bertahun - tahun dia bisa makan di luar dengan ayahnya walau di rumah sakit.

Perasaannya menghangat sekaligus sedih, meratapi hidupnya yang sudah berubah. Kenangan seolah menyerangnya.

Dulu, mereka pernah tertawa bersama, makan, mandi bahkan berendam.

Gairah Anak Muda (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang